Amazing Ijen

I said, the Blue Lake -- Kawah Ijen

 I said, the Blue Lake — Kawah Ijen

Melintasi beberapa kabupaten: Pasuruan,Probolinggo dan Bondowoso sepanjang siang dengan beberapa kali perhentian untuk makan siang, snack sore (bakso & mie ayam, kalaulah bisa disebut snack) dan makan malam, akhirnya tibalah di Kalisat, tempat kami bermalam.

Oups, sebentar..sedikit membahas mengenai jalan yang kami lalui menuju Ijen. Jalanannya gelap dan sunyi. Hanya ada pepohonan berbatang besar yang menandakan cukup tuanya pohon-pohon tersebut. Ditengah kegelapan malam ini, mas Pemandu bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya dulu ketika mendaki beberapa gunung di Indonesia. Memang sungguh pendaki betulan ketika mudanya dulu, eh sepertinya sampai sekarang. Awalnya bermula ketika obrolan membahas mengenai satwa liar yang ada di Sempu, pulau yang kemarin kami lewati. Ternyata, sebetulnya, di Pulau tersebut masih terdapat banyak satwa liar, babi hutan, rusa, hingga macan. Tapi tak satu punterlihat kemarin, rasanya. Alasannya adalah bahwa telah menjadi perilaku normal jika hewan cenderung akan menghindari jalur manusia, mereka tidak suka keramaian.

Nah, berawal dari macan, cerita kemudian berkembang ke pengalaman mendebarkan si Mas Pemandu yang dulu konon katanya pernah bertemu macan di salah satu gunung yang didakinya bersama dua orang teman lainnya. Cerita yang digambarkan dengan begitu runut, dilengkapi gambaran perasaan yang dialami waktu dulu, diceritakan oleh orang pertama pula, membuat kami (saya) serasa ikut berada dalam scene masa lalu itu. Ikut-ikut merasa cemas, berdebar, hingga cerita yang happy ending itu berakhir. Cerita-cerita nyata seperti ini sepertinya menjadi bonus tambahan pada paket trip kami. Beruntung dipandu oleh survivorbetulan.

Baik, kembali ke Kalisat. Kami harus melewati beberapa portal dan pos penjagaan sebelum sampai di penginapan. Di pos pemberhentian pertama, adalah satu hal yang saya ingat dengan pasti, dan akan selalu saya simpan dalam ingatan, yaitu ketika melihat langit Kalisat di malam hari. Lebih seperti mengamati gugusan bintang dengan refraktor Bamberg di Bosscha. Langitnya begitu jernih. Semua bintang seperti berkeluaran, berlomba menghiasi malam. Belum lagi, pucuk-pucuk pohon pinus yang indahnya luar biasa. Bayangkan, menatap langit cerah berhias penuh bintang dengan latar dedaunan pinus! Masha’Allah, indahnya sulit diungkapkan dengan sekedar kata-kata. Bahkan hanya dengan menatapnya dari balik kaca saja sudah membuat sedemikian terkagum-kagum, apalagi jika punya kesempatan untuk menatapnya langsung, berbaring atau duduk di pelataran, memandang hanya dahan pinus, dedaunan, bintang, langit. Ah, impian! Memandangnya itu seperti merasakan ketenangan, sekaligus keindahan, dan juga ke-Maha Besar-an, tepatnyamarvellous!

Melihatnya itu seperti tak ingin melihat yang lain, kepala seperti tak mau berpaling, hanya ingin terus-terusan menengadah ke atas, memandang langit-langit alam. Di titik ini, manusia terasa begitu kecil. Bayangkan di luar sana, bintang-bintang yang indah itu adalah bagian dari tata surya lain, galaksi lain, yang jauhnya bertahun-tahun cahaya, dan besarnya berkali lipat matahari kita.

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” Ar-Ra’d:2.

Kalau bukan karena lelah, dan tuntutan untuk mengistirahatkan diri sebelum trekking pamungkas yang dimulai dini hari nanti, hampir pasti malam ini akan dihabiskan dengan memandangi langit Kalisat saja. Tetapi, keinginan itu harus disimpan, besok Ijen pasti tak kalah menarik.

Pukul 2 dini hari, dengan berkendara kami menuju kaki pegunungan Ijen. Dari sana, rute 3 kilometer siap ditempuh. Waktu itu langit masih gelap, kerlip bintang masih berpendar indah. Tanjakan terasa agak melelahkan, tapi terhibur dengan keindahan langit malam. Kami berjalan tidak terlalu cepat, sambil mengatur nafas hingga pendakian tidak terasa terlalu berat. Sesekali, kami didahului penambang belerang dengan keranjang kosong dipundaknya. Sesekali pula kami menjumpai patok batas antar Kabupaten. Oh ya, Ijen ini terletak di antara dua Kabupaten: Bondowoso dan Banyuwangi, unik ya?

