Trip to Kuching, 2018

Tag

, , , , , ,

Oke, tema trip kali ini adalah “Pengabdian kepada Orang Tua”, hehee.. Ide awalnya hanya satu, pengin buat seneng ibuk, bude, bulek, dan ibu – ibu yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri. Sadarkah kita kalau dibalik ketegaran, ketabahan dan kekuatan ibu – ibu kita itu sesungguhnya tersimpan keinginan untuk beralih sejenak dari rutinitas harian sebagai orang tua? Oh ayolah, bercerminlah pada diri sendiri. Apakah kita sendiri cukup tabah dalam menjalani keseharian tanpa jeda sedikitpun, meski hanya sekedar ingin menikmati “me time”? Saya memberlakukan hal yang sama dengan ibu – ibu kita tersebut. They deserve it!

Perjalanan kali ini memang diperuntukkan untuk Ibu – ibu dan orang tua tercinta. Destinasi yang dipilih pun diatur sedemikian rupa agar bisa dinikmati, meski rencana cadangan tetap perlu dipikirkan mengingat cuaca yang mungkin agak tidak bersahabat, seperti yang akan diceritakan berikut ini.

Baik, kunci dari mengatur perjalanan yang terdiri dari 10 orang ini adalah segala sesuatu sebisa mungkin sudah dipesan jauh hari, misalnya tiket, penginapan dan rencana transportasi lokal. Ah, belum.. saya belum buka travel agent (nanti ya, hehe). Itinerary sudah beberapa kali diubah, mengikuti jadwal penerbangan yang sempat pending ke beberapa jam dari jadwal semula. Berbekal pengalaman dan riset awal ke destinasi utama yang memungkinkan di sekitaran kota Kuching serta bantuan beberapa orang teman, jadilah keberangkatan 4D3N tempo hari itu.

Siapa bilang Kuching itu kurang menarik? Buat saya, prinsip menarik dan tidak menarik itu adalah kita sendiri yang memutuskan. Sukses atau tidaknya suatu liburan itu tidak hanya ditentukan oleh destinasi saja, tetapi juga oleh faktor dengan siapa kita bepergian dan bagaimana kita mampu membangkitkan suasana di setiap kesempatan. Kebetulan sekali rombongan kali ini termasuk tipikal personal yang mampu menciptakan kegembiraan dan keceriaan di segala macam suasana, termasuk suasana muram akibat cuaca hujan dari kali pertama menginjakkan kaki di Bandara International Kuching, hingga berangkat pulang dengan penerbangan langsung KCH – PNK.

Awalnya memang tak terbayang bagemana semua destinasi utama dapat dicapai, melihat hujan betul – betul membasahi hampir seluruh bagian kota Kuching, dan mendung tak lah mau beranjak melingkupi seisi kota. Tetapi kemudian, percaya atau tidak percaya, semua destinasi utama khatam dijabani dengan semangat yang luar biasa superr. Senang rasanya melihatnya tertawa dan gembira hampir tanpa henti, hehe..

Trip dimulai dari Jumat sore dari Ponti dan tiba menjelang magrib sampai di hotel. Kebanyakan moda transportasi lokal yang digunakan adalah dengan taksi online, saya menggunakan Grab dengan 2 mobil (satu mobil untuk kapasitas 4 orang dan mobil lainnya dengan kapasitas 6 orang). Jenis transportasi ini mudah banget dan nyaman, hanya tunggu beberapa menit armada sudah datang, dan tak perlu lama menunggu siapa yang akan ambil kesempatan mengantar kami, hanya dalam hitungan detik. Mobil yang digunakan pun relatif nyaman dibanding taksi biasa. Overall, layanan taksi online di Malaysia ini hampir tak pernah mengecewakan, tak ada hidden fees dan pengemudinya juga kebanyakan ramah (kasi bintang lima mulu dah untuk pengemudinya, hehe).

Setelah kedatangan, selesai sholat magrib waktu Malaysia, tujuan pertama adalah Plaza Merdeka. Begitu sampai di tujuan, byurrr hujan deras sederas – derasnya mengguyur kota. Tak apalah, kami aman di ruangan tertutup alias mall, hehee. Makanan di food court nya juga lumayan oke, harganya masih wajar.

Hari kedua, karena tujuannya jauh dan banyak tempat yang akan dikunjungi, saya memutuskan untuk menyewa mobil van saja yang cukup untuk kapasitas 12 orang. Dari pengalaman yang lalu – lalu, saya jadi berprinsip lebih baik jika bisa bepergian bareng satu rombongan dalam satu kendaraan. Alasannya: pertama, memudahkan koordinasi dengan anggota rombongan; kedua, rombongan jadi terasa utuh tidak terpisah – pisah, hehe.. makin rame makin asyikk ;p Di hari kedua ini, tujuannya adalah Pasar Satok, Museum Kuching, Taman Anggrek, Masjid Raya Sarawak, dan Pantai Damai serta pemandangan Gn. Santubong (yang tertutup kabut mendung, wkwk). Kesemuanya sukses dikunjungi, ditambah bonus ke Spring Mall dan makan malam di waterfront.

