Amazing Ijen

Tag

, , , , , , , ,

I said, the Blue Lake -- Kawah Ijen

 I said, the Blue Lake — Kawah Ijen

Melintasi beberapa kabupaten: Pasuruan,Probolinggo dan Bondowoso sepanjang siang dengan beberapa kali perhentian untuk makan siang, snack sore (bakso & mie ayam, kalaulah bisa disebut snack) dan makan malam, akhirnya tibalah di Kalisat, tempat kami bermalam.

Oups, sebentar..sedikit membahas mengenai jalan yang kami lalui menuju Ijen. Jalanannya gelap dan sunyi. Hanya ada pepohonan berbatang besar yang menandakan cukup tuanya pohon-pohon tersebut. Ditengah kegelapan malam ini, mas Pemandu bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya dulu ketika mendaki beberapa gunung di Indonesia. Memang sungguh pendaki betulan ketika mudanya dulu, eh sepertinya sampai sekarang. Awalnya bermula ketika obrolan membahas mengenai satwa liar yang ada di Sempu, pulau yang kemarin kami lewati. Ternyata, sebetulnya, di Pulau tersebut masih terdapat banyak satwa liar, babi hutan, rusa, hingga macan. Tapi tak satu punterlihat kemarin, rasanya. Alasannya adalah bahwa telah menjadi perilaku normal jika hewan cenderung akan menghindari jalur manusia, mereka tidak suka keramaian.

Nah, berawal dari macan, cerita kemudian berkembang ke pengalaman mendebarkan si Mas Pemandu yang dulu konon katanya pernah bertemu macan di salah satu gunung yang didakinya bersama dua orang teman lainnya. Cerita yang digambarkan dengan begitu runut, dilengkapi gambaran perasaan yang dialami waktu dulu, diceritakan oleh orang pertama pula, membuat kami (saya) serasa ikut berada dalam scene masa lalu itu. Ikut-ikut merasa cemas, berdebar, hingga cerita yang happy ending itu berakhir. Cerita-cerita nyata seperti ini sepertinya menjadi bonus tambahan pada paket trip kami. Beruntung dipandu oleh survivorbetulan. Baca lebih lanjut

The Marvellous Bromo

Tag

, , ,

1975155_10204380752712267_604960250473054992_nLelahnya tubuh setelah jungle trekking di Sempu tadi membuat kami terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil. Mas pemandu wisata (boleh disebutin namanya ga ya? heu) terpaksa harus berjuang sendiri ketika jalur yang semustinya dilalui mendadak ditutup, sehingga harus melewati jalan alternatif (maafkan kami, huk). Ketika terbangun udara sejuk terasa menusuk tulang. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah kasur…oh,kasur..(dan selimut tebal..). Tiba hampir tengah malam, setelah berberes sekedarnya kami segera tidur, lelap, hingga pukul 3 pagi ketika Hard Top Jeep tahun 80an siap menjemput kami untuk mengeksplorasi pegunungan yang amat sangat tersohor itu.

Kabut di “pelataran” Bromo tampak tebal.Menurut keterangan Bapak si empunya Jeep, terkadang kabut bisa menjadi sangat-sangat tebal hingga jarak pandang hanya sampai 1 meter. Tapi toh mereka hampir tak pernah tersesat, jelas karena sudah terbiasa dan hafal dengan rute puncak Penanjakan, tempat yang kami tuju, sebagai bagian dari keseharian. Dulu, konon kabarnya, ketika muda si Bapak terbiasa berjalan kaki dari kaki Bromo ke puncak gunung yang berjarak kira-kira 18 km menanjak, dan ditempuh dalam waktu hanya 3 jam! Bandingkan dengan kecepatan kami ketika melintasi Sempu kemarin yang kurang lebih hanya 1,5 atau 2 km namun kami tempuh dalam waktu 2 jam. Subhanallah. (Meski dilakukan di musim penghujan — excuse tuh, haha). Baca lebih lanjut

Sempu, The Hidden Paradise

Tag

, , , ,

IMG_0139

…there ain’t no journey what don’t change you some. (David Mitchell, Cloud Atlas).

 

Keputusan memanfaatkan jatah cuti untuk sekedar melakukan perjalanan tidaklah pernah menjadi keputusan yang salah. Trust me.