Setelah melewati dua kilometer pertama, pagi mulai menyingsing. Kami berhenti sejenak di Pos peristirahatan, sekedar untuk menghangatkan diri dengan teh panas dan sarapan mi instan, sambil menunggu kabut menghilang supaya mendapat scenery yg indah di atas nanti. Beberapa pendaki lain juga terlihat memenuhi warung di pos perisitrahatan tersebut. Sebagian hendak naik, seperti kami, sebagian lainnya sudah akan turun. Mereka yang di awal pagi ini sudah turun biasanya sehabis hunting Blue Fire, fenomena api biru yang hanya ada dua di dunia! Satu di Meksiko, dan satu di Ijen! Dan coba googling dengan kata kunci “blue fire crater”, hanya lokasi Ijen yang terpampang di halaman pertama mesin pencarian Google, bangga ya? Hehe..

Well, sebetulnya apa sih Blue Fire itu? Saya juga belum pernah melihat secara langsung (semoga di trip berikutnya). Jadi, Api Biru yang ada di Kawah Ijen dihasilkan dari pembakaran gas sulfur di kawah yang masih aktif dengan temperatur hingga 600 derajat Celcius. Dan kabarnya, Blue Fire di Ijen ini adalah blue flame area terbesar! Pengen lihat? Start pendakiannya sepertinya musti lebih awal dari jam 2 pagi, atau sebut saja midnight hiking ^^ Tapi pasti tidak akan kecewa, melihat fotonya saja sudah takjub, semoga ada kesempatan lagi untuk melihat secara langsung.

Baik, kembali ke cerita trip kami. Hingga pukul 7.30 pagi kabut tak kunjung hilang, malah semakin tebal. Waktu lengang itu kami isi dengan bercengkerama, bercanda, hingga menikmati kejadian-kejadian tak terduga yang pada akhirnya membuat tawa terpingkal-pingkal tanpa bisa tertahankan. Dan tentu saja candaan dengan topik hangat yang tak akan lekang dimakan waktu, the Crown Prince, Bang Hamdan. Beberapa bahkan sempat mengistirahatkan mata selama beberapa menit. Hingga di suatu waktu, ketika kabut tak lagi berkurang, kami hendak memutuskan untuk turun pulang saja. Hampir sedikit kecewa, tapi apa mau dikata, mungkin belum rezeki kami untuk melihat pemandangan yang kabarnya indah itu hari ini. Tak apalah, inshaAllah ikhlas.

Ketika bersiap keluar pos, rombongan yang tadi kami temui di pos yang sama namun saat ini telah turun lagi dari atas kaldera tiba-tiba dengan bersemangat menyarankan kami untuk terus naik ke atas. Foto-foto hasil jepretan yang memukau pun ditunjukkan sebagai bukti bahwa akan sangat disayangkan jika kami tidak sampai melihat kawah. Menurut keterangan, meskipun berkabut, ada saat-saat dimana kabut akan sedikit menyingkir, nah saat tersebutlah yang dimanfaatkan untuk mengambil gambar. Tanpa ba-bi-bu berkepanjangan, kami bertekad untuk mendaki hingga kaldera. Jika toh pun tak dapat menikmati pemandangan sempurna Ijen, setidaknya usaha terbaik telah kami lakukan, supaya tidak ada penyesalan nantinya. Ah, harapan muncul kembali!

Satu kilometer terakhir tidak lebih berat daripada dua kilo pertama, bahkan di akhir rute jalanan semakin landai. Jalurnya pun lebar, sehingga tidak menjadi masalah  berarti untuk siacrophobia. Sungguh keberuntungan! Saat naik, kabut yang tadinya tebal beringsut menyingkir, memperlihatkan magnificent scenery di sepanjang jalurnya. Benar-benarfabulous! Ranting-ranting dan pepohonan yang cokelat kemerahan sehabis terbakar beberapa minggu lalu ternyata justru menyuguhkan pemandangan unik nan cantik. Membuat semua foto yang kami ambil, yang bahkan tidak dengan pengaturan khusus, menjadi sangat cantik. Apalagi ketika sampai di kawah. Mereka bilang, gunung ini fotogenik. Semua sisinya begitu cantik. Membuat kita, si objek berfoto pun pasti kelihatan bagus. Subhanallah.

Pola bergerigi di sekitar kawah akibat leleran lava, kini terlihat tegar sekaligus perkasa. Meski danau sulfur dibawahnya berwarna biru kehijauan, menandakan ketenangan. Sedang pepohonan disekitarnya memberi nuansa kesejukan. Namun kerikil di sepanjang jalanan dan jalur tandus menuju puncaknya, berarti keberanian, berani melawan ketakutan untuk melangkah terus menuju eksotisme alam. Dan belukar yang hitam kecokelatan merefleksikan kekuatan, yang meski harus terbakar (entah karena sebab alami atau ulah siapa) mereka tetap konsisten memberi keindahan, tetap rela menjadi gosong untuk kemudian meremaja kembali digantikan dedaunan dan pepohonan yang baru. Oh ya, tanpa tertinggal, warna kuning belerang hasil tambang penduduk sekitar memberi kesan tentang kerja keras, perjuangan untuk bertahan hidup.