IMG_20180208_224026_preview

Hari ketiga, jadwalnya adalah jalan menyusuri waterfront dari hotel hingga ke Jembatan Darul Hana, kemudian belanja oleh – oleh di sekitar Main Bazaar Street, nge-mall di Vivacity, dan makan malam. Tetapi berhubung hujan deras di pagi hari, jadi dibalik jadwalnya. Nge-mall dulu di sepanjang pagi, kemudian makan siang di Warong Nusantara, jalan pulang ke hotel, setelah sholat Dzuhur dan Ashar baru dilanjut menyusuri waterfront, cari oleh – oleh hingga ke Jembatan Darul Hana, dan makan malam di Top Spot Muslim Seafood.

Allah SWT memang Maha Penyayang yaa.. kalau saja pagi di hari ketiga itu tidak hujan, tentunya ga akan dapet pemandangan Jembatan Darul Hana yang paling oke di petang hari, sesaat sebelum adzan Magrib. Di saat itu betul – betul pas untuk berfoto, hari belum terlalu gelap namun udah dapet pemandangan lampu jembatan yang baru saja dihidupkan. Ah, top!! Ohya, satu info lagi, di mall Vivacity yang konon katanya salah satu yang terbesar di Kota Kuching, ada banyaaak toko – toko barang branded dengan harga yang oke punya. Kalau ibu – ibu, incerannya Kaison dan SSF, secara yang disenanginya adalah bebungaan. Karena di Kaison, walaupun palsu, kualitas bunga plastiknya masih oke, dengan harga murah pula. Nah kalau di SSF, harganya memang lebih mahal, tetapi penampakan bunga palsunya udah kayak bunga beneran, langsung kalap dah emak – emak (gpp asal bahagia) ;p

Nah, selesai belanja di Vivacity Megamall, kebetulan pak Sopir yang anterin kita ke Warong Nusantara ada beri rekomendasi tempat makan malam enak di sekitaran hotel. Ya itu, Top Spot! Secara ini lidah agak – agak kurang sesuai dengan kebanyakan masakan di Kuching, langsung lah tawaran rekomendasi tersebut dicaplok. Malamnya, dengan berjalan kaki serombongan 10 orang menyusuri jalanan menuju lokasi. Dan ya, si Top Spot sepertinya tidak pernah sepi pengunjung, hehe.. Harga lumayan oke, sebanding dengan harga murah di Warong Nusantara pas makan siangnya tadi. Budget makan sehari 100.000 IDR masih dapat tercapaiii, hihi..

Beres makan, beres belanja, beres jalan – jalan dan pepotoan. Hari terakhir tak perlu pergi jauh – jauh, tepat di sebelah Tune Hotel, ada Upside Down House alias rumah terbalik, hehee.. Jangan remehkan para orang tua ya, mungkin terkesan ga gaul, tapi cobalah bawa sesekali bersenang – senang di Upside Down House, dijamin ngakak guling – guling.. :p Usai puas bergaya mengikuti arahan pengarah gaya, dan berfotoan, kemudian waktunya pulang.

IMG_20180208_223530_preview

Alhamdulillah semua urusan lancar hingga sampai kembali ke rumah. Semua senang, meski agak capek – capek sedikit, hehe.. Terimakasiiih kepada semua pihak yang sudah membantu.. Besok kapan – kapan akan diatur lagi trip berikutnya ke destinasi lainnya.. Ohya, mau tau berapa total budgetnya per orang all in termasuk makan untuk 4D3N? Please do not hesitate to contact me directly, atau ntar ya tunggu soft opening Pipiew Travel & Co. ;p (Aamiin.. hihihii..) Tetap bahagiaa ya teman..muah..muah..

– Fie, Feb 8th 2018 –

Iklan

Penyiar Radio “wannabe”

Tag

, , , , , ,

Hi! I’m coming back! To write some stories in this blog, hahahaa..

Setelah petang tadi, tetiba teringat kenangan 17 tahun yang lalu (e buset, udah lama banget yak, kayak baru kemaren, wkwk). Berawal dari celotehan Jumat lalu, ketika teman-teman di kantor sibuk membahas lokasi jualan sebuah stand (a.k.a. gerobak) makanan. Salah satu ancer-ancer (penanda) lokasi tersebut adalah tempat sebuah stasiun radio berada. Kebetulan, duluu sekali pernah menjadi host di salah satu programnya, meski hanya bertahan beberapa hari karena kemudian mendapat panggilan penerimaan kerja.