Tepat tengah malam, ketika trip-3-hari ini dimulai. Tidur sore tadi lumayan membantu mengembalikan energi dan semangat positif setelah penerbangan yang sepertinya tidak melelahkan itu ternyata cukup melelahkan. Sidoarjo, kota yang menyenangkan dan menenangkan, jelas selain hal lumpurnya yang tak kunjung tuntas. Disambut dengan kehangatan keluarga dari seorang teman, keramahan selalu menjadi ciri khas mereka yang masih terbiasa dekat dengan tradisi, menikmati keliling kota dan suguhan kuliner yang tak pernah henti, bahkan tanpa menyisakan jeda untuk merasa lapar. Ah, terima kasih.

Sempu

Tujuan utama yang pertama adalah Pulau Sempu. Butuh waktu hingga subuh untuk sampai ke Pantai Bajul Mati. Istirahat, sholat, sarapan di tepi laut sambil menunggu pagi sebelum trekking pertama kami mulai. Pagi menjelang tepat ketika rintik hujan yang semula menyambut kedatangan kami beranjak menjauh, menyisakan hanya mendung yang bergelayut. Sendang Biru, pantai nelayan yang berjarak beberapa kilometer dari Bajul Mati, di sini penyeberangan ke Sempu diakomodir. Di Pulau Sempu nanti, kami akan melakukan trekking ke sisi lain Pulau, tempat dimana Segara Anakan berada.

Seorang ranger memandu perjalanan kami menyeberang dan melintasi Pulau. Sendang Biru – Sempu memakan waktu hanya beberapa menit dengan perahu. Beberapa menit itu terasa worth, mengingat air laut yang jernih mampu membantu penglihatan hingga menembus dasar laut. Belum lagi jejeran bakau yang memukau di sisi Pulau. Wow, belum-belum sudah membuat kami terpesona! Baca lebih lanjut

Momen

Kita sebagai manusia, akan selalu punya momen terindah di setiap stage / rentang waktu dalam hidup. Momen itu, sangat erat kaitannya dengan keberadaan teman, keluarga, sahabat, pendamping, kolega, yang berada di sekitar. Satu momen tidak akan pernah tergantikan oleh momen yang lain, meski keadaannya terlihat persis. Satu momen adalah keunikan tunggal yang akan abadi jika (dan hanya jika) terpatri begitu dalam, dalam ingatan-ingatan di luar kepala; yang sari pati keabadiannya telah mengendap demikian tebalnya hingga cukup di-kuarkan dengan sentuhan ringan elemen pemicu munculnya kenangan.

Hm, bicara momen berarti bicara stage. Stage sendiri pun sulit didefinisikan dalam rentang waktu yang tetap. Ia memang tetap: tetap bervariasi. Sebagai contoh, stage kenangan di LIA (sebuah lembaga bahasa) berkisar 3 bulan, sedang stage di IALF (lembaga bahasa – yang lain) adalah 1,5 bulan. Meski berbeda rentang, namun keduanya menyimpan momen – momen yang sama hebatnya. Keduanya menciptakan euforia unik ketika dikenang. Keduanya mampu mengukir senyuman (bahkan tawa) ketika diingat. Dan keduanya, terlalu berharga untuk dilupakan.

Kualitas dari kenangan tersebut pun sejatinya adalah kita yang menentukan. Saya, punya stage yang beragam (Anda pun tentunya). Setiap stage itu tidak sepenuhnya saya ingat. Ada ruang-ruang tertentu dalam ingatan yang menempatkan dan mengkategorikan stage-stage tersebut. Kalau saya, 95% kenangan berada dalam ruang gembira, dan hampir tak punya tempat untuk ruang gelisah. Itulah kenapa, jika saya menilik ke belakang, meninggalkan masa kini untuk melihat kembali yang telah lalu, yang ada adalah “Hidup saya bahagia!”. Efeknya bombastis, mampu mengembalikan optimisme dalam hidup saya (yang kadang-kadang meredup). Ketika menilik itu, saya biasanya menemukan sumringah bersama teman-teman, canda saya dengan mbakyu-mbakyu, kekonyolan yang acapkali diimplementasikan tidak pada tempatnya. hahha..

Maka, masa lalu tidak selalu untuk dilupakan, tetapi ada bagian-bagian berkualitas yang sepatutnya dipertahankan untuk dikenang, lewat media apapun: foto, tulisan, benda unik (selain memori di otak yang kapasitasnya terbatas). Karena bagian-bagian berkualitas tersebut akan mampu mengembalikan energi positif dari tubuh yang sempat meluntur..

