PIPIEW

me, my words ‘n my mind

Semifinal Uber Cup 2008

“IN-DO-NE-SIA…bum-bum..bum-bum-bum… IN-DO-NE-SIA…bum-bum..bum-bum-bum..” walaupun ga nangkring di Istora Gelora Bung Karno, teriakan yel-yel khas pendukung tim Bulutangkis Indonesia juga turut bergema di ruang tengah Kemakmuran 15A ( provokator = yang suaranya paling gede :lol: ). Kalau di Thomas kemarin pemeran utamanya “Sony…Sony..!!“, nah malam ini giliran “Maria..Maria..!!“, kalau kata Qansa tereak “Mbak-Nia..Mbak-Nia..!!”, weleh sa..sa..

Malam tadi adalah semifinal Piala Uber yang mempertandingkan tim wanita Indonesia melawan Jerman. Sebuah sukses luar biasa ketika Pia Zebadiah berhasil menutup match point set terakhir dengan perolehan angka 21-16. Meyakinkan seluruh masyarakat bahwa Indonesia layak maju ke babak Final, setelah 4 Uber sebelumnya absen dari kesatnya lantai Final Piala bergengsi di cabang bulutangkis ini.

Indonesia bangkit saudaraku..
Lihat bagaimana Maria membuat Xu Huaiwen berulang kali kehabisan nafas? walaupun pada akhirnya harus mengalah dalam pertandingan sengit dua manusia berbeda generasi itu, selisih 10 tahun membuat Xu Huaiwen terlihat lebih matang memanfaatkan kesalahan yang dilakukan Maria Kristin berulang kali.

Tugas berat Adriyanti Firdasari untuk mengembalikan semangat kebangsaan yang kemudian menggelora hebat di tengah-tengah atlet Indonesia. Emosi mudanya menyorakkan bahwa Indonesia tidak akan kalah kali ini, cukup satu tumbal (baca : pahlawan) jikapun perlu dikorbankan.

Lalu, coba playback bagaimana Greysia Polii melupakan pukulan lain selain smash dengan angka 30 untuk keregangan senar raket khusus penyerang itu. Apalagi dipadu-padankan dengan Jo Novita yang sama-sama berpostur nyempluk menggemaskan, uufh luar biasa..Birgit Overzier dan Kathrin Piotrowski hanya mampu mencoba menyemarakkan pertandingan.

Atau, perhatikan Pia saat memaksa Julianne Schenk melakukan Split Sempurna untuk kedua kalinya, padahal usianya baru saja menginjak angka 19 tahun Januari kemarin. Kondisi psikologis pribadinya pun tergolong stabil, mengingat beberapa hari yang lalu adalah peringatan 40 hari meninggalnya sang ayah.

Indonesia…kau masih punya generasi muda yang layak mengharumkan namamu..
Don’t be sad, di tengah maraknya demo BBM yang membuat puyeng masyarakat ekonomi menengah ke bawah, paling tidak ada sedikit pelipur lara yang dipersembahkan atlet-atlet muda bangsa ini. Masa depan terlihat cerah kawan, jangan lelah berjuang!!

*Besok jadwal Semifinal Thomas Cup, Tim Indonesia maen jam 18.00 malem, Cayoo…CAyoo….!!!* :D

Mei 15, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice | , , , , | & Komentar

Demo & BBM

Dua sejoli ini sulit dipisahkan sepertinya, dimana ada Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) maka disitulah selalu ada demonstrasi pengerahan massa. Penyaluran aspirasi masyarakat, begitu alasannya, that’s allright kalau dilakukan dan ditujukan dengan benar. Tetapi, sayangnya seringkali kegiatan demonstrasi dilakukan tanpa menganalisis sumber masalah terlebih dahulu.

Kenaikan harga BBM dalam waktu dekat telah memicu sejumlah mahasiswa dengan ornamen beberapa anggota masyarakat melakukan aksi protes melalui demonstrasi di beberapa kota di Indonesia, meskipun keputusan tersebut baru dipastikan dan belum dilaksanakan. Titik utamanya, kepada siapa tuntutan tersebut mereka tujukan, pemerintah?? Padahal kenaikan BBM disebabkan oleh harga minyak mentah dunia yang melonjak naik melebihi kemampuan APBN untuk mensubsidi kebutuhan BBM seluruh masyarakat Indonesia, termasuk golongan orang kaya dan konglomerat.