Nah, dari situ, khayalan ini kemudian me-review mundur hal nge-host tersebut. Teringat ketika “karir” menjadi penyiar radio bermula. Bertahun sebelumnya, tepatnya 19 tahun yang lalu, “karir” tersebut dimulai dari ajang radio malam minggu di kampus hijau Taruna Bumi Khatulistiwa (cieh, masi inget julukannya, wkwk). Ceritanya, sebagai seorang Kepala Seksi yang membidangi bidang Kesenian (ehm), salah satu program inovatif yang disodorkan adalah pembacaan pesan-pesan dan permintaan (request) lagu dari siswa/siswi satu sekolahan. Waktu itu, malam minggu menjadi satu – satunya malam yang terbebas dari tekanan ketegangan ala – ala semi militer (katanya).

Mekanismenya begini, di hari Sabtu siang pada jam istirahat sekolah, bintara/perwira yang bertugas hari itu akan mengumpulkan pesan – pesan siswa/siswi yang disampaikan dalam secarik kertas. Ohya, bintara/perwira adalah murid jaga kelas II dan III yang bertugas mengatur jalannya acara makan pagi/siang/malam dalam sehari. Tugasnya bergantian, dan seperti biasa setiap murid pasti mendapat giliran menjadi perwira/bintara. Perwira/bintara ini bukan penyiar radionya lho yaa. Oke, kembali ke hal penyiar radio, setelah dikumpulkan, pesan – pesan tersebut akan diseleksi untuk dibacakan pada saat acara makan malam. Seleksi ini dilakukan mengingat waktu makan malam yang terbatas, ditambah pemutaran lagu yang diminta, sehingga kurang lebih dalam waktu 15 hingga 30 menit acara kirim – mengirim lagu harus selesai.

Nah, pada suatu ketika, saat mendapat giliran membacakan pesan – pesan tersebut, tiba – tiba keinginan menjadi penyiar radio menjadi tersalurkan. Kalau biasanya di setiap hari Kamis mulut ini serasa dikunci karena English Day (wkwk), nah pada malam Minggu ini mulut justru terasa tak dapat berhenti bicara. Singkat cerita, acara nge-host tersebut berjalan lancar. Dan justru mendapat pujian dari beberapa senior, yang mengatakan bahwa ini suara udah kayak penyiar radio beneran, wkwk..

Kemudian masih saat SMA, suatu ketika radio local Kalbar menyelenggarakan kompetisi penyiar khusus untuk pelajar. Caranya, setiap kandidat akan diajak siaran dengan penyiar beneran pada satu malam. Kemudian bersaing dengan kandidat lainnya. Jika berhasil lolos, akan mendapat kesempatan menjadi penyiar selama satu minggu. And I did it. Kebetulan saat itu bertepatan dengan minggu libur sekolah. Ketika masuk kembali ke asrama kampus, seorang adik kelas langsung bertanya perihal penyiaran tersebut dengan matanya yang berbinar – binar dan terlihat kagum (wkwk, ge err).

Okey, masa SMA telah berlalu. Menginjak masa perkuliahan, di kampus yang mana mahasiswa Kalbar menjadi minoritas dan kata orang – orang ini termasuk kampus favorit, eh, hehe… (STT Telkom yang sekarang telah bertransformasi menjadi Universitas Telkom — bangga) ternyata bakat nge-host tersebut tidak lalu menjadi hilang. Entahlah waktu itu kenapa pede amat yak apply – apply jadi penyiar di radio kampus itu, padahal siapa gw…wkwk.. Nama radionya WFM, cieh masi inget, tapi kepanjangannya lupa, kekeke.. Ini radio sebenernya milik anak Elektro Telekomunikasi, jurusan sebelah, tapi partisipan boleh dari jurusan mana aja, jadi tak salah kalau ai ikut ambil bagian.

Waktu itu mungkin punggawa radio kampus ini tidaklah banyak, dan kebanyakan anak Elektro. Memang sudah menjadi prinsip bahwa di kampus tidak akan hanya belajar dan belajar dan belajar, jadi sedari awal memang berniat mengikuti ekstra – ekstra di luar pendidikan formal belajar – mengajar tersebut. Bedanya dengan teman – teman lain, mungkin tidak banyak yang berfikir bahwa menjadi penyiar radio adalah termasuk kegiatan ekstra yang menyenangkan, hahahaa..

Membawakan acara di setiap malam Selasa bertajuk “News & Information” (kekekekk), di hari Selasa pagi adalah jadwal membeli koran untuk bahan siaran, kalau lagi bokek kadang beli koran di sore hari dimana koran turun harga jadi Rp 1000,- wkwkwk.. Nah, dampak baik dari hal ini adalah, terkadang menjadi panduan informasi terkini untuk teman – teman perempuan di asrama. Mahfum kalau kaum wanita biasanya tidak setanggap kaum pria dalam hal mengikuti berita terkini, nah karena paling tidak seminggu sekali mencari bahan untuk siaran maka biasanya teman – teman bertanya perihal berita terkini. Contoh, saat peristiwa 11 September 2011, berkali – kali diminta teman – teman untuk menceritakan detil kejadian tabrakan pesawat dan ledakan di US itu, termasuk opini – opini yang mengikuti di belakangnya.