Ah, saya tak tega sungguh ketika melihat bapak-bapak pekerja tambang harus bolak-balik memanggul keranjang berisi 70 hingga 80 kilogram sulfur setiap hari, di jalanan menanjak dan menurun, dengan upah hanya seribu rupiah per kilogram? Astaghfirullah, miris rasanya. Betapa alam mereka begitu indah ya, amat sangat indah, tetapi mengapa bukan mereka yang utama mendapatkan penghasilan lebih dari keuntungan geografisnya? Mengapa hampir selalu, penduduk asli di tempat wisata yang amat sangat tersohor justru bukan pemegang keuntungan terbesar?

Bukan hanya di Ijen, di Bromo misalnya. Penduduk asli Bromo, suku Tengger, justru yang harus bersusah payah menjadi pemandu kuda, bukan pemilik kuda, yang saya hampir yakin keuntungannya adalah yang paling kecil daripada stakeholder lain dalam bisnis jasa penyewaan kuda. Lihat ya, kalau saja kesejahteraannya terjamin, mereka tidak akan berebutan customer setiap kali jeep wisatawan berhenti di bawah kawah Bromo.

Saya sempat mengobrol panjang lebar dengan pemandu kuda yang membawa saya kemarin, Hanif kalau tidak salah namanya. Alasan utama saya mengobrol sebetulnya adalah untuk mengalihkan fokus pandangan dari turunan curam di atas punggung kuda yang bergejolak keras (sepertinya perlu terapi fobia ketinggian, hh..). Nah, mengetahui kenyataan bahwa si Bapak pemandu yang bekerja paling keras justru sepertinya mendapat keuntungan paling sedikit, rasanya miris. Sama seperti ketika saya mendengar curhatan wanita TKW di Dubai Airport empat tahun lalu dalam perjalanan fieldtrip Bangalore, hingga ketinggalan pesawat karena salah mengingat Gate. Sama seperti rasa iba ketika mengetahui penduduk asli Bali yang sebagian bekerja kasar untuk bertahan hidup.

Perasaan seperti ini juga yang saya khawatirkan tak sanggup saya bendung ketika melihat penambang sulfur di kawah Ijen. Saya bahkan tidak perlu memancing cerita si penambang untuk mengetahui bagaimana kerasnya hidup mereka. Bahu yang penuh bekas luka dan kulit yang tampak menebal di area panggulan keranjang sudah cukup menceritakan itu semua, bagaimana sulitnya bertahan hidup. Wajah lelah penuh peluh sudah cukup menandakan daya yang dikerahkan sejujurnya telah melebihi kemampuan tubuhnya menyangga beban yang sedemikian berat. Bayangkan, beberapa diantaranya sudah terlalu renta untuk memanggul. Saya berpapasan dengan seorang Bapak yang bahkan untuk berjalan saja terlihat sulit. Dengan memanggul 70 kilogram, beliau hanya mampu berjalan satu langkah pendek di setiap 10 detik di jalanan menurun. Sejak melihat beliau, saya tak sanggup lagi memandang, apalagi menyapa bapak-bapak penambang belereng setiap kali berpapasan atau dilewati.

Ketika di pos pemberhentian sebelum kawah Ijen tadi, saat kami menyantap mi instan dan teh panas tanpa peduli harga, tanpa sengaja saya melihat dua Bapak penambang sedang membuka bekal makanan di pojok warung yang hampir tak terlihat. Saya perhatikan dari jendela warung, tempat kami mendapatkan lebih banyak hangat daripada mereka yang di luar. Tak terlalu terperhatikan apa saja yang beliau makan. Yang jelas sepertinya proporsi nasi dan lauk/sayur berbanding jauh. Namun bapak-bapak penambang itu makan dengan lahap, jelas untuk mengisi ulang energi yang dibutuhkan untuk membawa sulfur sampai ke bawah. Ah, saya masih seringkali bertanya-tanya, apakah tak ada cara lain yang lebih manusiawi untuk bertahan hidup, apakah ada yang bisa orang lain lakukan untuk mensejahterakan sekaligus memanusiakan jenis pekerjaan semacam ini. Namun, di sisi baiknya, saya pun yakin dengan sepenuh hati, bahwa Allah tidak pernah ingkar janji untuk memberikan surga kepada umat-Nya yang dengan ikhlas menjalani setiap cobaan dan tak pernah lupa bersyukur. Jadi, sudahkah kita bersyukur hari ini?