Apakah harga minyak mentah dunia hanya dipengaruhi oleh pemerintah Indonesia? kemana perginya OPEC di saat krisis seperti ini? atau, ada pihak tertentu yang sengaja mempermainkan indeks harga minyak dunia yang dipaksa naik untuk mengikuti strategi politik tertentu? *Astaghfirullah.. su’udzon*. Tapi yang jelas, negara berkembang tidak akan bisa berkembang tanpa pengaruh politik negara maju. Lalu, harusnya kemanakah spanduk-spanduk dan orasi berisikan protes sebaiknya didengungkan? Entahlah apakah ini satu-satunya cara?

Ya, pemerintah pun tidak sepenuhnya telah melakukan tindakan dengan benar. Bantuan Langsung Tunai (BLT) memang ditujukan untuk memberikan kompensasi akibat kenaikan BBM kepada masyarakat kurang mampu, tetapi akankah efektif? dari pengalaman pembagian BLT yang pernah ada, pada kenyataannya tidak semua orang miskin mendapatkan BLT dan tidak semua BLT dibagikan hanya kepada masyarakat yang kurang mampu. Lagipula batasan spesifikasi masyarakat yang “kurang mampu” tersebut tidak begitu jelas.

Tidakkah lebih baik jikalau dana yang disisihkan untuk BLT tersebut digunakan untuk membuat lapangan usaha demi menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat Indonesia sendiri? *bukan tenaga kerja asing lho yaa..*. “Pemerintah seharusnya memberikan pancing, bukan ikannya, jadi ada usaha yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang layak” demikian ujar Mr. Top. Atau kalau kata mbak Deti “Tidakkah pemerintah terdiri dari banyak manusia-manusia pemikir? lalu kenapa pemerintah seringkali mengambil tindakan spontan tanpa memikirkan alternatif terbaik?”.

Oya, ada satu kenyataan menarik lain berkait dengan kepastian kenaikan BBM ni negara ini, yaitu kesempatan yang digunakan dengan baik oleh para pesaing politik. Pemerintah sekarang dinilai gagal karena mengingkari janji “tidak akan menaikkan harga BBM lagi”. Humm..DPR juga ikut-ikutan, padahal sudah ada UU APBN Perubahan yang disahkan parlemen yang tegas-tegas ’’memaklumi’’ penyesuaian harga BBM dalam negeri bila harga minyak dunia menembus USD 116 per barel. Beh, piye tho pak..pak..

Mei 9, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice | , , | & Komentar

Akibat Harga Barang Tinggi

Sabtu kemarin, setelah rampung mengantarkan dan menemani mbak Vega berobat jalan, kami bertiga (Fi, Qansa & Bundanya) langsung meluncur menuju pusat hiburan dan perbelanjaan terbesar di Pontianak, dengan tunggangan mbak Vega yang semakin nyaman tentunya, thanks mbak Vega..

Mendapat informasi dari koran lokal yang menyebutkan bahwa supermarket di pusat perbelanjaan tersebut sedang menawarkan diskon besar-besaran untuk produk tertentu, maka kami pun telah berencana untuk menghabiskan sisa siang itu untuk berbelanja produk-produk tertentu bertanda khusus tersebut (tips : jangan sekali-kali membeli barang dengan harga premium di toko tersebut, karna dijamin harganya akan lebih mahal sampai dengan 20% dari harga standar di supermarket sejenis lainnya << pengalaman pribadi).

Pampa Qansa, peripheral Bunda & Aunty-nya yang jumlahnya hanya 6 item telah memenuhi keranjang jinjing berwarna merah, bahkan sampai kebingungan untuk meletakkan beberapa kotak susu cair perbekalan Qansa. Ketika melewati counter Kecap faporit, wiw ada diskon lumayan gede untuk pembelian sekaligus dua barang. Karna ga pernah absen dengan ni Kecap & selalu kebingungan tatkala ujung botolnya tinggal tersisa satu tetesan, so ga bakal rugi ni kalo punya persediaan lebih. Alhasil, makin beratlah si “Merah” (isinya udah melebihi kapasitas :D).

“Dah yuk, selebihnya liat-liat aja ya..” mengingat isi dompet yang mulai berharap membuncah keluar karena semakin dilihat maka semakin terasa kebutuhan lebih banyak dari yang seharusnya. Tiba di lorong minyak, “Eh, bentar mbak Linda, kemarin di koran ada minyak yang lagi promo, lumayan tuh..”. Akhirnya dua pasang kaki *Qansa digendong* tidak mampu mengalahkan nafsu, berbeloklah kami ke counter minyak, menelusuri setiap inci merk-merk minyak goreng ternama, dan..ketika tiba di tengah lorong, sederet ruang yang seharusnya berisi beberapa puluh minyak goreng 2 liter-an terlihat kosong. Identitas minyak goreng di bawahnya (merk sama dengan kemasan satuan yang berbeda) menyatakan bahwa tempat tersebut seharusnya diduduki oleh si minyak yang lagi promo itu. “Wiw, habiis..” ya weslah, emang barang begituan wajar cepet habis, mengingat harga barang-barang kebutuhan pokok yang setiap hari merangkak naik.