Tak disangka lagi, ternyata teman – teman ada yang menjadi pendengar setia, wkwkwk.. teman sekelas sudah tentu donk ya, teman satu asrama terutama satu lantai pasti ngikutin. Jadi sebelum jadwal siaran di jam 7 malam, sehabis magrib biasanya sudah ngider di sepanjang lorong, nagihin kertas – kertas berisi pesan dan salam dan request lagu dari teman – teman, hehe.. Jadi lumayan terkenal di antara teman – teman kamar satu lorong, wkwk.. (bangga).

Terus.. terus.. sewaktu penjaringan panitia MABIM alias perploncoan anak Informatika (IF), si mas penanyanya bilang, “kayaknya ngga asing dengan suaranya”, gyaaa…berarti banyakk yang dengerin suara gw…wkwkwk… Waktu itu mood juga lagi bagus dan menjawab semua pertanyaan dengan baik, sehingga sewaktu penyusunan panitia alhasil ditempatkan menjadi Seksi Acara, ini adalah seksi yang paling tenarrr (meski akhirnya harus rela berpura – pura menjadi “mahasiswa baru” gadungan, wkwkwk… yang ini panjang lagi ceritanya, haahahahaa..pengalaman..pengalaman..).

Oke, perihal penyiar radio di Kampus berakhir sampai WFM kolaps, hahaa.. The next career adalah sewaktu sudah selesai kuliah, kembali ke kota asal, dan bingung mo ngapain sambil – sambil apply lowongan kerja. Daripada bengong, ikutlah audisi penyiar radio yang tidak terlalu terkenal tapi lumayanlah waktu itu, hehe.. Masih seputar membawakan acara news & information, beberapa kali sempat mengisi acara di radio tersebut (lupa nama radionya, hahahaa). Setelah itu, karir ini mulai ditinggalkan, tak lagi pernah mencoba mengisi acara radio, streaming sekalipun. Udah gini, agak kangen sih, ntar deh coba – coba lagi. Eh, pernah dink kepikiran, pengin punya Radio Pemprov, wkwkwk..untung ga jadi disampaikan, keekekekee.. mending buat radio streaming sendiri ya, “Pipiew Radio” gyaa.. atau ngisi iklan di spotify, gyaahahaa.. mangkanya ga kaget juga pas ada teman yang menggoda sebagai pengisi suara ad spotify, padahal beliau belum tahu kalau begini – begini pernah merintis karir menjadi penyiar acakadul, wkwkwk…

Kenangan yang begini – begini yang bikin hidup menjadi penuh warna, walau di suatu masa mungkin hidup pernah terasa hanya hitam dan putih, hingga terlupa kalau ada warna lainnya. Ada baiknya bernostalgia dengan masa lalu, mengingat kejadian – kejadian lucu dan kekanakan di waktu dulu. Sepertinya bisa dijadikan pemelihara suasana hati dan penyemangat masa depan, hihihhi.. Caiyo!! ;p

Fie, Jan 27th 2018

Trip to West Sumatra

Indonesia is not only Bali or Lombok, but we have also West Sumatra as one of great destinations for vacation. This is my second time coming here, and I (still) feel amazing of the beauty of the nature and culture. If you have any plan to visit Padang or Bukittinggi, here is some advices for you to consider (it’s my itinerary, actually 😜) :

Day 1:
– Flight to Minangkabau Airport (Padang). l
– Rent a car (or online taxi) to Bukittinggi, it takes 1,5 hours at night or approx 2 hours during the day.
– Take a rest in a hotel or homestay near city centre (because my flight arrived at night, I can’t do many things but sleeping ^^) – – I decided to stay at Bukittinggi for 2 nights and in Padang also for 2 nights.

Day 2:
– Trip to Maninjau Lake, you can enjoy view from above (but you may also going down to the Lake, I didn’t do that ‘coz worried of running out of time).
– Going back to Bukittinggi for lunch.
– Trip to Harau Valley. It is an area of canyons and rock formations with forest and rice fields in between. There are some waterfalls on the cliffs.
– Going back to Bukittinggi. You can stop by at Payakumbuh for the famous Dangung – Dangung Sate Padang.

Day 3:
– Prepare to check out in the morning.
– Visit Panorama for scenic view of Ngarai Sianok & Goa Jepang around Bukittinggi city centre (it costs IDR 15,000/person). There are some craft shops inside Panorama which have good price rather than in the market near Jam Gadang. You can buy shirts, embroidery clothes, miniatures, paintings, and so on.
– Take some pictures of the famous Jam Gadang. You have free time in this city centre until lunch time. A recommendation Padang dishes is Selamat restaurant. Its rendang is very delicious, the best in town. Just don’t be late, after noon there will be no rendang anymore.. ;p
– After lunch, we’re heading to Batusangkar for visiting Istano Basa Pagaruyung. It is a royal residence of the former Pagaruyung Kingdom. Try to wear its traditional clothes for only IDR 35,000 for adults & IDR 30,000 for children. Take some photos in front of and inside the palace. You can get around the courtyard of the palace by using car tours (cost only IDR 5,000/person).
– You can leave Batusangkar to Padang before dusk, and have dinner in Padang.

