PIPIEW

me, my words ‘n my mind

My Speech*)

Posted by pipiew pada Maret 13, 2012

Ladies and Gentlemen, Distinguished Guests,

On behalf of DET Master Scholar awardees, I am honored to speak in front of you at the very end of DET program granted by DSF World Bank and its partners.

It has been a long journey for us and also a very short experience at the same time. A long journey of doing our assignments, writing dissertation and dealing with university stuff. But also a too short period to explore everything about Britain, including its beautiful places, kindly people, fascinating history, public facilities (and off course the great boxing days J).

Ladies and gentlemen,

Being DET scholars give an important meaning for us. We have experienced many things since the first time we arrived in the UK. The first lesson we learnt was the UK learning system. Most of universities combine theory and case study in their lectures. This is a good point for us because we may apply our job experiences within the framework which is taught in the class session. On the other hand, the universities may enrich their scientific study with our real case study.

As a representative from local government, I learned how to analyze socio-economic development project in global lenses that may support strategic decision in local government, specifically for province outside Java. I also learned that decentralization should be supported by many aspects, including technology. For example, information technology may be applied as an important means in delivering information from government to public, as well as between central and local government in order to achieve the goal of good governance. At the same time, technology may also strengthen decentralization program, even though there is a need to review the concept of decentralization itself in Indonesia for more comprehensive and on the right target. This is the second lesson that I got.

 Your Excellencies,

Another important aspect of a nation development is gender equality. I have learnt this fact when I studied gender and development course unit. It has been proved that gender is a key point of development growth. Unfortunately, Indonesia Gender Inequality Index is still low, which ranks hundredth out of a hundred and forty six countries surveyed. This can also be seen from the percentage of DET scholars which is only thirty percent women, or seven out of twenty four scholars. This aspect may have to be reconsidered by the scholarship organizer to add more chance for women education.

The last lesson, and the most enjoyable one, was traveling around the UK. At least there are four states we could visit without applying for a visa, that is England, Wales, Scotland and Northern Ireland. Most of the places are interesting to visit: the historical buildings, castles, rivers, the universities, and its beautiful landscapes. And I finally found out that Stonehenge is not as big as I have imagined before. During my travel, there is a lesson that might be applied in my own country. It is how tourism can be explored and promoted to attract more tourists to come.

Besides that, there are lots of experience we might never get before: have a sleepless nights, or spend many nights with the laptop, until one night I found my laptop was broken down because I kicked it when I slept. Or, how we were freezing in bus stop waiting for the bus in the very cold winter. That was the worst winter I ever had.. (actually because it was the only winter I have, until now I mean, but I do hope to have another winter in the UK or other countries – bisik2). But meeting friends from different countries was also amazing. We could tell stories of our country, to let them know about how beautiful Indonesia is. And having native friends was also good to proofread your essays, even this script was also proofread by some of my friends. The most interesting thing is we suddenly become a great chef since we need to cook our meals by ourselves. We cannot easily find any Warung Tegal or Nasi Padang in Piccadilly Gardens or Trafford Centre.

It was really an incredible experience..

Ladies and gentlemen,

The end of our study is marked by the announcement of our final results and graduation. It certainly is a wonderful achievement for us. So I would like to conclude my remarks by showing my gratitude to DSF, World Bank, British Council, the Ministry of Home Affairs, the Ministry of Finance, Bappenas, and all parties who already made our dreams came true. And the last but not least, special thank goes for all DSF scholars, for our friendships and our moment of togetherness. It is time for us to give the real contribution for our institution and community, to be the real agent of change, to build and develop our beloved Indonesia.

Thank you very much.

Me with Stefan G. Koeberle

*)My first formal English speech in front of DSF Manager for Indonesia, the World Bank Director for Indonesia, UK Deputy Ambassador, British Council and DSF scholarship recipients at DSF Welcome Back Reception in Hotel Mandarin, 22 Feb 2011 (a day before my 28th).

Ditulis dalam My Voice | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

It’s done, finally..