Tapi, “Dek, sabar dek..sabar..” ujar mbak Linda. Kenapa? pikirku, rasanya sudah tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di tempat yang dominan berwarna kuning itu. Menoleh ke arah depan, ouwh…ya..menunggu adalah keputusan yang tepat, karena satu troli besi (mirip alas tronton berukuran mini) yang berisi belasan kotak minyak goreng promo sedang bergerak ke arahku berdiri.

Senyum yang langsung mengembang menyambut kedatangan si minyak mendadak padam karena yang kami tunggu bukan hanya lusinan minyak goreng berharga murah, tetapi juga puluhan gerak kaki konsumen yang tanpa-instruksi ikut menyerbu ke arah kami (wiw, punya salah apaa ni jadi serasa di medan perang). Ow, perebutan minyak-minyak goreng yang tak bersalah itu akhirnya terjadi, beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak berbadan kekar merangsek maju dan menghimpit diriku, aiih..mumpung posisi bagus harus dimanfaatin niih, ikutan rebutaan!!! hihi…

Dalam hati berkata, kalau saja waktu kejadian itu tidak sedang berada di posisi bagus, ga bakaal deh ikut-ikutan bergumul dengan orang-orang demi memperebutkan 2 liter minyak.  Haiih..pasti ini akibat harga sembako yang terus melonjak, setiap orang mulai mencari penawaran terendah demi mempertahankan hidup. Kita aja yang Alhamdulillah dikarunia hidup berkecukupan masih histeris menghadapi lonjakan harga, gimana dengan orang lain yang bahkan gaji sebulanpun tidak cukup untuk membeli sekarung beras? Astaghfirullah..kemana perginya syukurku??

Mei 4, 2008 Ditulis oleh pipiew | Hari-Hari | , , | & Komentar

Mobile Blogging

Di sela kesibukan menjelang hari libur nasional Rabu kemarin, gw *halah, pake “gw” << dah lama ga ngepost pake bahasa nyantai :p* iseng buka-buka situs sonyericsson indonesia, my favourite handphone brand (apa si inglishnya “merk ponsel faporitku”? *katro mode on*). Wiuw, background merahh dalam sekejap menyambut kedatangan pengunjung yang jarang dateng ini.

Begitu liat tipe-tipe terbarunya, ajegile..cakep2 men..!! Saking lamanya ga ngikutin perkembangan ponsel terbaru, baru tau gw kalo mas Soner sekarang ngeluarin tipe R, G dan X. Tipe R untuk kecanggihan teknologi Radio, Tipe G untuk akses Web dan Email dengan layanan 3G dan HSDPA tingkat tinggi, dan Tipe X = all in (Smartphone untuk Komunikasi dan Hiburan).

Satu-satu gw liatin dah spesifikasi dan desain tiap tipe yang “segera hadir”, dan yang paling mbuat gw ga bisa berkata-kata adalaah…eng ing eng… X1 alias XPERIA, haah..dari namanya aja udah keyeeen.
Si X1 ini mirip ma komunikator kalo kata gw *ga tau kalo kata yang laen*. Smartphone dengan Windows Mobile, Qwerty keyboard yang bisa disliding dengan teknologi busurnya, layarnya yang luar biasa jernih *kelihatannya*, dan desain penampakan yang luarr biasa keren (inilah yang paling gw suka dari Soner, luv u mas, mmuah..).

Kemudian, di salah satu penjelasan Fitur yang punya judul “Blog Kehidupan Anda”, ada link ke “Cara Memblog Gambar“!! haiih..impian gw buat ngeblog langsung dari hp kapanpun dimanapun akhirnya menjadi kenyataan..hihi.. Beberapa waktu lalu gw penasaran ma mobile blogging, maksudnya ngeblog langsung dari hp, bukan ngeblog dari komputer yang disambungin ke hp (buat koneksi gprs or 3g-nya), ataupun akses web dari hp ke halaman situs kek biasa dari komputer (cuman bedanya tampilannya bakal kecil banget & ga beraturan, tapi makan bandwidth gede buat loading seluruh page-nya) dan ga terasa ribet menurut gw.

Ya ampuun, itu fitur dah dari setaun lalu bertengger di K618 gw, tapi ga pernah disentuh karna ga pede (atau lupa kalo punya tu fitur? :p ). Akhirnya langsuuuung dicobain dah, haiiih..berhasiiil…dan gw secara otomatis langsung dapet alamat blog yang juga bisa diakses lewat pc disini.