Day 4:
– After enjoying mountain view at the day before, now it’s time for sand & beaches!! ^^
We’re heading to Bungus Bay. There are some travels offering packages for day trip to the islands. The average cost is IDR 250,000/person including lunch, transport to two or three islands (by boat), snorkel mask, and snacks during the trip.
– It is a small archipelago consists of some islands. The famous one is Pulau Pagang. It takes 50 minutes by boat. It has white sands and snorkeling spot just near the beach, and also wonderful view with the blue sea and sky, in front of other islands. A perfect combination! really!! There were not many tourists since this destination is quite new, but the scenery is just like Gili Trawangan!! Me likes this islands so much.. much.. much..
– Wait, don’t change your clothes. We still have another island to visit. It is Pasumpahan Island. Even though there is no spot for snorkeling, but this island has also magnificent view. The sea colour graded from soft blue, tosca, and dark blue, with lots of tree on the island. Swimming in the beach is a good option.
– Going back to the port and preparing to coming back to the city for dinner. I recommend seafood restaurant in front of Taplau (Padang beach). Its barbecue grill shrimp and crab in padang sauce are very good. Hm, yummy.. Ah yeah, you should try es durian (durian ice). It is durian blend with shaved ice. It tastes good!

Day 5:
– This last day will depend on your flight schedule. In my trip, my departure flight was in the late afternoon. So, I have a half day to explore the city. I visited Grand Mosque of West Sumatra. The exterior is wonderful. It has traditional touch, and nowadays it becomes one of West Sumatra iconic buildings.
– Visit Taplau near city centre. It is a long beach in the west part of Padang. Taplau is stunning beach with rocks jutting out into the sea. Taking some memorable photographs would be perfect!
– Lastly, if you still have time, you can enjoy a new mall in the city. It’s Trans Mart. You can find food & drinks, groceries and fashion, or play mini roller coaster and other games in Mini Trans Studio.

That was all. This is one of my favourite trip during the year. Hope the next vacation will be great or better than this. One thing you should remember when having a vacation is you can expect less or more, but when you are already in the trip, whatever might happen, just enjoy every moment. Have a good day! and have a nice vacation.. Jangan lupa bahagia 😉

Amazing Ijen

Tag

, , , , , , , ,

I said, the Blue Lake -- Kawah Ijen

 I said, the Blue Lake — Kawah Ijen

Melintasi beberapa kabupaten: Pasuruan,Probolinggo dan Bondowoso sepanjang siang dengan beberapa kali perhentian untuk makan siang, snack sore (bakso & mie ayam, kalaulah bisa disebut snack) dan makan malam, akhirnya tibalah di Kalisat, tempat kami bermalam.

Oups, sebentar..sedikit membahas mengenai jalan yang kami lalui menuju Ijen. Jalanannya gelap dan sunyi. Hanya ada pepohonan berbatang besar yang menandakan cukup tuanya pohon-pohon tersebut. Ditengah kegelapan malam ini, mas Pemandu bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya dulu ketika mendaki beberapa gunung di Indonesia. Memang sungguh pendaki betulan ketika mudanya dulu, eh sepertinya sampai sekarang. Awalnya bermula ketika obrolan membahas mengenai satwa liar yang ada di Sempu, pulau yang kemarin kami lewati. Ternyata, sebetulnya, di Pulau tersebut masih terdapat banyak satwa liar, babi hutan, rusa, hingga macan. Tapi tak satu punterlihat kemarin, rasanya. Alasannya adalah bahwa telah menjadi perilaku normal jika hewan cenderung akan menghindari jalur manusia, mereka tidak suka keramaian.

Nah, berawal dari macan, cerita kemudian berkembang ke pengalaman mendebarkan si Mas Pemandu yang dulu konon katanya pernah bertemu macan di salah satu gunung yang didakinya bersama dua orang teman lainnya. Cerita yang digambarkan dengan begitu runut, dilengkapi gambaran perasaan yang dialami waktu dulu, diceritakan oleh orang pertama pula, membuat kami (saya) serasa ikut berada dalam scene masa lalu itu. Ikut-ikut merasa cemas, berdebar, hingga cerita yang happy ending itu berakhir. Cerita-cerita nyata seperti ini sepertinya menjadi bonus tambahan pada paket trip kami. Beruntung dipandu oleh survivorbetulan. Baca lebih lanjut