My Speech*)

Tag

, , , ,

Ladies and Gentlemen, Distinguished Guests,

On behalf of DET Master Scholar awardees, I am honored to speak in front of you at the very end of DET program granted by DSF World Bank and its partners.

It has been a long journey for us and also a very short experience at the same time. A long journey of doing our assignments, writing dissertation and dealing with university stuff. But also a too short period to explore everything about Britain, including its beautiful places, kindly people, fascinating history, public facilities (and off course the great boxing days J).

Ladies and gentlemen,

Being DET scholars give an important meaning for us. We have experienced many things since the first time we arrived in the UK. The first lesson we learnt was the UK learning system. Most of universities combine theory and case study in their lectures. This is a good point for us because we may apply our job experiences within the framework which is taught in the class session. On the other hand, the universities may enrich their scientific study with our real case study.

As a representative from local government, I learned how to analyze socio-economic development project in global lenses that may support strategic decision in local government, specifically for province outside Java. I also learned that decentralization should be supported by many aspects, including technology. For example, information technology may be applied as an important means in delivering information from government to public, as well as between central and local government in order to achieve the goal of good governance. At the same time, technology may also strengthen decentralization program, even though there is a need to review the concept of decentralization itself in Indonesia for more comprehensive and on the right target. This is the second lesson that I got. Baca lebih lanjut

It’s done, finally..

Perputaran waktu terasa begitu cepat berlalu bak hembusan angin kencang tak berjeda. Episode “Manchester” kini telah berakhir. Mengulang kembali pengalaman setahun belakangan rasanya tak akan pernah bosan. Mengingat cuaca musim gugur dengan suhu udara yang mulai menurun ke level belasan derajat sesaat sebelum ditinggalkan kemarin. Ditambah sebelas hari lawatan ke negeri Eropa kecil sebelumnya. Dan periode yang terasa kilat setelah tugas akhir disertasi dikumpulkan.

‘Akhir’ ini menjadi sangat menyenangkan ketika mengenang daftar panjang bahan bacaan wajib perkuliahan, apalagi membayangkan batasan jumlah kata yang harus ditulis di setiap akhir semester untuk masing – masing mata kuliah, demi sebuah gelar Master. Jika boleh berpendapat, ternyata bersekolah di luar negeri sendiri bukan semata demi mengejar gelar M.Sc atau MA, tetapi juga belajar mengerti kehidupan, kebiasaan dan aturan di negara lain, membandingkannya dengan kondisi ‘lumrah’ ala kita, dan kemudian mengevaluasi mana kebiasaan baik yang mungkin diterapkan di tempat kita bermula sebelumnya.

Tahap menerapkan tersebut memang gampang – gampang sulit. Alih – alih mengajak orang lain untuk ikut serta mengubah kebiasaan lama, yang ada malah diri kita yang dianggap aneh. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu, ketika sebagian besar hati dan pikiran saya masih tertinggal di kota bung Alex Fergusson.

Ceritanya, saya sedang menemani Ibunda berbelanja di sebuah supermarket terlama di kota Pontianak tercinta. Ketika membayar di kasir, secara spontan saya memasukkan sendiri barang – barang belanjaan yang sudah di-scan ke dalam plastik yang terlihat disediakan di ujung meja kasir. Sejak saya menyentuh sendiri plastik – plastik tersebut, si petugas kasir terlihat keheranan dan entah berkata sesuatu kepada saya. Tetapi karena kebiasaan membungkus barang belanjaan yang harus cepat, saya pun tak menggubris tatapan heran petugas tersebut.

Sampai akhirnya, Ibunda saya tersenyum menahan geli sambil bertanya, “Dek, lagi ngapain? Masih keinget kebiasaan disana ya?”. Saat masih mencerna ucapan Ibunda, seorang petugas supermarket lainnya merampas plastik yang saya pegang tanpa berucap permisi atau bahkan tersenyum. Barulah saya sadari, ah mungkin saja si petugas tersebut beranggapan saya telah mengambil pekerjaan dan tanggung jawabnya. Maksud hati ingin mandiri, tapi orang lain butuh pekerjaan untuk melayani.