Yuhuu.. Keep Blogging Anywhere Anytime..!!! :D

Mei 2, 2008 Ditulis oleh pipiew | Hari-Hari, Pinter | , , , | & Komentar

Penyakit Hati

Suatu ketika di dalam diri seseorang terdapat semangat yang menggebu-gebu, untuk berbuat sesuatu yang berguna paling tidak bagi diri sendiri, merasa bahwa dunia ini merupakan ladang pelajaran yang harus digali, berlomba dengan waktu untuk membuktikan kebisaan dan menganggap semua orang adalah bagian dari indahnya kehidupan.

Namun ada pula saatnya seseorang kehilangan kepercayaan diri, menjadi sangat minder, dan merasa bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat dibanggakan sebagai seorang “aku” karena tidak ada satu pun bidang yang benar-benar dikuasainya, menyadari bahwa semua hasil karyanya adalah yang terburuk daripada hasil karya orang lain, lalu apa yang bisa dibanggakan?

Di saat seperti ini, kadangkala seluruh manusia terlihat seperti sedang mencemooh dari atas, menempatkan posisi diri sendiri di kasta terendah dari yang paling rendah, sehingga semua orang dianggap sebagai musuh.

Ya Allah, hindari aku dari penyakit hati..

Mei 2, 2008 Ditulis oleh pipiew | Ga Penting | | & Komentar

Ujian Akhir Nasional

Ujian Akhir Nasional, dalam beberapa tahun terakhir selalu menjadi topik menarik menjelang pertengahan tahun / pergantian tahun ajaran. Setiap tahun selalu terjadi perubahan kebijakan dan standar nilai yang menjadi patokan akan lulus atau tidaknya seorang pelajar. Dan di setiap tahun pula peraturan-peraturan ini selalu menjadi pertentangan yang tergolong kontradiktif. Why? Yuk, kita liat pandangan fie tentang UAN.. *anak-ibu mode on* :p

Dari Sisi Pemerintah
Standar nilai yang selalu mengalami peningkatan merupakan salah satu usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah maupun sekolah dasar. Tuntutan untuk memenuhi minimal jumlah maupun rata-rata nilai yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional seharusnya memacu peserta didik untuk bersungguh-sungguh dalam memahami setiap mata pelajaran, sebuah tujuan utama dari diterapkan Sistem Pendidikan. Menyadarkan para siswa akan tanggung jawabnya sebagai peserta didik, yang kemudian justru dianggap sebagai beban berlebih sehingga menaikkan tingkat stress anak.

Kalau pada tahun-tahun sebelumnya jumlah anak yang mengerti akan tanggung jawab terhadap nilainya sendiri jauh lebih kecil daripada anak yang menganggap sekolah hanya sekedar kewajiban pulang dan pergi ke lembaga pendidikan formil sedari jam 7 pagi hingga pukul 2 siang (tanpa jaminan tetap menjejakkan kaki di dalam lingkungan sekolah pada jam-jam diantaranya). Atau pergi ke sekolah hanya untuk memamerkan jam tangan baru atau ringtone lagu-lagu terbaru yang sedang tren di kalangan remaja dengan tujuan menarik perhatian lawan jenisnya. Ya ampuun, pergaulan jaman sekarang..ck..ck..ck..

Tapi, apa iya sistem yang diterapkan itu cukup efektif? padahal ketersediaan sarana dan prasarana setiap sekolah dari ujung Sabang sampai Merauke masih sangat beragam? Mengapa harus menjadi syarat mutlak untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya? Alangkah lebih adil kalau ujian masuk disesuaikan dengan sekolah penerima masing-masing? seperti UMPTN / SPMB barangkali, atau pilihan ujian masuk yang terdiri dari berbagai tahapan untuk menilai semua kompetensi, tergantung orientasi masing-masing sekolah penerima, misalnya sekolah teknik tidak terlalu membutuhkan anak dengan kompetensi seni yang sangat tinggi sedangkan nilai fisikanya hampir mencapai nilai minimal.

Okey, sekarang kita lihat dari sisi si Anak
Menjadi beban berlebih mungkin terasa sangat berat bagi kebanyakan anak sekolah yang terbiasa santai menghadapi angka-angka merah di rapotnya. Tetapi tidak jika si Anak sudah dilatih dengan terapi penanggulangan stress berlebih sejak dini. Maaf, saya mengambil contoh saat usia SMU dulu. Pendidikan SMU saya mungkin berbeda dengan kebanyakan sekolah negeri maupun swasta lainnya, kehidupan penuh tekanan. Namun di antara tekanan-tekanan tersebut, ada keinginan untuk meraih hasil terbaik di setiap mata pelajaran, bagi saya sekalipun yang harus mengikuti hampir setiap HER yang diadakan. Awalnya saya berpikir bahwa ini adalah mimpi buruk, berdiri di tengah-tengah para Superior dan harus ikut bersaing mendapatkan posisi terbaik, paling tidak untuk bertahan agar tidak terlalu memalukan.

