Perputaran waktu terasa begitu cepat berlalu bak hembusan angin kencang tak berjeda. Episode “Manchester” kini telah berakhir. Mengulang kembali pengalaman setahun belakangan rasanya tak akan pernah bosan. Mengingat cuaca musim gugur dengan suhu udara yang mulai menurun ke level belasan derajat sesaat sebelum ditinggalkan kemarin. Ditambah sebelas hari lawatan ke negeri Eropa kecil sebelumnya. Dan periode yang terasa kilat setelah tugas akhir disertasi dikumpulkan.

‘Akhir’ ini menjadi sangat menyenangkan ketika mengenang daftar panjang bahan bacaan wajib perkuliahan, apalagi membayangkan batasan jumlah kata yang harus ditulis di setiap akhir semester untuk masing – masing mata kuliah, demi sebuah gelar Master. Jika boleh berpendapat, ternyata bersekolah di luar negeri sendiri bukan semata demi mengejar gelar M.Sc atau MA, tetapi juga belajar mengerti kehidupan, kebiasaan dan aturan di negara lain, membandingkannya dengan kondisi ‘lumrah’ ala kita, dan kemudian mengevaluasi mana kebiasaan baik yang mungkin diterapkan di tempat kita bermula sebelumnya.

Tahap menerapkan tersebut memang gampang – gampang sulit. Alih – alih mengajak orang lain untuk ikut serta mengubah kebiasaan lama, yang ada malah diri kita yang dianggap aneh. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu, ketika sebagian besar hati dan pikiran saya masih tertinggal di kota bung Alex Fergusson.

Ceritanya, saya sedang menemani Ibunda berbelanja di sebuah supermarket terlama di kota Pontianak tercinta. Ketika membayar di kasir, secara spontan saya memasukkan sendiri barang – barang belanjaan yang sudah di-scan ke dalam plastik yang terlihat disediakan di ujung meja kasir. Sejak saya menyentuh sendiri plastik – plastik tersebut, si petugas kasir terlihat keheranan dan entah berkata sesuatu kepada saya. Tetapi karena kebiasaan membungkus barang belanjaan yang harus cepat, saya pun tak menggubris tatapan heran petugas tersebut.

Sampai akhirnya, Ibunda saya tersenyum menahan geli sambil bertanya, “Dek, lagi ngapain? Masih keinget kebiasaan disana ya?”. Saat masih mencerna ucapan Ibunda, seorang petugas supermarket lainnya merampas plastik yang saya pegang tanpa berucap permisi atau bahkan tersenyum. Barulah saya sadari, ah mungkin saja si petugas tersebut beranggapan saya telah mengambil pekerjaan dan tanggung jawabnya. Maksud hati ingin mandiri, tapi orang lain butuh pekerjaan untuk melayani.

Perbedaan – perbedaan seperti ini kadangkala membuat kerinduan akan kehidupan di negeri orang menjadi semakin terasa. Yang jelas, bersekolah di luar negeri sangat jauh berbeda dengan bersekolah di luar kota. Maksud saya, katakanlah tidak sedikit anak muda daerah yang menuntut ilmu di kota besar, misalnya Bandung, Yogyakarta, atau Jakarta. Atmosfer lingkungan pendidikannya jelas berbeda dengan berkuliah di kota sendiri. Namun pendidikan di luar negeri terbukti memicu independensi diri secara lebih sempurna, dan perluasan sudut pandang yang tidak lagi terkungkung dalam konteks nasional apalagi lokal. Saya dulu hanya bisa bermimpi ingin menginjakkan kaki di Inggris, Alhamdulillah mimpi itu telah menjadi nyata setahun yang lalu.

Iklan