Well, sudah cukup panjang ternyata tulisan ini. Hm, mungkin yang terakhir tadi adalah salah satu pelajaran terbaik dari trip kali ini, tentu saja selain dampak menyehatkan lainnya. Jiwa dan raga seperti di-charge ulang, pikiran pun menjadi demikian ayem sampai-sampai bisa-bisanya tidak memikirkan yang biasanya selalu terpikirkan, meski tak jua pantas untuk dipikir. Saya tidak hanya berhasil reunian dengan teman lama, tetapi juga mendapat teman baik baru yang sudah seperti kenal lama. Saya mendapat cerita-cerita mengagumkan tentang berjuang untuk bertahan hidup. Ah ya, ada satu cerita lagi yang disampaikan Mas Pemandu di sepanjang jalan pulang ke Surabaya. Yang ini ceritanya lebih seru, tentang tersesat, hampir mati, dan selamat. Andai saja si Mas bersedia menuliskan sebagian catatan perjalanannya, hehe..

Yang pasti, kutipan di awal tulisan ini memang benar adanya. Berpergianlah, karena setiap perjalanan pasti menawarkan cerita yang berbeda. Dan dalam setiap ceritanya, ambil saja bagian bermanfaatnya, sebagai bekal untuk menjadi manusia yang lebih baik, untuk  keluarga dan orang sekitar tentunya. Hidup ini tak pernah terlalu panjang, Kawan! Dan tak di semua usia kita dapat melakukan segala hal. Nikmati sajalah..^^

— Fie, 2014 —

The Marvellous Bromo

Bromo Mountain
on the top of the cloud (fog) ^^

Lelahnya tubuh setelah jungle trekking di Sempu tadi membuat kami terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil. Mas pemandu wisata (boleh disebutin namanya ga ya? heu) terpaksa harus berjuang sendiri ketika jalur yang semustinya dilalui mendadak ditutup, sehingga harus melewati jalan alternatif (maafkan kami, huk). Ketika terbangun udara sejuk terasa menusuk tulang. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah kasur…oh,kasur..(dan selimut tebal..). Tiba hampir tengah malam, setelah berberes sekedarnya kami segera tidur, lelap, hingga pukul 3 pagi ketika Hard Top Jeep tahun 80an siap menjemput kami untuk mengeksplorasi pegunungan yang amat sangat tersohor itu.

Kabut di “pelataran” Bromo tampak tebal.Menurut keterangan Bapak si empunya Jeep, terkadang kabut bisa menjadi sangat-sangat tebal hingga jarak pandang hanya sampai 1 meter. Tapi toh mereka hampir tak pernah tersesat, jelas karena sudah terbiasa dan hafal dengan rute puncak Penanjakan, tempat yang kami tuju, sebagai bagian dari keseharian. Dulu, konon kabarnya, ketika muda si Bapak terbiasa berjalan kaki dari kaki Bromo ke puncak gunung yang berjarak kira-kira 18 km menanjak, dan ditempuh dalam waktu hanya 3 jam! Bandingkan dengan kecepatan kami ketika melintasi Sempu kemarin yang kurang lebih hanya 1,5 atau 2 km namun kami tempuh dalam waktu 2 jam. Subhanallah. (Meski dilakukan di musim penghujan — excuse tuh, haha).

Puncak Penanjakan sudah ramai pengunjung. Sisi sunrise sebetulnya bukan pada latar kawah Bromo dan gunung Batok yang mahsyur itu. Tapi tetap saja, hunting sunrise di balik kabut Bromo yang sebentar lagi akan menguap menghilang seiring pagi beralih menjadi siang itu rasanya WOW!

Sebelum turun ke kawah Bromo, udara sejuk Penanjakan dan mentari yang sedang merangkak naik sepertinya akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menyesap secangkir hot coffee / chocolate, ditemani beberapa buah pisang goreng panas. Ah, nikmat! Sebagian besar urusan duniawi di luar trip seperti mendadak terhenti, menguap seiring kabut Bromo yang kian lama kian pudar. Otot-otot wajah yang seringkali menerik karena berpikir terlalu keras kini lebih banyak berganti sumringah dan tawa yang tak kunjung henti. Celotehan ringan seringkali berbuntut candaan yang mengocok perut. Mereka yang melihat kami mungkin tidak akan menyangka bahwa beberapa dari kami baru saja berkenalan sehari yang lalu. Haha, menyenangkan. Sungguh menyenangkan.

Usai sarapan, kami beranjak menuju kawah Bromo, lautan pasir berbisik, dan padang savana yang dikenal dengan Bukit Teletubbies. Pemandangan di ketiganya tak kalah menakjubkan. Meski harus melalui ketegangan akibat menunggang kuda menuju kawah (lagi-lagi acrophobia –terutama di jalur turun – dan si kuda agak melipir di tepi jurang, hadeh), kemudian masih harus melewati beberapa puluh anak tangga (yang tak sempat dihitung), pemandangan di kawah jelas sebanding dengan pengorbanan tersebut. Spektakuler! Gunung Batok ketika dilihat di atas kawah terlihat menakjubkan, cantik! Hamparan pasir di pelataran Bromo pun terlihat WAHH.

Yang membuatnya terlebih indah adalah gundukan padang rumput di sisi lain Pegunungan Bromo. Bentuk bukit-bukit kecilnya yang bulat-bulat itu seperti yang terlihat di film anak, Teletubbies. Berdiri memandang hamparan hijau, dengan puncak-puncak kecokelatan sisa dari kebakaran hutan di musim kemarau lalu, mungkin terasa tak pernah membosankan. Hm..