Suasana belajar yang tidak pernah telat diabsen oleh setan kantuk, serta cara mengajar guru yang berbeda-beda, juga kondisi fisik dan mental yang dipaksa untuk tidak hanya memikirkan masalah nilai dan pelajaran formil, agaknya membentuk kami untuk merasa wajib bertanggung jawab terhadap diri sendiri, bertanggung jawab terhadap masa depan yang ditentukan oleh kami sendiri.

Jangankan Ujian Nasional (dulu disebut EBTANAS), ulangan harian biasa saja harus dipaksa memeras otak sedemikian rupa demi menghindari Remidial atau pengulangan ujian bagi para siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,00. Belum lagi pengawas ulangan superketat yang tidak mengizinkan sedikitpun kegiatan contek mencontek dan bekerja sama untuk mata pelajaran yang bersifat individu, apalagi mengingat ancaman terberat jika seorang siswa diketahui sedang mencontek atau melakukan tindakan tidak jujur lainnya, yaitu dikeluarkan dari sekolah.

Bandingkan dengan realitas masa kini yang mana saat Ujian Nasional berlangsung dihadapi dengan santai oleh peserta, cukup menunggu kiriman pesan singkat lima menit menjelang waktu ujian berakhir dan menyalin semua jawaban yang dikirimkan oleh “seorang oknum” dunia pendidikan yang menggadaikan masa depan ratusan peserta ujian demi puluhan juta rupiah tak berharga.

Dari Sisi Sekolah, Guru dan Orang Tua
Tak jarang hanya demi menjaga nama baik sekolah, agar terkesan memiliki kualitas pendidikan yang baik, pihak Sekolah melakukan berbagai upaya untuk mempertinggi persentase angka kelulusan. Memberikan les tambahan di luar jam pelajaran standar misalnya, sebuah usaha yang patut diacungi jempol ya kan?

Namun ketika pihak Sekolah telah kehabisan cara untuk mempertahankan kredibilitasnya sebagai sekolah terpandang, bisa jadi bukan hanya memperbolehkan peserta ujian untuk melakukan praktek-prektek ketidakjujuran, tetapi bahkan ikut membuka jalan agar siswa dengan mudah dapat memperoleh jawaban yang “belum tentu benar”, atau menyiapkan segepok lembar seratus ribuan yang diserahkan kepada sang pemberi jawaban.

Mirisnya lagi, sang dewa yang diagung-agungkan untuk memberi bocoran jawaban bukanlah orang yang jauh dari dunia pendidikan, bahkan mungkin personil tangguh dari jajaran tim akademis yang setiap hari selalu mengkoar-koarkan teori relativitas einstein atau struktur kalimat S-P-O-K. Okelah anda pintar, tapi perlukah sebegitu sombongnya dengan membuat anak didik menjadi pemalas?? Kalau saya seorang guru, tentu sangat terhina dengan tindakan pelecehan martabat terhadap profesi Guru, tindakan tadi sama saja mengartikan bahwa saya gagal menularkan ilmu yang saya miliki kepada para penerus kehidupan bangsa ya toh? *kecuali ilmu mencontek*, Naudzubillah..

Saya sering memikirkan mengenai kesadaran seorang Guru tentang esensi yang terkandung dalam profesi Guru yang sesungguhnya, yang maaf, akhir-akhir ini jarang dimiliki oleh beberapa Guru di Sekolah. Apakah iya, bekerja hanya untuk mencari uang? Ibu saya seorang Guru, beliau terkadang marah namun lebih sering bersikap sabar mengajari seorang anak kelas 1 yang sedang mencoba membaca dan menulis. Jangan diremehkan kemampuan mengajar beliau dalam bidang Sains, terbukti dalam beberapa kali penanganan persiapan ujian terhadap siswa kelas VI SD, nilai rata-rata kelasnya melonjak naik melebihi target. Kata Ibu “Seorang Guru itu mempunyai kepuasan tersendiri yang tidak terkira tatkala anak muridnya berhasil dan sukses”, lebih dari sekedar hampir dua juta rupiah yang diterimanya setiap bulan.