Posted by pipiew pada Oktober 23, 2011

Perputaran waktu terasa begitu cepat berlalu bak hembusan angin kencang tak berjeda. Episode “Manchester” kini telah berakhir. Mengulang kembali pengalaman setahun belakangan rasanya tak akan pernah bosan. Mengingat cuaca musim gugur dengan suhu udara yang mulai menurun ke level belasan derajat sesaat sebelum ditinggalkan kemarin. Ditambah sebelas hari lawatan ke negeri Eropa kecil sebelumnya. Dan periode yang terasa kilat setelah tugas akhir disertasi dikumpulkan.

‘Akhir’ ini menjadi sangat menyenangkan ketika mengenang daftar panjang bahan bacaan wajib perkuliahan, apalagi membayangkan batasan jumlah kata yang harus ditulis di setiap akhir semester untuk masing – masing mata kuliah, demi sebuah gelar Master. Jika boleh berpendapat, ternyata bersekolah di luar negeri sendiri bukan semata demi mengejar gelar M.Sc atau MA, tetapi juga belajar mengerti kehidupan, kebiasaan dan aturan di negara lain, membandingkannya dengan kondisi ‘lumrah’ ala kita, dan kemudian mengevaluasi mana kebiasaan baik yang mungkin diterapkan di tempat kita bermula sebelumnya.

Tahap menerapkan tersebut memang gampang – gampang sulit. Alih – alih mengajak orang lain untuk ikut serta mengubah kebiasaan lama, yang ada malah diri kita yang dianggap aneh. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu, ketika sebagian besar hati dan pikiran saya masih tertinggal di kota bung Alex Fergusson.

Ceritanya, saya sedang menemani Ibunda berbelanja di sebuah supermarket terlama di kota Pontianak tercinta. Ketika membayar di kasir, secara spontan saya memasukkan sendiri barang – barang belanjaan yang sudah di-scan ke dalam plastik yang terlihat disediakan di ujung meja kasir. Sejak saya menyentuh sendiri plastik – plastik tersebut, si petugas kasir terlihat keheranan dan entah berkata sesuatu kepada saya. Tetapi karena kebiasaan membungkus barang belanjaan yang harus cepat, saya pun tak menggubris tatapan heran petugas tersebut.

Sampai akhirnya, Ibunda saya tersenyum menahan geli sambil bertanya, “Dek, lagi ngapain? Masih keinget kebiasaan disana ya?”. Saat masih mencerna ucapan Ibunda, seorang petugas supermarket lainnya merampas plastik yang saya pegang tanpa berucap permisi atau bahkan tersenyum. Barulah saya sadari, ah mungkin saja si petugas tersebut beranggapan saya telah mengambil pekerjaan dan tanggung jawabnya. Maksud hati ingin mandiri, tapi orang lain butuh pekerjaan untuk melayani.

Perbedaan – perbedaan seperti ini kadangkala membuat kerinduan akan kehidupan di negeri orang menjadi semakin terasa. Yang jelas, bersekolah di luar negeri sangat jauh berbeda dengan bersekolah di luar kota. Maksud saya, katakanlah tidak sedikit anak muda daerah yang menuntut ilmu di kota besar, misalnya Bandung, Yogyakarta, atau Jakarta. Atmosfer lingkungan pendidikannya jelas berbeda dengan berkuliah di kota sendiri. Namun pendidikan di luar negeri terbukti memicu independensi diri secara lebih sempurna, dan perluasan sudut pandang yang tidak lagi terkungkung dalam konteks nasional apalagi lokal. Saya dulu hanya bisa bermimpi ingin menginjakkan kaki di Inggris, Alhamdulillah mimpi itu telah menjadi nyata setahun yang lalu.

Ditulis dalam Hari-Hari | 3 Komentar »

18 hours fasting feat writing dissertation

Posted by pipiew pada Agustus 8, 2011

Menjalani puasa Ramadhan di Eropa mempunyai tantangan tersendiri. Kalau di Indonesia umumnya kita berpuasa sekitar 13.5 jam, katakanlah sejak pukul 04.34 hingga 17.57. Dan 15 hingga 16 jam di Mesir. Maka di Manchester, puasa Ramadhan kali ini diawali dengan hampir 18 jam menahan lapar, dari imsak pukul 3:16 hingga berbuka pada pukul 21.06.