Oke, cukupkan Bromo sampai disini, masih ada Ijen sebagai pamungkas.

Sempu, The Hidden Paradise

IMG_0139

…there ain’t no journey what don’t change you some. (David Mitchell, Cloud Atlas).

 

Keputusan memanfaatkan jatah cuti untuk sekedar melakukan perjalanan tidaklah pernah menjadi keputusan yang salah. Trust me.

 

Tepat tengah malam, ketika trip-3-hari ini dimulai. Tidur sore tadi lumayan membantu mengembalikan energi dan semangat positif setelah penerbangan yang sepertinya tidak melelahkan itu ternyata cukup melelahkan. Sidoarjo, kota yang menyenangkan dan menenangkan, jelas selain hal lumpurnya yang tak kunjung tuntas. Disambut dengan kehangatan keluarga dari seorang teman, keramahan selalu menjadi ciri khas mereka yang masih terbiasa dekat dengan tradisi, menikmati keliling kota dan suguhan kuliner yang tak pernah henti, bahkan tanpa menyisakan jeda untuk merasa lapar. Ah, terima kasih.

 

Sempu

 

Tujuan utama yang pertama adalah Pulau Sempu. Butuh waktu hingga subuh untuk sampai ke Pantai Bajul Mati. Istirahat, sholat, sarapan di tepi laut sambil menunggu pagi sebelum trekking pertama kami mulai. Pagi menjelang tepat ketika rintik hujan yang semula menyambut kedatangan kami beranjak menjauh, menyisakan hanya mendung yang bergelayut. Sendang Biru, pantai nelayan yang berjarak beberapa kilometer dari Bajul Mati, di sini penyeberangan ke Sempu diakomodir. Di Pulau Sempu nanti, kami akan melakukan trekking ke sisi lain Pulau, tempat dimana Segara Anakan berada.

 

Seorang ranger memandu perjalanan kami menyeberang dan melintasi Pulau. Sendang Biru – Sempu memakan waktu hanya beberapa menit dengan perahu. Beberapa menit itu terasa worth, mengingat air laut yang jernih mampu membantu penglihatan hingga menembus dasar laut. Belum lagi jejeran bakau yang memukau di sisi Pulau. Wow, belum-belum sudah membuat kami terpesona!

 

Mendarat di Sempu, jungle trekking yang dinanti-nanti ini dimulai. Ah, hanya satu setengah kilometer ini, pikir kami pada awalnya tanpa menghiraukan medan seperti apa yang akan dilalui. Hm, cuaca waktu itu lembab, bekas hujan tadi malam membuat jalan setapak menjadi licin dan berlumpur. Dalam beberapa langkah, jemari kaki mendadak terlapisi masker lumpur, tapak sepatu yang katanya anti slip itu lalu dipenuhi lumpur padat. Alhasil pohon dan ranting menjadi sangat berarti untuk membantu menstabilkan pijakan kaki dan keseimbangan tubuh.

 

Menanjak dan menurun di jalan berbecek menjadi aktivitas yang menantang saat ini (untuk kami si amatir). Jalan setapak terasa tak ada habisnya, hingga kami melihat air biru, hampir tiba di Segara Anakan! Hampir, hm, terlalu berlebihan sepertinya, lebih seperti berharap segera tiba, karena sekarang kami malah harus berjalan melipir di sisi karang. Untuk saya yang acrophobia agak menegangkan memang. Tapi, kesemua perjuangan ini tak sia-sia. Tak pernah sia-sia.

 

Birunya air laut di Segara Anakan yang mirip danau itu seperti punya kekuatan magis yang memikat. Bongkahan karang yang diterpa ombak dari arus deras samudera Hindia terlihat menakjubkan. Masha’Allah, God has willed it. Ditambah lagi, waktu itu hampir tidak ada pengunjung lain selain kami. Sejumlah turis, internasional dan domestik, memang telah datang lebih dulu. Beberapa diantaranya sepertinya bermalam di Sempu sejak sore hari sebelumnya, hingga pagi adalah waktunya pulang, alih-alih baru datang seperti kami. Alhasil, Segara Anakan berasa private beach!

 

Dimanja oleh pemandangan, suasana yang aduhai melenakan, membuat kami hanya ingin tinggal saja, apalagi mengingat jalan pulang yang harus dialui tidak lebih mudah daripada jalan keberangkatan tadi. Hadeh, tapi apa iya, ingin stay saja? Besok masih ada Bromo dan Ijen untuk disambangi, yang sepertinya juga tak kalah indah dari Sempu. Hm, baiklah, kumpulkan tenaga, kumpulkan semangat. Semoga rumput-rumput liar di sepanjang jalur pulang nanti tidak lagi penasaran bertanya-tanya hendak kemana kami (yang konon katanya menjadi mitos subjektif ketika perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan pergi).