Perbedaan – perbedaan seperti ini kadangkala membuat kerinduan akan kehidupan di negeri orang menjadi semakin terasa. Yang jelas, bersekolah di luar negeri sangat jauh berbeda dengan bersekolah di luar kota. Maksud saya, katakanlah tidak sedikit anak muda daerah yang menuntut ilmu di kota besar, misalnya Bandung, Yogyakarta, atau Jakarta. Atmosfer lingkungan pendidikannya jelas berbeda dengan berkuliah di kota sendiri. Namun pendidikan di luar negeri terbukti memicu independensi diri secara lebih sempurna, dan perluasan sudut pandang yang tidak lagi terkungkung dalam konteks nasional apalagi lokal. Saya dulu hanya bisa bermimpi ingin menginjakkan kaki di Inggris, Alhamdulillah mimpi itu telah menjadi nyata setahun yang lalu.

18 hours fasting feat writing dissertation

Menjalani puasa Ramadhan di Eropa mempunyai tantangan tersendiri. Kalau di Indonesia umumnya kita berpuasa sekitar 13.5 jam, katakanlah sejak pukul 04.34 hingga 17.57. Dan 15 hingga 16 jam di Mesir. Maka di Manchester, puasa Ramadhan kali ini diawali dengan hampir 18 jam menahan lapar, dari imsak pukul 3:16 hingga berbuka pada pukul 21.06.

Rentang waktu puasa ini lebih lama dari tahun sebelumnya, mengingat puncak summer atau musim panas baru saja berlalu. Kabar menggembirakannya adalah rentang waktu ini akan semakin memendek hingga akhir bulan Ramadhan nanti. Diperkirakan akan menjadi 2 jam lebih pendek atau sekitar 16 jam puasa.

Meski demikian, Alhamdulillah, cuaca Eropa yang cenderung dingin, berkisar antara 11 hingga 23 derajat celcius, membuat 18 jam tersebut tidaklah terlalu berasa berat. Berbeda dengan 40 atau 50 derajat celcius di Kairo. Atau suhu kota Pontianak yang berkisar antara 23 hingga 33 derajat celcius.

Niat ikhlas adalah kunci utama menjalani shaum kali ini. Kami diharuskan beradaptasi dengan pola makan yang tak biasa, serta mengatur jarak waktu antara makan malam dan sahur agar metabolisme tubuh tidak terganggu. Belum lagi soal selera makanan yang juga harus diatur sendiri. Tidak ada nasi padang atau warung tegal di pinggir jalan. Alhasil, kreativitas Mancunian (sebutan untuk anak Manchie) menjadi terpicu, terutama dalam hal masak – memasak.

Tantangan Mancunian belum usai. Kami masih harus berkutat dengan tugas akhir perkuliahan. Mahasiswa – mahasiswi PhD sedang dalam tahap review tahun pertama yang menentukan kelangsungan studi mereka ke tahun berikutnya. Tidak berbeda dengan mahasiswa Master yang berada pada masa genting penulisan disertasi (istilah umum di UK untuk tugas akhir mahasiswa S2 adalah disertasi, sedangkan S3 adalah thesis).

Pengumpulan tugas akhir yang sebagian besar dilaksanakan pada awal September membuat kami sedikit pontang – panting. Sementara sang Profesor berlibur musim panas, maka kami disibukkan dengan pengumpulan data. Tidak ada jeda waktu untuk liburan, kecuali memberanikan diri untuk ‘berlari’ sebentar dari kejenuhan menulis disertasi.

Namun, Ramadhan selalu membawa berkah. Dua belas ribu kata yang minimum harus kami tulis sedikit demi sedikit mulai terangkai. Studi literatur dan penjelasan analitik mulai berjalan ke arah yang benar. InsyaAllah, di Syawal nanti, kami akan merayakan dua kemenangan sekaligus. Menang atas godaan menahan nafsu selama sebulan, dan menang atas setahun penuh perjuangan di Universitas Manchester.

Memburu Nuansa Ramadhan

Manchester (1/8) – Satu Ramadhan 1432 bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 2011, tidak berbeda dengan penetapan Ramadhan di tanah air. Yang berbeda hanyalah suasana dalam menyambut puasa di kota Manchester.