Rentang waktu puasa ini lebih lama dari tahun sebelumnya, mengingat puncak summer atau musim panas baru saja berlalu. Kabar menggembirakannya adalah rentang waktu ini akan semakin memendek hingga akhir bulan Ramadhan nanti. Diperkirakan akan menjadi 2 jam lebih pendek atau sekitar 16 jam puasa.

Meski demikian, Alhamdulillah, cuaca Eropa yang cenderung dingin, berkisar antara 11 hingga 23 derajat celcius, membuat 18 jam tersebut tidaklah terlalu berasa berat. Berbeda dengan 40 atau 50 derajat celcius di Kairo. Atau suhu kota Pontianak yang berkisar antara 23 hingga 33 derajat celcius.

Niat ikhlas adalah kunci utama menjalani shaum kali ini. Kami diharuskan beradaptasi dengan pola makan yang tak biasa, serta mengatur jarak waktu antara makan malam dan sahur agar metabolisme tubuh tidak terganggu. Belum lagi soal selera makanan yang juga harus diatur sendiri. Tidak ada nasi padang atau warung tegal di pinggir jalan. Alhasil, kreativitas Mancunian (sebutan untuk anak Manchie) menjadi terpicu, terutama dalam hal masak – memasak.

Tantangan Mancunian belum usai. Kami masih harus berkutat dengan tugas akhir perkuliahan. Mahasiswa – mahasiswi PhD sedang dalam tahap review tahun pertama yang menentukan kelangsungan studi mereka ke tahun berikutnya. Tidak berbeda dengan mahasiswa Master yang berada pada masa genting penulisan disertasi (istilah umum di UK untuk tugas akhir mahasiswa S2 adalah disertasi, sedangkan S3 adalah thesis).

Pengumpulan tugas akhir yang sebagian besar dilaksanakan pada awal September membuat kami sedikit pontang – panting. Sementara sang Profesor berlibur musim panas, maka kami disibukkan dengan pengumpulan data. Tidak ada jeda waktu untuk liburan, kecuali memberanikan diri untuk ‘berlari’ sebentar dari kejenuhan menulis disertasi.

Namun, Ramadhan selalu membawa berkah. Dua belas ribu kata yang minimum harus kami tulis sedikit demi sedikit mulai terangkai. Studi literatur dan penjelasan analitik mulai berjalan ke arah yang benar. InsyaAllah, di Syawal nanti, kami akan merayakan dua kemenangan sekaligus. Menang atas godaan menahan nafsu selama sebulan, dan menang atas setahun penuh perjuangan di Universitas Manchester.

Ditulis dalam Hari-Hari | 8 Komentar »

Memburu Nuansa Ramadhan

Posted by pipiew pada Agustus 6, 2011

Manchester (1/8) – Satu Ramadhan 1432 bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 2011, tidak berbeda dengan penetapan Ramadhan di tanah air. Yang berbeda hanyalah suasana dalam menyambut puasa di kota Manchester.

Tidak seperti di tanah air, kota berpenduduk 392.819 jiwa ini terlihat ‘tak ada bedanya’ dengan hari – hari biasa. Tidak ada keramaian tak wajar di pusat kota, tidak ada nyanyian – nyanyian penyejuk kalbu dari masjid – masjid terdekat, apalagi pasar tumpah yang layaknya mulai membanjiri tempat – tempat strategis seperti di tanah air.

Kondisi demikian wajar adanya mengingat populasi umat muslim di kota ini hanya mencapai 9.1% dari jumlah total penduduk. Di sini, pusat kota baru akan sangat ramai ketika menjelang Boxing Day(1) atau Summer Sale(2). Alih – alih nasyid dan sholawat, dentangan lonceng gereja menandai setiap pergantian jam. Pasar tumpah baru akan ramai kembali ketika Natal tiba.

Budaya dan mayoritas, dua hal yang menentukan kebiasaan dan cara – cara unik dalam memperingati hari spesial di setiap bangsa. Mengingat hal ini, salah satu cara untuk mengobati kerinduan adalah memburu suasana di mana kaum minoritas berada.

Beruntung, letak perkampungan muslim tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, masjid yang cukup besar sudah dapat dijumpai. Paling tidak, sholat taraweeh akan diselenggarakan di Masjid Jamia ini. Menjadi penting, karena tidak semua masjid menyelenggarakan taraweeh dan ta’jil bersama, misalnya McDoughall Prayer Room atau masjid selatan milik kampus yang mengalihkan jemaahnya ke Masjid Central Manchester.