 

Trekking pulang dilanjut. Rute hampir sama dengan perjalanan pergi tadi. Keuntungannya adalah jalan kami menjadi lebih cepat dan terarah, karena telah mempunyai gambaran seperti apa medan yang akan dihadapi. Sebagai bukti, lihat saja, sekarang si Pembuka Jalan bukan lagi Mas Ranger yang kami sewa dari Sendang Biru, melainkan Mbak Renie, salah satu gerombolan imut yang ternyata jagoan dan pemberani. Mbak Henni, Mbak Rina dan Mbak Camilla pun tak kalah semangat. Sebetulnya lebih kepada semangat untuk segera sampai dan beristirahat alih-alih semangat karena bertemu lumpur becek lagi, haha..

 

Setibanya di Sendang Biru, kami lantas berbenah. Ah sebentar, sebelumnya, ketika di atas perahu pulang tadi, Bapak pengemudi perahu memberi saran yang amat fantastis, bahwa tak ada salahnya mencicipi es kelapa muda setelah melakukan perjalanan yang cukup menguras tenaga tadi. Sehingga benar, ketika menjejak di daratan seberang, dengan keinginan menggebu karena rasa haus, kaki ini tanpa perlu dikomando bergegas melangkah ke arah warung kelapa muda yang berada di tepi dermaga. Es kelapa muda setelah menyeberangi Sempu rasanya sungguh melegakan. Dahaga yang sedari tadi terasa mengisi kerongkongan dengan sekejap mendadak terusir digantikan ion alami pengganti cairan tubuh. Alhamdulillah. Nikmat.

 

Beres mandi, sholat, makan bakso, perjalanan panjang berikutnya pun dimulai. Menuju kaki Bromo.

Momen

Kita sebagai manusia, akan selalu punya momen terindah di setiap stage / rentang waktu dalam hidup. Momen itu, sangat erat kaitannya dengan keberadaan teman, keluarga, sahabat, pendamping, kolega, yang berada di sekitar. Satu momen tidak akan pernah tergantikan oleh momen yang lain, meski keadaannya terlihat persis. Satu momen adalah keunikan tunggal yang akan abadi jika (dan hanya jika) terpatri begitu dalam, dalam ingatan-ingatan di luar kepala; yang sari pati keabadiannya telah mengendap demikian tebalnya hingga cukup di-kuarkan dengan sentuhan ringan elemen pemicu munculnya kenangan.

Hm, bicara momen berarti bicara stage. Stage sendiri pun sulit didefinisikan dalam rentang waktu yang tetap. Ia memang tetap: tetap bervariasi. Sebagai contoh, stage kenangan di LIA (sebuah lembaga bahasa) berkisar 3 bulan, sedang stage di IALF (lembaga bahasa – yang lain) adalah 1,5 bulan. Meski berbeda rentang, namun keduanya menyimpan momen – momen yang sama hebatnya. Keduanya menciptakan euforia unik ketika dikenang. Keduanya mampu mengukir senyuman (bahkan tawa) ketika diingat. Dan keduanya, terlalu berharga untuk dilupakan.

Kualitas dari kenangan tersebut pun sejatinya adalah kita yang menentukan. Saya, punya stage yang beragam (Anda pun tentunya). Setiap stage itu tidak sepenuhnya saya ingat. Ada ruang-ruang tertentu dalam ingatan yang menempatkan dan mengkategorikan stage-stage tersebut. Kalau saya, 95% kenangan berada dalam ruang gembira, dan hampir tak punya tempat untuk ruang gelisah. Itulah kenapa, jika saya menilik ke belakang, meninggalkan masa kini untuk melihat kembali yang telah lalu, yang ada adalah “Hidup saya bahagia!”. Efeknya bombastis, mampu mengembalikan optimisme dalam hidup saya (yang kadang-kadang meredup). Ketika menilik itu, saya biasanya menemukan sumringah bersama teman-teman, canda saya dengan mbakyu-mbakyu, kekonyolan yang acapkali diimplementasikan tidak pada tempatnya. hahha..

Maka, masa lalu tidak selalu untuk dilupakan, tetapi ada bagian-bagian berkualitas yang sepatutnya dipertahankan untuk dikenang, lewat media apapun: foto, tulisan, benda unik (selain memori di otak yang kapasitasnya terbatas). Karena bagian-bagian berkualitas tersebut akan mampu mengembalikan energi positif dari tubuh yang sempat meluntur..

My Speech*)

Ladies and Gentlemen, Distinguished Guests,

On behalf of DET Master Scholar awardees, I am honored to speak in front of you at the very end of DET program granted by DSF World Bank and its partners.

It has been a long journey for us and also a very short experience at the same time. A long journey of doing our assignments, writing dissertation and dealing with university stuff. But also a too short period to explore everything about Britain, including its beautiful places, kindly people, fascinating history, public facilities (and off course the great boxing days J).