The Marvellous Bromo

Tag

, , ,

1975155_10204380752712267_604960250473054992_nLelahnya tubuh setelah jungle trekking di Sempu tadi membuat kami terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil. Mas pemandu wisata (boleh disebutin namanya ga ya? heu) terpaksa harus berjuang sendiri ketika jalur yang semustinya dilalui mendadak ditutup, sehingga harus melewati jalan alternatif (maafkan kami, huk). Ketika terbangun udara sejuk terasa menusuk tulang. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah kasur…oh,kasur..(dan selimut tebal..). Tiba hampir tengah malam, setelah berberes sekedarnya kami segera tidur, lelap, hingga pukul 3 pagi ketika Hard Top Jeep tahun 80an siap menjemput kami untuk mengeksplorasi pegunungan yang amat sangat tersohor itu.

Kabut di “pelataran” Bromo tampak tebal.Menurut keterangan Bapak si empunya Jeep, terkadang kabut bisa menjadi sangat-sangat tebal hingga jarak pandang hanya sampai 1 meter. Tapi toh mereka hampir tak pernah tersesat, jelas karena sudah terbiasa dan hafal dengan rute puncak Penanjakan, tempat yang kami tuju, sebagai bagian dari keseharian. Dulu, konon kabarnya, ketika muda si Bapak terbiasa berjalan kaki dari kaki Bromo ke puncak gunung yang berjarak kira-kira 18 km menanjak, dan ditempuh dalam waktu hanya 3 jam! Bandingkan dengan kecepatan kami ketika melintasi Sempu kemarin yang kurang lebih hanya 1,5 atau 2 km namun kami tempuh dalam waktu 2 jam. Subhanallah. (Meski dilakukan di musim penghujan — excuse tuh, haha). Baca lebih lanjut

Sempu, The Hidden Paradise

Tag

, , , ,

IMG_0139

…there ain’t no journey what don’t change you some. (David Mitchell, Cloud Atlas).

 

Keputusan memanfaatkan jatah cuti untuk sekedar melakukan perjalanan tidaklah pernah menjadi keputusan yang salah. Trust me.

Tepat tengah malam, ketika trip-3-hari ini dimulai. Tidur sore tadi lumayan membantu mengembalikan energi dan semangat positif setelah penerbangan yang sepertinya tidak melelahkan itu ternyata cukup melelahkan. Sidoarjo, kota yang menyenangkan dan menenangkan, jelas selain hal lumpurnya yang tak kunjung tuntas. Disambut dengan kehangatan keluarga dari seorang teman, keramahan selalu menjadi ciri khas mereka yang masih terbiasa dekat dengan tradisi, menikmati keliling kota dan suguhan kuliner yang tak pernah henti, bahkan tanpa menyisakan jeda untuk merasa lapar. Ah, terima kasih.

Sempu

Tujuan utama yang pertama adalah Pulau Sempu. Butuh waktu hingga subuh untuk sampai ke Pantai Bajul Mati. Istirahat, sholat, sarapan di tepi laut sambil menunggu pagi sebelum trekking pertama kami mulai. Pagi menjelang tepat ketika rintik hujan yang semula menyambut kedatangan kami beranjak menjauh, menyisakan hanya mendung yang bergelayut. Sendang Biru, pantai nelayan yang berjarak beberapa kilometer dari Bajul Mati, di sini penyeberangan ke Sempu diakomodir. Di Pulau Sempu nanti, kami akan melakukan trekking ke sisi lain Pulau, tempat dimana Segara Anakan berada.

Seorang ranger memandu perjalanan kami menyeberang dan melintasi Pulau. Sendang Biru – Sempu memakan waktu hanya beberapa menit dengan perahu. Beberapa menit itu terasa worth, mengingat air laut yang jernih mampu membantu penglihatan hingga menembus dasar laut. Belum lagi jejeran bakau yang memukau di sisi Pulau. Wow, belum-belum sudah membuat kami terpesona! Baca lebih lanjut

Momen

Kita sebagai manusia, akan selalu punya momen terindah di setiap stage / rentang waktu dalam hidup. Momen itu, sangat erat kaitannya dengan keberadaan teman, keluarga, sahabat, pendamping, kolega, yang berada di sekitar. Satu momen tidak akan pernah tergantikan oleh momen yang lain, meski keadaannya terlihat persis. Satu momen adalah keunikan tunggal yang akan abadi jika (dan hanya jika) terpatri begitu dalam, dalam ingatan-ingatan di luar kepala; yang sari pati keabadiannya telah mengendap demikian tebalnya hingga cukup di-kuarkan dengan sentuhan ringan elemen pemicu munculnya kenangan.