Tidak seperti di tanah air, kota berpenduduk 392.819 jiwa ini terlihat ‘tak ada bedanya’ dengan hari – hari biasa. Tidak ada keramaian tak wajar di pusat kota, tidak ada nyanyian – nyanyian penyejuk kalbu dari masjid – masjid terdekat, apalagi pasar tumpah yang layaknya mulai membanjiri tempat – tempat strategis seperti di tanah air.

Kondisi demikian wajar adanya mengingat populasi umat muslim di kota ini hanya mencapai 9.1% dari jumlah total penduduk. Di sini, pusat kota baru akan sangat ramai ketika menjelang Boxing Day(1) atau Summer Sale(2). Alih – alih nasyid dan sholawat, dentangan lonceng gereja menandai setiap pergantian jam. Pasar tumpah baru akan ramai kembali ketika Natal tiba.

Budaya dan mayoritas, dua hal yang menentukan kebiasaan dan cara – cara unik dalam memperingati hari spesial di setiap bangsa. Mengingat hal ini, salah satu cara untuk mengobati kerinduan adalah memburu suasana di mana kaum minoritas berada.

Beruntung, letak perkampungan muslim tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, masjid yang cukup besar sudah dapat dijumpai. Paling tidak, sholat taraweeh akan diselenggarakan di Masjid Jamia ini. Menjadi penting, karena tidak semua masjid menyelenggarakan taraweeh dan ta’jil bersama, misalnya McDoughall Prayer Room atau masjid selatan milik kampus yang mengalihkan jemaahnya ke Masjid Central Manchester.

Sehari menjelang Ramadhan, masjid Jamia, atau juga dikenal dengan Victoria Park Mosque, terlihat mulai berbenah. Beberapa anak muda mengecat pagar masjid. Seorang pengurus masjid juga membersihkan dinding dan kasa – kasa di bangunan berusia 40 tahun ini.

Mengintip ruangan di dalamnya, Masjid Jamia memang tidak semegah Masjid Raya Mujahidin di Pontianak, tidak pula seunik masjid Jihad di Jalan Johan Idrus. Masjid ini tampak biasa, sebagaimana bangunan kotak berbata ala Inggris. Namun kubah berlambang bulan dan bintang-nya mampu menenangkan ummat muslim di sekitarnya.

Tidak kurang dari 7 menit berjalan kaki dari Masjid Jamia, terdapat toko bahan makanan muslim. Dikelola oleh pemilik dari wilayah Asia Selatan, toko berlabel Worldwide ini menyediakan aneka sayuran Asia, daging halal, beras hingga bumbu instan. Cukup menyenangkan, karena di sini mudah untuk mendapatkan sayur pare / pariak, bawang merah (atau disebut Indian Onion), pepaya mengkal, dan berbagai jenis bahan makanan ala Asia. Harga yang ditawarkan pun terhitung lebih murah daripada supermarket lainnya.

Menjelang puasa, Worldwide dipenuhi pembeli. Antrian counter daging mengular hingga ke pintu masuk. Sayur dan buah – buahan juga diserbu pada pembeli. Pos kasir juga dibuka di semua line. Ah, seperti sedang berada di tanah air.

Ya, meskipun minor, nuansa Ramadhan itu masih terasa sedikit di sini, mengobati kerinduan akan kekhuyukan berpuasa di tanah air.

(1) Boxing day adalah hari dimana hampir semua pusat perbelanjaan memberikan diskon besar – besaran, diselenggarakan setiap tanggal 26 Desember.

(2) Summer Sale adalah periode diskon pada musim panas.

Sehari menjelang Royal Wedding

Inggris tersulap kemegahan Royal Wedding 2011. Pasangan Catherine Elizabeth Middleton dan William Arthur Philip Louis akan mengakhiri masa lajangnya esok hari. London pun menjadi pusat perhatian dunia.

Sehari menjelang pernikahan akbar abad 21 ini, hampir setiap sudut kota London terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Ratusan turis dari dalam maupun luar UK berdatangan sejak tiga hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Mereka berharap dapat menjadi saksi hidup pernikahan salah satu garis keturunan bangsawan paling elit Inggris saat ini.

Westminter Abbey, tempat dimana pasangan ini akan dinobatkan menjadi suami istri telah dipadati manusia sejak H-2. Tenda – tenda mungil telah didirikan di sekitar gereja khusus acara keluarga kerajaan tersebut.