Sehari menjelang Ramadhan, masjid Jamia, atau juga dikenal dengan Victoria Park Mosque, terlihat mulai berbenah. Beberapa anak muda mengecat pagar masjid. Seorang pengurus masjid juga membersihkan dinding dan kasa – kasa di bangunan berusia 40 tahun ini.

Mengintip ruangan di dalamnya, Masjid Jamia memang tidak semegah Masjid Raya Mujahidin di Pontianak, tidak pula seunik masjid Jihad di Jalan Johan Idrus. Masjid ini tampak biasa, sebagaimana bangunan kotak berbata ala Inggris. Namun kubah berlambang bulan dan bintang-nya mampu menenangkan ummat muslim di sekitarnya.

Tidak kurang dari 7 menit berjalan kaki dari Masjid Jamia, terdapat toko bahan makanan muslim. Dikelola oleh pemilik dari wilayah Asia Selatan, toko berlabel Worldwide ini menyediakan aneka sayuran Asia, daging halal, beras hingga bumbu instan. Cukup menyenangkan, karena di sini mudah untuk mendapatkan sayur pare / pariak, bawang merah (atau disebut Indian Onion), pepaya mengkal, dan berbagai jenis bahan makanan ala Asia. Harga yang ditawarkan pun terhitung lebih murah daripada supermarket lainnya.

Menjelang puasa, Worldwide dipenuhi pembeli. Antrian counter daging mengular hingga ke pintu masuk. Sayur dan buah – buahan juga diserbu pada pembeli. Pos kasir juga dibuka di semua line. Ah, seperti sedang berada di tanah air.

Ya, meskipun minor, nuansa Ramadhan itu masih terasa sedikit di sini, mengobati kerinduan akan kekhuyukan berpuasa di tanah air.

(1) Boxing day adalah hari dimana hampir semua pusat perbelanjaan memberikan diskon besar – besaran, diselenggarakan setiap tanggal 26 Desember.

(2) Summer Sale adalah periode diskon pada musim panas.

Ditulis dalam Hari-Hari | 2 Komentar »

Sehari menjelang Royal Wedding

Posted by pipiew pada April 28, 2011

Inggris tersulap kemegahan Royal Wedding 2011. Pasangan Catherine Elizabeth Middleton dan William Arthur Philip Louis akan mengakhiri masa lajangnya esok hari. London pun menjadi pusat perhatian dunia.

Sehari menjelang pernikahan akbar abad 21 ini, hampir setiap sudut kota London terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan turis dari dalam maupun luar UK berdatangan sejak tiga hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Mereka berharap dapat menjadi saksi hidup pernikahan salah satu garis keturunan bangsawan paling elit Inggris saat ini.

Westminter Abbey, tempat dimana pasangan ini akan dinobatkan menjadi suami istri telah dipadati manusia sejak H-2. Tenda – tenda mungil telah didirikan di sekitar gereja khusus acara keluarga kerajaan tersebut.

Beribu penonton the Royal Wedding terlihat antusias meski harus berhadapan dengan cuaca dingin kota London. Suhu yang sejak beberapa hari lalu mendadak turun tidak menghalangi keinginan warga untuk menyaksikan salah satu sejarah terbesar abad ini, pernikahan terbesar selama 30 tahun belakangan. Sebagian dari mereka bahkan datang dari bagian benua lain, seperti Kanada dan California.

Mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung pada tanggal 29 April esok, pemerintah kota London telah mempersiapkan penjagaan ketat. Pasukan berkuda dan sejumlah petugas keamanan telah ditempatkan di lokasi – lokasi keramaian. Beberapa lokasi dan jalur transportasi mulai ditutup sejak H-1.

Fasilitas- fasilitas umum tidak luput dari perhatian pemerintah. Toilet umum di sekitar spot keramaian telah dipersiapkan dengan cermat, terutama bagi para pengunjung yang menginap di tenda – tenda. Sedangkan transportasi publik masih akan beroperasi pada hari H, hanya saja beberapa jalur akan dialihkan melalui jalur alternatif.