Hm, bicara momen berarti bicara stage. Stage sendiri pun sulit didefinisikan dalam rentang waktu yang tetap. Ia memang tetap: tetap bervariasi. Sebagai contoh, stage kenangan di LIA (sebuah lembaga bahasa) berkisar 3 bulan, sedang stage di IALF (lembaga bahasa – yang lain) adalah 1,5 bulan. Meski berbeda rentang, namun keduanya menyimpan momen – momen yang sama hebatnya. Keduanya menciptakan euforia unik ketika dikenang. Keduanya mampu mengukir senyuman (bahkan tawa) ketika diingat. Dan keduanya, terlalu berharga untuk dilupakan.

Kualitas dari kenangan tersebut pun sejatinya adalah kita yang menentukan. Saya, punya stage yang beragam (Anda pun tentunya). Setiap stage itu tidak sepenuhnya saya ingat. Ada ruang-ruang tertentu dalam ingatan yang menempatkan dan mengkategorikan stage-stage tersebut. Kalau saya, 95% kenangan berada dalam ruang gembira, dan hampir tak punya tempat untuk ruang gelisah. Itulah kenapa, jika saya menilik ke belakang, meninggalkan masa kini untuk melihat kembali yang telah lalu, yang ada adalah “Hidup saya bahagia!”. Efeknya bombastis, mampu mengembalikan optimisme dalam hidup saya (yang kadang-kadang meredup). Ketika menilik itu, saya biasanya menemukan sumringah bersama teman-teman, canda saya dengan mbakyu-mbakyu, kekonyolan yang acapkali diimplementasikan tidak pada tempatnya. hahha..

Maka, masa lalu tidak selalu untuk dilupakan, tetapi ada bagian-bagian berkualitas yang sepatutnya dipertahankan untuk dikenang, lewat media apapun: foto, tulisan, benda unik (selain memori di otak yang kapasitasnya terbatas). Karena bagian-bagian berkualitas tersebut akan mampu mengembalikan energi positif dari tubuh yang sempat meluntur..

My Speech*)

Tag

, , , ,

Ladies and Gentlemen, Distinguished Guests,

On behalf of DET Master Scholar awardees, I am honored to speak in front of you at the very end of DET program granted by DSF World Bank and its partners.

It has been a long journey for us and also a very short experience at the same time. A long journey of doing our assignments, writing dissertation and dealing with university stuff. But also a too short period to explore everything about Britain, including its beautiful places, kindly people, fascinating history, public facilities (and off course the great boxing days J).

Ladies and gentlemen,

Being DET scholars give an important meaning for us. We have experienced many things since the first time we arrived in the UK. The first lesson we learnt was the UK learning system. Most of universities combine theory and case study in their lectures. This is a good point for us because we may apply our job experiences within the framework which is taught in the class session. On the other hand, the universities may enrich their scientific study with our real case study.

As a representative from local government, I learned how to analyze socio-economic development project in global lenses that may support strategic decision in local government, specifically for province outside Java. I also learned that decentralization should be supported by many aspects, including technology. For example, information technology may be applied as an important means in delivering information from government to public, as well as between central and local government in order to achieve the goal of good governance. At the same time, technology may also strengthen decentralization program, even though there is a need to review the concept of decentralization itself in Indonesia for more comprehensive and on the right target. This is the second lesson that I got. Baca lebih lanjut

It’s done, finally..

Perputaran waktu terasa begitu cepat berlalu bak hembusan angin kencang tak berjeda. Episode “Manchester” kini telah berakhir. Mengulang kembali pengalaman setahun belakangan rasanya tak akan pernah bosan. Mengingat cuaca musim gugur dengan suhu udara yang mulai menurun ke level belasan derajat sesaat sebelum ditinggalkan kemarin. Ditambah sebelas hari lawatan ke negeri Eropa kecil sebelumnya. Dan periode yang terasa kilat setelah tugas akhir disertasi dikumpulkan.

‘Akhir’ ini menjadi sangat menyenangkan ketika mengenang daftar panjang bahan bacaan wajib perkuliahan, apalagi membayangkan batasan jumlah kata yang harus ditulis di setiap akhir semester untuk masing – masing mata kuliah, demi sebuah gelar Master. Jika boleh berpendapat, ternyata bersekolah di luar negeri sendiri bukan semata demi mengejar gelar M.Sc atau MA, tetapi juga belajar mengerti kehidupan, kebiasaan dan aturan di negara lain, membandingkannya dengan kondisi ‘lumrah’ ala kita, dan kemudian mengevaluasi mana kebiasaan baik yang mungkin diterapkan di tempat kita bermula sebelumnya.

Tahap menerapkan tersebut memang gampang – gampang sulit. Alih – alih mengajak orang lain untuk ikut serta mengubah kebiasaan lama, yang ada malah diri kita yang dianggap aneh. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu, ketika sebagian besar hati dan pikiran saya masih tertinggal di kota bung Alex Fergusson.