Dukungan Orang tua mempunyai peran penting terhadap kondisi psikologis si anak. Tuntutan yang terlalu berlebih kepada sang Anak justru semakin membuatnya merasa tertekan. Saya dulu, tidak pernah dituntut untuk mendapatkan nilai tertinggi atau paling tidak menduduki peringkat tiga besar di sekolah, bahkan ketika saya berada pada posisi ke-17 dari 22 siswa, saya tidak pernah sekalipun dimarah karna angka 9 hampir tidak pernah bertengger dalam Rapor SMU saya, alih-alih angka 6 yang semakin banyak menghiasi setiap mata pelajaran. Namun saya tidak lalu bertahan pada posisi yang sama, perubahan yang berjangka, itu yang saya alami semasa 3 tahun di SMU.

Peran orang tua juga sangat berpengaruh terhadap minat dan bakat Anak. Kalau si anak lebih menyukai Sejarah dan Sosiologi, lalu kenapa harus dipaksa masuk ke kelas IPA? Saya sendiri sangat kagum pada para Sosiolog, SEjarawan, maupun Sastrawan yang benar-benar setia di bidangnya. Profesi yang dikaitkan dengan hobi dan kesukaan tentunya lebih baik ya daripada sekedar tahu namun tidak suka.

*Berharap kualitas pendidikan di negeri sendiri menjadi lebih baik* :)

April 28, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice | , | & Komentar

Emansipasi Kartini

21 April 2008, pukul 08.23 WIB… Dengan mengabaikan arah jalan Natakusuma dan Alianyang, Mbak Vega dengan mulus melintasi simpang jalan H.M. Suwignyo - Uray Bawadi. Kecepatan cukup tinggi untuk mengejar ketertinggalan sidik jari hari ini, sistem absen yang baru diaktifkan sebulan terakhir.

Tiba di pertengahan jalan, kecepatan harus diturunkan untuk mengimbangi padatnya pengguna jalan. “Becak!”, kenapa harus dikendarai beriringan hingga memenuhi lebar jalur sebelah kiri, dan ada sekitar enam sampai tujuh buah jumlahnya, humm..orang kampung darimana ini??

Dengan decak kekesalan, kurayu mbak Vega untuk bersabar mendahului rombongan sampai jalur kanan jalan dari arah berlawanan benar-benar sepi. Begitu melintas, seleret tatapan tajam yang hendak dilemparkan ke sisi rombongan mendadak berubah menjadi senyuman, bahkan sedemikian sumringah.. Bagaimana tidak, serombongan anak taman kanak-kanak dengan riangnya mengenakan pakaian tradisional dari seluruh penjuru Indonesia, tertawa - tawa kecil, bercanda dan tampak bahagianya dapat memamerkan diri dalam road show Kartini via Becak. “Aiih!! Hari Kartini!” ya ampuun, bisa-bisanya lupa dengan ulang tahun kaumnya sendiri..

Kartini, sosok wanita Cerdas nan Kemayu yang dirangkum menjadi satu, wanita yang menginginkan perubahan namun tidak lupa pada kodrat alamiahnya, campuran antara feminisme dan nasionalisme.. Emansipasi, ajaran populernya. Sebenarnya, apa dan bagaimana arti Emansipasi yang sesungguhnya ingin diungkapkan oleh Kartini? mengingat belakangan ini, arti emansipasi seringkali dijadikan dalih dalam rangka membela kepentingan-kepentingan pribadi.

Apakah Emansipasi menginginkan wanita harus bersifat murni seperti seorang pria? Mengharuskan wanita untuk melakukan pekerjaan yang hanya patut dikerjakan oleh pria? Atau bahkan atas nama Emansipasi, lalu wanita boleh mengumbar-ngumbarkan aurat? Oh, tidak…

Iya, wanita memang tidak seharusnya diperlakukan seperti budak atau pelayan yang cenderung disiksa dan diremehkan, tapi pengertian emansipasi sungguhlah tidak layak untuk dilebih-lebihkan. Kodrat wanita jelas, diberi rahim untuk melahirkan, diberi kelembutan untuk menyayangi, dianugerahi keindahan untuk menyenangkan, dan dilebihkan perasaan untuk memberi ketenangan dengan menyentuh hati orang-orang di sekitarnya.

Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS 4:32)

Jelas ya, memang ada perbedaan antara pria dan wanita yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, sepria-prianya seorang wanita.

Wanita harus maju, harus pintar dan mengikuti perkembangan masyarakat, karena disitulah letak kunci keberhasilan mendidik generasi berikutnya. Wanita juga harus kuat dan tangguh, untuk mendukung para pemimpin sepenuhnya. Wanita wajib untuk terus berkarya, di bidang apapun, namun tanpa melupakan kodrat dan kewajibannya sebagai seorang “WANITA”.