Selain menyiapkan lokasi sepanjang jalur Istana Buckingham – Westminter Abbey, beberapa layar lebar juga telah disiapkan untuk menyiarkan secara langsung acara sakral tersebut, diantaranya ditempatkan di Hyde Park dan Trafalgar Square. Diperkirakan 2 miliar pasang mata akan menyaksikan pernikahan terbesar keluarga kerajaan selama 30 tahun terakhir ini.

Photo (courtesy : BBC tv)

Ditulis dalam Ga Penting | 3 Komentar »

when the Spring comes..

Posted by pipiew pada Maret 24, 2011

Pergantian musim secara resmi telah dideklarasikan oleh situs terkemuka prakiraan cuaca uk.weather.com pada tanggal 20 Maret lalu. Beberapa hari sebelumnya, bunga Iris Reticulata bermekaran menandai hampir datangnya musim semi. Sayang, keelokan si Ungu ini hanya bertahan tidak lebih dari dua pekan, berganti kecantikan daffodil yang menghiasi hampir seluruh taman kota.

Munculnya putik – putik mungil di awal musim semi tersebut menandai keceriaan Eropa yang sebentar lagi akan datang, bahkan sedang dimulai, saat ini. Cuaca cerah penuh  cahaya matahari telah diprediksi akan mendominasi pekan pertama musim semi.

Spring in the University of Manchester

Spring in the University of Manchester

Sebagaimana bunga, taman – taman juga mulai diramaikan oleh pengunjung. Lahan hijau kini tidak lagi kosong. Meski dahan – dahan pepohonan masih kerontang miskin daun, namun keindahan daffodil dan hangatnya matahari mampu menggugah keceriaan manusia di bumi barat ini.

Bersila di atas rerumputan, berkelakar sampai bermain permainan terbuka menjadi aktivitas menyenangkan saat ini, mengingat keberadaan taman dapat ditemukan hampir di setiap bagian dari kota ini. Kemuraman musim dingin telah usai. Jaket – jaket tebal mulai ditinggalkan, berganti cardigan tipis pembalut kulit. Boot2 tinggi kini bertukar sepatu datar ala spring, meski semi belum benar – benar datang.

Berada pada suhu minimal 8 derajat celcius berarti cukup aman untuk terbebas dari mantel wool, bahkan di malam hari. Meski suhu yang paling menyenangkan adalah berkisar antara 11 hingga 16 derajat celcius.

Kemampuan tubuh manusia untuk beradaptasi sungguh luar biasa. Dulu, di minggu pertama peralihan dari iklim tropis ke iklim sedang, tubuh ini masih harus berbalur jaket supertebal di suhu 14 derajat celcius. Tapi kini, setelah ditempa tiga bulanan berada pada suhu di kisaran nol derajat pada musim dingin lalu, maka 14 derajat adalah berarti hangat, layaknya suhu normal.

Cuaca boleh saja menghangat, namun kecepatan angin juga merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Di negeri yg sangat berangin ini, teriknya sinar matahari bisa bukan berarti apa2 jika dibarengi angin dingin berkecepatan 15 mph. Tubuh akan tetap saja menggigil.

Pergantian musim semi kemudian akan disusul dengan pergantian British Summer Time (BST) tepat pada hari Minggu terakhir bulan Maret, membuat rentang waktu antara UK – Indonesia tidak lagi 7 jam, tetapi kembali menjadi 6 jam. Sebuah ciri khas negara 4 musim.

Ditulis dalam Hari-Hari | Bertanda: | 3 Komentar »

Musim Ujian, Musim Bermalam di Kampus

Posted by pipiew pada Januari 19, 2011

Liburan usai, musim ujian kini di depan mata. Mengikuti tradisi perayaan, kalender pendidikan di Universitas Manchester menempatkan ujian dan deadline pengumpulan tugas – tugas  di pertengahan bulan Januari, setelah 3-minggu-liburan Natal dan Tahun Baru berakhir. Empat hari setelah Tahun Baru, para mahasiswa(i) mulai berdatangan ke area kampus, tepat di hari pertama Perpustakaan Universitas kembali beroperasi.