Ceritanya, saya sedang menemani Ibunda berbelanja di sebuah supermarket terlama di kota Pontianak tercinta. Ketika membayar di kasir, secara spontan saya memasukkan sendiri barang – barang belanjaan yang sudah di-scan ke dalam plastik yang terlihat disediakan di ujung meja kasir. Sejak saya menyentuh sendiri plastik – plastik tersebut, si petugas kasir terlihat keheranan dan entah berkata sesuatu kepada saya. Tetapi karena kebiasaan membungkus barang belanjaan yang harus cepat, saya pun tak menggubris tatapan heran petugas tersebut.

Sampai akhirnya, Ibunda saya tersenyum menahan geli sambil bertanya, “Dek, lagi ngapain? Masih keinget kebiasaan disana ya?”. Saat masih mencerna ucapan Ibunda, seorang petugas supermarket lainnya merampas plastik yang saya pegang tanpa berucap permisi atau bahkan tersenyum. Barulah saya sadari, ah mungkin saja si petugas tersebut beranggapan saya telah mengambil pekerjaan dan tanggung jawabnya. Maksud hati ingin mandiri, tapi orang lain butuh pekerjaan untuk melayani.

Perbedaan – perbedaan seperti ini kadangkala membuat kerinduan akan kehidupan di negeri orang menjadi semakin terasa. Yang jelas, bersekolah di luar negeri sangat jauh berbeda dengan bersekolah di luar kota. Maksud saya, katakanlah tidak sedikit anak muda daerah yang menuntut ilmu di kota besar, misalnya Bandung, Yogyakarta, atau Jakarta. Atmosfer lingkungan pendidikannya jelas berbeda dengan berkuliah di kota sendiri. Namun pendidikan di luar negeri terbukti memicu independensi diri secara lebih sempurna, dan perluasan sudut pandang yang tidak lagi terkungkung dalam konteks nasional apalagi lokal. Saya dulu hanya bisa bermimpi ingin menginjakkan kaki di Inggris, Alhamdulillah mimpi itu telah menjadi nyata setahun yang lalu.

18 hours fasting feat writing dissertation

Menjalani puasa Ramadhan di Eropa mempunyai tantangan tersendiri. Kalau di Indonesia umumnya kita berpuasa sekitar 13.5 jam, katakanlah sejak pukul 04.34 hingga 17.57. Dan 15 hingga 16 jam di Mesir. Maka di Manchester, puasa Ramadhan kali ini diawali dengan hampir 18 jam menahan lapar, dari imsak pukul 3:16 hingga berbuka pada pukul 21.06.

Rentang waktu puasa ini lebih lama dari tahun sebelumnya, mengingat puncak summer atau musim panas baru saja berlalu. Kabar menggembirakannya adalah rentang waktu ini akan semakin memendek hingga akhir bulan Ramadhan nanti. Diperkirakan akan menjadi 2 jam lebih pendek atau sekitar 16 jam puasa.

Meski demikian, Alhamdulillah, cuaca Eropa yang cenderung dingin, berkisar antara 11 hingga 23 derajat celcius, membuat 18 jam tersebut tidaklah terlalu berasa berat. Berbeda dengan 40 atau 50 derajat celcius di Kairo. Atau suhu kota Pontianak yang berkisar antara 23 hingga 33 derajat celcius.

Niat ikhlas adalah kunci utama menjalani shaum kali ini. Kami diharuskan beradaptasi dengan pola makan yang tak biasa, serta mengatur jarak waktu antara makan malam dan sahur agar metabolisme tubuh tidak terganggu. Belum lagi soal selera makanan yang juga harus diatur sendiri. Tidak ada nasi padang atau warung tegal di pinggir jalan. Alhasil, kreativitas Mancunian (sebutan untuk anak Manchie) menjadi terpicu, terutama dalam hal masak – memasak.

Tantangan Mancunian belum usai. Kami masih harus berkutat dengan tugas akhir perkuliahan. Mahasiswa – mahasiswi PhD sedang dalam tahap review tahun pertama yang menentukan kelangsungan studi mereka ke tahun berikutnya. Tidak berbeda dengan mahasiswa Master yang berada pada masa genting penulisan disertasi (istilah umum di UK untuk tugas akhir mahasiswa S2 adalah disertasi, sedangkan S3 adalah thesis).

Pengumpulan tugas akhir yang sebagian besar dilaksanakan pada awal September membuat kami sedikit pontang – panting. Sementara sang Profesor berlibur musim panas, maka kami disibukkan dengan pengumpulan data. Tidak ada jeda waktu untuk liburan, kecuali memberanikan diri untuk ‘berlari’ sebentar dari kejenuhan menulis disertasi.

Namun, Ramadhan selalu membawa berkah. Dua belas ribu kata yang minimum harus kami tulis sedikit demi sedikit mulai terangkai. Studi literatur dan penjelasan analitik mulai berjalan ke arah yang benar. InsyaAllah, di Syawal nanti, kami akan merayakan dua kemenangan sekaligus. Menang atas godaan menahan nafsu selama sebulan, dan menang atas setahun penuh perjuangan di Universitas Manchester.