Maju terus Wanita Indonesia…!!

April 21, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice | , , | & Komentar

The Way Home

Humm..after seriously ngebahas si Fitna yang rada bikin heboh kemaren, now de time to relax…

Masih tentang film, dan masih dari produksi luar negeri, kali ini berasal dari Korea, “The Way Home” khusus diperuntukkan kepada semua Nenek di seluruh dunia (demikian pesan tertulis dari sutradara di akhir cerita). Sesuai dengan peruntukannya, film ini memang bercerita tentang hari-hari seorang nenek di sebuah desa terpencil (sangat terpencil) bersama cucunya yang sengaja dititipkan oleh sang Ibu yang harus mencari pekerjaan baru.

Latar belakang si cucu (Sang-Woo, 7 tahun) yang terlalu terbiasa hidup di kota, membuatnya merasa sangat bosan dan menyebalkan ketika mau tidak mau harus tidur di rumah reyot, bersebelahan dengan wanita tua bungkuk yang tidak bisa bicara dan selalu meminta tolong untuk memasukkan benang ke lubang jarum untuk memperbaiki sepatunya yang sudah usang. Namun luar biasanya adalah, si Nenek sama sekali tidak pernah merasa keberatan dengan ulah nakal Sang Woo yang seringkali kelewatan. Dipukul, dihina, dicaci, toh si nenek tetap saja mencucikan pakaiannya, menawarkan permen dan gula-gula walaupun dicampakkan dengan kasar, bahkan rela ke pasar demi membelikan ayam idaman Sang-Woo meskipun akhirnya malah membuat tangis Sang woo makin meledak ketika tau ayam tersebut bukannya digoreng (seperti “Kentucky Chicken”), tetapi justru direbus dengan cocolan garam, huahaha.. *rasain lo, kebanyakan gaya, kekeke..*

Kadang pengalaman tak terduga justru membawa dampak kebaikan bagi seseorang. Demikian pula Sang Woo, dibalik tingkah lakunya yang luar biasa nakal, lama-kelamaan kekeras kepalaannya luluh ketika Nenek menjadi sakit akibat berhujan-hujanan di pasar (ya karna si ayam itu), atau si nenek yang terpaksa harus berjalan kaki dari pasar (ditinggal Sang Woo yang naek bus sebelum bus terakhir), toh si Sang Woo juga menanti Nenek dengan cemas di tempat pemberhentian bis di desanya. Namun namanya juga anak-anak ya, kebanyakan gengsinya daripada sopannya, suliit bener mo minta maaf, padahal dari hati yang paling dalam keknya yang bersalaah betul. Yah, mayanlah paling tidak mulai merasa sedikit sensitif dengan rasa bersalah. Dan akhirnya, ekspresi sayangnya kepada sang Nenek terungkapkan secara spontan ketika San Woo harus pergi meninggalkan Nenek, kembali ke kota.

Film ini dirilis tahun 2002 dan menjadi salah satu film terlaris Korea pada tahun tersebut ( kalau fi sih baru nonton makanya baru bisa komentar, huehe..ketinggalan bener yak?? ;p ). Seringkali kita terlupa pada sosok Nenek, orang tua yang melahirkan orang tua kita, orang tua dimana surga orang tua kita berada di bawah telapak kakinya, orang tua yang selalu merasa kesepian ketika orang tua kita mulai asyik mengurus diri kita dan melupakan kerinduannya, tidakkah kita sadari? padahal mereka tidak butuh apa-apa, cukup memakan dengan lahap hasil masakannya, atau mendengarkan sedikit keluh kesahnya, juga sekedar mengangguk-angguk terpana akan cerita di jamannya ketika menghadapi penjajah Belanda dulu, humm.. Embah..maapin fi..

April 7, 2008 Ditulis oleh pipiew | Hari-Hari, Soul | , | & Komentar

Fitna

Astaghfirullah al’adzhiim..
Astaghfirullah al’adzhiim..
Astaghfirullah al’adzhiim..
Kalimah istighfar tak henti terucap sepanjang 16 menit 49 detik film bertajuk Fitna dimainkan. Sesuai dengan judulnya, film ini ternyata benar-benar memfitnahkan ajaran Islam, memfitnah Al-Qur’an, memfitnah Rasulullah, bahkan memfitnah Sang Maha Benar, Allah SWT, Allahu Akbar

Kali ini air mataku mengalir bukan karena tersentuh harunya sebuah alur cerita syahdu, tapi karena kemarahan yang tiba-tiba menggelegak sampai ke ubun-ubun hayat, melihat Islam difitnah, disalahartikan, dan diperlakukan sedemikian nistanya seolah-olah Islam adalah agama tak beradab yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kejayaannya sendiri dan demi menguasai dunia, Astaghfirullah al’adziim…sebegitu hinanyakah tujuan Islam?