Ada beberapa jenis tugas wajib (assignment) yang dipersyaratkan untuk lulus mata kuliah tertentu. Dua yang paling populer adalah Esai dan Ujian. Pada umumnya, esai utama yang wajib ditulis di akhir semester terdiri dari 3000 s/d 5000 kata. Sedangkan ujian biasanya berupa pembuktian rumus untuk mata kuliah eksakta, atau esai pendek untuk program sosial. Keduanya membutuhkan jenis pembelajaran yang sama rumitnya.

Tidak seperti metode penilaian di Indonesia, untuk esai maupun ujian, materi yang ditulis harus berdasarkan data atau dukungan pernyataan dari ilmuwan melalui jurnal – jurnal dan buku – buku referensi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kunci utama adalah banyak membaca, terutama artikel – artikel yang berkaitan dengan materi yang ditanyakan, atau akan ditanyakan.

Maka dari itulah, perpustakaan mendadak jauh lebih ramai daripada hari – hari biasa. Titik – titik yang biasanya sepi dan tidak diminati karena posisinya yang tidak kondusif untuk belajar kini dipadati mahasiswa. Khusus di hari – hari menjelang ujian dan deadline, Perpustakaan Universitas memang beroperasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Sehingga tak perlu heran, Perpustakaan hampir selalu penuh baik pagi, siang maupun malam hari.

Buku – buku favorit atau buku wajib setiap mata kuliah hampir sulit ditemukan, karena sudah habis dipinjam para pemburu nilai. Wajah kelelahan bercampur panik menghiasi hampir setiap raut muka mahasiswa. Belajar hingga larut malam, bahkan pagi, tidak lagi menjadi hal yang luar biasa, sama seperti di Indonesia, namun bukan untuk SKS (Sistem Kebut Semalam). Berapapun lamanya waktu yang diberikan untuk menyiapkan bahan esai maupun ujian akan selalu terasa kurang. Ekspektasi pemahaman ilmu yang tinggi dari dosen ditambah level sempurna ala mahasiswa membuat karya akademik menjadi sedemikian berharganya untuk diperjuangkan. Sakit, lelah dan tertekan akibat tugas – tugas tersebut akan terbayar setimpal nanti, ketika hasil keluar, dan terlebih ketika diimplementasikan di dunia kerja kemudian.

Belajar sekaligus bermalam di Perpustakaan

Ditulis dalam Hari-Hari | 8 Komentar »

Suddenly, I miss BC1..

Posted by pipiew pada Januari 5, 2011

Menjadi salah satu yang sukses tanpa dibarengi kesuksesan dari teman yang lain bukanlah termasuk kategori ‘sukses’ buat saya. Masih teringat detik – detik mendebarkan pertengahan tahun lalu. Diri ini terlalu khawatir akan menerima kegagalan, tapi ternyata ketidakgagalan itu bukan berarti apa – apa tanpa keberuntungan yang lain. Melankolis memang, atau cenderung lebay, tapi memang begitulah yang terasa sejak dulu. Bayangkan, yang terdekatlah yang justru harus dilepas.

Kesuksesan itu tidak lantas menjadi puncak kegembiraan buat saya, karena harus menjadi yang beruntung di antara kekurangberuntungan yang lain. Bukan lantas menjadi tidak bersyukur, tetapi hanya menjadi dilema tak berkesudahan. Dilema untuk menyambung kembali silaturahmi, dilema berkomunikasi layaknya senasib, dilema memberi kabar yang tidak sama dengan yang lain. Lidah ini menjadi gagap. Bingung bagaimana harus bersikap.

Waktu memang menjadi senjata utama dalam mengatasi ‘ketidaknyamanan’ tersebut. Masing – masing telah sanggup beradaptasi di atas jalannya. Hanya membayangkan, jikalau jalan ini dilalui bersama yang lain…ah, memang kurang baik jika terlalu sering berandai – andai.

Menemukan sahabat yang cocok, karib yang sesuai, gerombolan yang ‘nyambung’ memang sulit. Dan BC 1 adalah salah satu jawaban bagi saya. Tujuh minggu bahkan mengalahkan bertahun pengenalan. Sosok – sosok yang mampu membuat tawa tanpa henti itu meledak, hingga meledakkan yang lain. Ahaha, selalu membuat tersenyum ketika mengingat memoar indah kala itu.