Ladies and gentlemen,

Being DET scholars give an important meaning for us. We have experienced many things since the first time we arrived in the UK. The first lesson we learnt was the UK learning system. Most of universities combine theory and case study in their lectures. This is a good point for us because we may apply our job experiences within the framework which is taught in the class session. On the other hand, the universities may enrich their scientific study with our real case study.

As a representative from local government, I learned how to analyze socio-economic development project in global lenses that may support strategic decision in local government, specifically for province outside Java. I also learned that decentralization should be supported by many aspects, including technology. For example, information technology may be applied as an important means in delivering information from government to public, as well as between central and local government in order to achieve the goal of good governance. At the same time, technology may also strengthen decentralization program, even though there is a need to review the concept of decentralization itself in Indonesia for more comprehensive and on the right target. This is the second lesson that I got.

 Your Excellencies,

Another important aspect of a nation development is gender equality. I have learnt this fact when I studied gender and development course unit. It has been proved that gender is a key point of development growth. Unfortunately, Indonesia Gender Inequality Index is still low, which ranks hundredth out of a hundred and forty six countries surveyed. This can also be seen from the percentage of DET scholars which is only thirty percent women, or seven out of twenty four scholars. This aspect may have to be reconsidered by the scholarship organizer to add more chance for women education.

The last lesson, and the most enjoyable one, was traveling around the UK. At least there are four states we could visit without applying for a visa, that is England, Wales, Scotland and Northern Ireland. Most of the places are interesting to visit: the historical buildings, castles, rivers, the universities, and its beautiful landscapes. And I finally found out that Stonehenge is not as big as I have imagined before. During my travel, there is a lesson that might be applied in my own country. It is how tourism can be explored and promoted to attract more tourists to come.

Besides that, there are lots of experience we might never get before: have a sleepless nights, or spend many nights with the laptop, until one night I found my laptop was broken down because I kicked it when I slept. Or, how we were freezing in bus stop waiting for the bus in the very cold winter. That was the worst winter I ever had.. (actually because it was the only winter I have, until now I mean, but I do hope to have another winter in the UK or other countries – bisik2). But meeting friends from different countries was also amazing. We could tell stories of our country, to let them know about how beautiful Indonesia is. And having native friends was also good to proofread your essays, even this script was also proofread by some of my friends. The most interesting thing is we suddenly become a great chef since we need to cook our meals by ourselves. We cannot easily find any Warung Tegal or Nasi Padang in Piccadilly Gardens or Trafford Centre.

It was really an incredible experience..

Ladies and gentlemen,

The end of our study is marked by the announcement of our final results and graduation. It certainly is a wonderful achievement for us. So I would like to conclude my remarks by showing my gratitude to DSF, World Bank, British Council, the Ministry of Home Affairs, the Ministry of Finance, Bappenas, and all parties who already made our dreams came true. And the last but not least, special thank goes for all DSF scholars, for our friendships and our moment of togetherness. It is time for us to give the real contribution for our institution and community, to be the real agent of change, to build and develop our beloved Indonesia.

Thank you very much.

Me with Stefan G. Koeberle

*)My first formal English speech in front of DSF Manager for Indonesia, the World Bank Director for Indonesia, UK Deputy Ambassador, British Council and DSF scholarship recipients at DSF Welcome Back Reception in Hotel Mandarin, 22 Feb 2011 (a day before my 28th).

It’s done, finally..

Perputaran waktu terasa begitu cepat berlalu bak hembusan angin kencang tak berjeda. Episode “Manchester” kini telah berakhir. Mengulang kembali pengalaman setahun belakangan rasanya tak akan pernah bosan. Mengingat cuaca musim gugur dengan suhu udara yang mulai menurun ke level belasan derajat sesaat sebelum ditinggalkan kemarin. Ditambah sebelas hari lawatan ke negeri Eropa kecil sebelumnya. Dan periode yang terasa kilat setelah tugas akhir disertasi dikumpulkan.

‘Akhir’ ini menjadi sangat menyenangkan ketika mengenang daftar panjang bahan bacaan wajib perkuliahan, apalagi membayangkan batasan jumlah kata yang harus ditulis di setiap akhir semester untuk masing – masing mata kuliah, demi sebuah gelar Master. Jika boleh berpendapat, ternyata bersekolah di luar negeri sendiri bukan semata demi mengejar gelar M.Sc atau MA, tetapi juga belajar mengerti kehidupan, kebiasaan dan aturan di negara lain, membandingkannya dengan kondisi ‘lumrah’ ala kita, dan kemudian mengevaluasi mana kebiasaan baik yang mungkin diterapkan di tempat kita bermula sebelumnya.

Tahap menerapkan tersebut memang gampang – gampang sulit. Alih – alih mengajak orang lain untuk ikut serta mengubah kebiasaan lama, yang ada malah diri kita yang dianggap aneh. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu, ketika sebagian besar hati dan pikiran saya masih tertinggal di kota bung Alex Fergusson.