Astaghfirullah al’adzhiim..
Astaghfirullah al’adzhiim..
Astaghfirullah al’adzhiim..
Ya Allah, lindungi aku dari bisikan syetan yang memenuhi pikiranku, jauhkan hatiku dari godaan syetan yang sedang berusaha membangkitkan amarahku, lindungi aku dari bujukan syetan yang mengobrak-abrik akal sehatku untuk berbuat dzalim dengan mengatasnamakan-Mu.. Astaghfirullah al’adzhiim.. Astaghfirullah al’adzhiim.. Astaghfirullah al’adzhiim..

Muslim manapun pasti akan murka mengetahui Islam didiskreditkan, melihat Islam dibuat terlihat semakin keras dan brutal, tanpa etika kemanusiawian, membunuh siapa saja yang menentang Islam yang seolah-olah merupakan ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat Alqur’an. Astaghfirullah al’adzhiim..

Surat 8 Al-Anfal ayat 60
Surat 4 An-Nisa’ ayat 56
Surat 47 Muhammad ayat 4
Surat 4 An-Nisa’ ayat 89
Surat 8 Al-Anfal ayat 39

Apakah ayat-ayat tersebut di atas dapat diterjemahkan begitu saja? Itulah mengapa hanya sedikit orang yang mampu mendalami ilmu Tafsir Qur’an dan Hadits, karena menafsirkan kalimat Allah yang sedemikian indahnya bukanlah hanya sekedar menjiplak terjemahan kata per kata tanpa menghubungkannya dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Belum lagi mengintrepretasikannya ke dalam dunia nyata yang jauh berbeda ketika Ayat-Ayat Suci tersebut diturunkan. Tetapi Al-Qur’an berlaku untuk segala zaman, sesungguhnya demikianlah bagi orang-orang yang berfikir.

Anda tidak perlu mencari atau mendownload film ini, karna sebagian besar link downloadnya telah di-”razia” oleh orang-orang yang peduli pada hakekat ajaran Islam. Percayalah..dari kalangan manapun anda pasti setuju dengan tindakan ini, sekalipun anda bukan pemeluk ajaran Islam, anda tidak akan rela agama dan keyakinan anda diperlakukan tanpa adab.

Kita boleh marah, kita boleh kesal dan kita boleh meluapkan emosi demi membela ajaran Allah, tapi apakah Allah setuju dengan perbuatan yang akan kita lakukan? merazia orang asing, berdemo secara brutal, mendiskreditkan semua orang non-muslim? Tidakkah lalu kita menjadi lebih kejam daripada FITNA dan melakukan pembenaran terhadap Geert Wilders ? Astaghfirullah al’adzhiim..

Mari kembali ke ajaran Islam, melihat sebenar-benarnya agama Allah, melandaskan segala macam bentuk penafsiran ayat Allah kepada sifat dasar Allah. Ingatlah bahwa Islam bukan hanya diperuntukkan bagi umat Muslim, tetapi Islam juga diperuntukkan bagi Seluruh Umat.

Subhanallah..wal Hamdulillah..wa Laa ilaa ha Ilallah..Allahu Akbar..

April 1, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice, Soul | | & Komentar

Ujian Sertifikasi

Beberapa minggu yang lalu secara mendadak dan tiba-tiba (ya iyalah, kalo mendadak ya jelas tiba-tiba yak?? he..), di pagi hari Isnin, beberapa menit setelah menginjakkan kaki di BKIK, dan beberapa detik sebelum meninggalkan ruangan Aparatur (untuk memenuhi panggilan *terbiasa menjadi wanita panggilan setiap kali standby di kantor*), tiba-tiba beberapa carik kertas lengkap dengan map berwana kuning disodorkan ke hadapan wajah.

“Fi, ini! coba tanya dulu ke bagian PK ada duitnya ato ndak, kalo ada telpon dulu ke panitia penyelenggara, lalu segera pergilah, hari ini acaranya dimulai” ucap Bu Nur dengan kelembutan yang dipertegas.

Wew, saat itu tentu saja terpampang raut muka bego tanpa ekspresi (kek mana tu ya??), ya jelas, ada apa dan mengenai hal apapun sama sekali tak terbayang di dalam kepala. Beberapa detik membaca secara scanning & skimming, ternyata surat tersebut bermaksud mengantarkan diri untuk diikutkan dalam Pendidikan dan Latihan sekaligus Ujian Sertifikasi Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
Next….

Maret 24, 2008 Ditulis oleh pipiew | My Voice | | & Komentar