Doodling, singing, taroting, ahayy menjadi ciri khas yang tak mungkin terlupakan. Aku di sini teman, bernasib baik lebih cepat dari kalian, meski bukan berarti  lebih baik daripada kalian. Aku di sini.. menunggu kabar baikmu, selalu menanti yang terbaik segera, dan tak pernah lupa berdoa untukmu yang terhebat.

Salam rindu untukmu,
- yang ternakal -

BC1 on the last day..

Ditulis dalam Hari-Hari, Soul | Bertanda: , | 4 Komentar »

Tahun Baru di Manchester

Posted by pipiew pada Januari 2, 2011

Pergantian tahun masehi selalu dirayakan meriah di seluruh penjuru dunia. Pesta kembang api tak henti dipertontonkan dalam rentang waktu 24 jam di setiap zona waktu yang berbeda. Tidak kalah menarik dari kota lain, perayaan tahun baru di Manchester juga dimeriahkan dengan pesta kembang api di pusat kota. Ratusan penduduk Manchester berbondong – bondong memadati daerah Spinningfield sejak satu jam sebelum detik pertama tahun 2011 dimulai.

Lima belas menit sebelum tahun berganti, kawula muda Manchester semakin merangsek ke tengah The Avenue untuk menyaksikan gegap gempita kembang api. Hentakan irama ‘I Got a Feeling’ semakin menyemarakkan suasana. Semua orang ikut bernyanyi dan melompat seakan sedang menyaksikan konser Black Eyed Peas. Tak mau kalah dengan generasi muda, beberapa pasangan kakek-nenek pun ikut menari dan menikmati musik beraliran rap tersebut.

Beberapa menit kemudian, semua suara tiba – tiba bersatu dalam hitungan mundur, meneriakkan sepuluh detik terakhir di tahun 2010. Dan ledakan kembang api mendadak terjadi, memancarkan bunga – bunga api di bawah langit malam. Teriakan pun berlanjut dengan kekaguman yang luar biasa. Atraksi yang berlangsung lebih dari 10 menit itu menyuguhkan berbagai macam formasi kembang api, dari ‘hujan’ kembang api hingga ledakan warna – warni di atap bumi. Layar raksasa di tengah taman kini bertuliskan “Happy New Year 2011″.

Fireworks in Manchester

Merayakan Tahun Baru bersama keluarga Indonesia

Sudah menjadi tradisi selama beberapa tahun terakhir, malam tahun baru selalu dirayakan bersama keluarga besar Indonesia yang berada di Manchester. Acara kumpul-kumpul ini dihadiri oleh pelajar, peneliti maupun warga Indonesia yang sudah beberapa lama menetap di Inggris. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Hari-Hari | Bertanda: , , | 4 Komentar »

Garuda di Dadaku

Posted by pipiew pada Desember 29, 2010

Semakin Memerah..

Merah ini terasa berbeda kini, jauh mengharu biru ketika kita menyadari kuatnya kecintaan terhadap negeri sendiri. Disini, di negeri asing, semangat itu tidak pudar, bahkan tidak kalah membuncah daripada para live supporters di stadion proklamator bersejarah.

Indonesia siap berjuang! merahku membara, sekali lagi..menyulut semangat perjuangan yang tertimbun jauh di bawah nafas idealisme. Terimakasih, membuat kami bersyukur menjadi bagian dari ‘besar’nya bangsa ini. Terimakasih, membuat kami bersatu padu mendukung kebangkitan anak muda negeri ini. Terimakasih, membuat kami menyadari bahwa harapan masih terbentang luas di depan sana.

Indonesia boleh tidak dikenal masyarakat dunia, tetapi nyawamu tetap berkibar di hati setiap punggawa yang lahir di atas tanahmu. Garuda mengepak tinggi di atas aura persaudaraan se-bangsa dan se-tanah air. Kegagahanmu menyita simpati seluruh ornamen negeri tercinta. Indonesia kembali bangkit.. Nasionalisme kembali menyala di tengah teriakan “Garuda di Dadaku!”

Selamat berjuang pahlawan! dimana pun dan sebagai apa pun anda, di dunia olahraga maupun scientific, di negeri sendiri maupun di tanah asing. Dan kita pun tetap meng-Indonesia..

Garuda di Dadaku (source : www.onlinepersada.com)

Ditulis dalam Soul | Bertanda: , , | 2 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.