Ceritanya, saya sedang menemani Ibunda berbelanja di sebuah supermarket terlama di kota Pontianak tercinta. Ketika membayar di kasir, secara spontan saya memasukkan sendiri barang – barang belanjaan yang sudah di-scan ke dalam plastik yang terlihat disediakan di ujung meja kasir. Sejak saya menyentuh sendiri plastik – plastik tersebut, si petugas kasir terlihat keheranan dan entah berkata sesuatu kepada saya. Tetapi karena kebiasaan membungkus barang belanjaan yang harus cepat, saya pun tak menggubris tatapan heran petugas tersebut.

Sampai akhirnya, Ibunda saya tersenyum menahan geli sambil bertanya, “Dek, lagi ngapain? Masih keinget kebiasaan disana ya?”. Saat masih mencerna ucapan Ibunda, seorang petugas supermarket lainnya merampas plastik yang saya pegang tanpa berucap permisi atau bahkan tersenyum. Barulah saya sadari, ah mungkin saja si petugas tersebut beranggapan saya telah mengambil pekerjaan dan tanggung jawabnya. Maksud hati ingin mandiri, tapi orang lain butuh pekerjaan untuk melayani.

Perbedaan – perbedaan seperti ini kadangkala membuat kerinduan akan kehidupan di negeri orang menjadi semakin terasa. Yang jelas, bersekolah di luar negeri sangat jauh berbeda dengan bersekolah di luar kota. Maksud saya, katakanlah tidak sedikit anak muda daerah yang menuntut ilmu di kota besar, misalnya Bandung, Yogyakarta, atau Jakarta. Atmosfer lingkungan pendidikannya jelas berbeda dengan berkuliah di kota sendiri. Namun pendidikan di luar negeri terbukti memicu independensi diri secara lebih sempurna, dan perluasan sudut pandang yang tidak lagi terkungkung dalam konteks nasional apalagi lokal. Saya dulu hanya bisa bermimpi ingin menginjakkan kaki di Inggris, Alhamdulillah mimpi itu telah menjadi nyata setahun yang lalu.

18 hours fasting feat writing dissertation

Menjalani puasa Ramadhan di Eropa mempunyai tantangan tersendiri. Kalau di Indonesia umumnya kita berpuasa sekitar 13.5 jam, katakanlah sejak pukul 04.34 hingga 17.57. Dan 15 hingga 16 jam di Mesir. Maka di Manchester, puasa Ramadhan kali ini diawali dengan hampir 18 jam menahan lapar, dari imsak pukul 3:16 hingga berbuka pada pukul 21.06.

Rentang waktu puasa ini lebih lama dari tahun sebelumnya, mengingat puncak summer atau musim panas baru saja berlalu. Kabar menggembirakannya adalah rentang waktu ini akan semakin memendek hingga akhir bulan Ramadhan nanti. Diperkirakan akan menjadi 2 jam lebih pendek atau sekitar 16 jam puasa.

Meski demikian, Alhamdulillah, cuaca Eropa yang cenderung dingin, berkisar antara 11 hingga 23 derajat celcius, membuat 18 jam tersebut tidaklah terlalu berasa berat. Berbeda dengan 40 atau 50 derajat celcius di Kairo. Atau suhu kota Pontianak yang berkisar antara 23 hingga 33 derajat celcius.

Niat ikhlas adalah kunci utama menjalani shaum kali ini. Kami diharuskan beradaptasi dengan pola makan yang tak biasa, serta mengatur jarak waktu antara makan malam dan sahur agar metabolisme tubuh tidak terganggu. Belum lagi soal selera makanan yang juga harus diatur sendiri. Tidak ada nasi padang atau warung tegal di pinggir jalan. Alhasil, kreativitas Mancunian (sebutan untuk anak Manchie) menjadi terpicu, terutama dalam hal masak – memasak.

Tantangan Mancunian belum usai. Kami masih harus berkutat dengan tugas akhir perkuliahan. Mahasiswa – mahasiswi PhD sedang dalam tahap review tahun pertama yang menentukan kelangsungan studi mereka ke tahun berikutnya. Tidak berbeda dengan mahasiswa Master yang berada pada masa genting penulisan disertasi (istilah umum di UK untuk tugas akhir mahasiswa S2 adalah disertasi, sedangkan S3 adalah thesis).

Pengumpulan tugas akhir yang sebagian besar dilaksanakan pada awal September membuat kami sedikit pontang – panting. Sementara sang Profesor berlibur musim panas, maka kami disibukkan dengan pengumpulan data. Tidak ada jeda waktu untuk liburan, kecuali memberanikan diri untuk ‘berlari’ sebentar dari kejenuhan menulis disertasi.

Namun, Ramadhan selalu membawa berkah. Dua belas ribu kata yang minimum harus kami tulis sedikit demi sedikit mulai terangkai. Studi literatur dan penjelasan analitik mulai berjalan ke arah yang benar. InsyaAllah, di Syawal nanti, kami akan merayakan dua kemenangan sekaligus. Menang atas godaan menahan nafsu selama sebulan, dan menang atas setahun penuh perjuangan di Universitas Manchester.