Beribu penonton the Royal Wedding terlihat antusias meski harus berhadapan dengan cuaca dingin kota London. Suhu yang sejak beberapa hari lalu mendadak turun tidak menghalangi keinginan warga untuk menyaksikan salah satu sejarah terbesar abad ini, pernikahan terbesar selama 30 tahun belakangan. Sebagian dari mereka bahkan datang dari bagian benua lain, seperti Kanada dan California.

Mengantisipasi membludaknya jumlah pengunjung pada tanggal 29 April esok, pemerintah kota London telah mempersiapkan penjagaan ketat. Pasukan berkuda dan sejumlah petugas keamanan telah ditempatkan di lokasi – lokasi keramaian. Beberapa lokasi dan jalur transportasi mulai ditutup sejak H-1.

Fasilitas- fasilitas umum tidak luput dari perhatian pemerintah. Toilet umum di sekitar spot keramaian telah dipersiapkan dengan cermat, terutama bagi para pengunjung yang menginap di tenda – tenda. Sedangkan transportasi publik masih akan beroperasi pada hari H, hanya saja beberapa jalur akan dialihkan melalui jalur alternatif.

Selain menyiapkan lokasi sepanjang jalur Istana Buckingham – Westminter Abbey, beberapa layar lebar juga telah disiapkan untuk menyiarkan secara langsung acara sakral tersebut, diantaranya ditempatkan di Hyde Park dan Trafalgar Square. Diperkirakan 2 miliar pasang mata akan menyaksikan pernikahan terbesar keluarga kerajaan selama 30 tahun terakhir ini.

Photo (courtesy : BBC tv)

when the Spring comes..

Tag

Pergantian musim secara resmi telah dideklarasikan oleh situs terkemuka prakiraan cuaca uk.weather.com pada tanggal 20 Maret lalu. Beberapa hari sebelumnya, bunga Iris Reticulata bermekaran menandai hampir datangnya musim semi. Sayang, keelokan si Ungu ini hanya bertahan tidak lebih dari dua pekan, berganti kecantikan daffodil yang menghiasi hampir seluruh taman kota.

Munculnya putik – putik mungil di awal musim semi tersebut menandai keceriaan Eropa yang sebentar lagi akan datang, bahkan sedang dimulai, saat ini. Cuaca cerah penuh  cahaya matahari telah diprediksi akan mendominasi pekan pertama musim semi.

Spring in the University of Manchester

Spring in the University of Manchester

Sebagaimana bunga, taman – taman juga mulai diramaikan oleh pengunjung. Lahan hijau kini tidak lagi kosong. Meski dahan – dahan pepohonan masih kerontang miskin daun, namun keindahan daffodil dan hangatnya matahari mampu menggugah keceriaan manusia di bumi barat ini.

Bersila di atas rerumputan, berkelakar sampai bermain permainan terbuka menjadi aktivitas menyenangkan saat ini, mengingat keberadaan taman dapat ditemukan hampir di setiap bagian dari kota ini. Kemuraman musim dingin telah usai. Jaket – jaket tebal mulai ditinggalkan, berganti cardigan tipis pembalut kulit. Boot2 tinggi kini bertukar sepatu datar ala spring, meski semi belum benar – benar datang.

Berada pada suhu minimal 8 derajat celcius berarti cukup aman untuk terbebas dari mantel wool, bahkan di malam hari. Meski suhu yang paling menyenangkan adalah berkisar antara 11 hingga 16 derajat celcius.

Kemampuan tubuh manusia untuk beradaptasi sungguh luar biasa. Dulu, di minggu pertama peralihan dari iklim tropis ke iklim sedang, tubuh ini masih harus berbalur jaket supertebal di suhu 14 derajat celcius. Tapi kini, setelah ditempa tiga bulanan berada pada suhu di kisaran nol derajat pada musim dingin lalu, maka 14 derajat adalah berarti hangat, layaknya suhu normal.

Cuaca boleh saja menghangat, namun kecepatan angin juga merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Di negeri yg sangat berangin ini, teriknya sinar matahari bisa bukan berarti apa2 jika dibarengi angin dingin berkecepatan 15 mph. Tubuh akan tetap saja menggigil.

Pergantian musim semi kemudian akan disusul dengan pergantian British Summer Time (BST) tepat pada hari Minggu terakhir bulan Maret, membuat rentang waktu antara UK – Indonesia tidak lagi 7 jam, tetapi kembali menjadi 6 jam. Sebuah ciri khas negara 4 musim.