Tag

, , , ,

IMG_0139

…there ain’t no journey what don’t change you some. (David Mitchell, Cloud Atlas).

 

Keputusan memanfaatkan jatah cuti untuk sekedar melakukan perjalanan tidaklah pernah menjadi keputusan yang salah. Trust me.

Tepat tengah malam, ketika trip-3-hari ini dimulai. Tidur sore tadi lumayan membantu mengembalikan energi dan semangat positif setelah penerbangan yang sepertinya tidak melelahkan itu ternyata cukup melelahkan. Sidoarjo, kota yang menyenangkan dan menenangkan, jelas selain hal lumpurnya yang tak kunjung tuntas. Disambut dengan kehangatan keluarga dari seorang teman, keramahan selalu menjadi ciri khas mereka yang masih terbiasa dekat dengan tradisi, menikmati keliling kota dan suguhan kuliner yang tak pernah henti, bahkan tanpa menyisakan jeda untuk merasa lapar. Ah, terima kasih.

Sempu

Tujuan utama yang pertama adalah Pulau Sempu. Butuh waktu hingga subuh untuk sampai ke Pantai Bajul Mati. Istirahat, sholat, sarapan di tepi laut sambil menunggu pagi sebelum trekking pertama kami mulai. Pagi menjelang tepat ketika rintik hujan yang semula menyambut kedatangan kami beranjak menjauh, menyisakan hanya mendung yang bergelayut. Sendang Biru, pantai nelayan yang berjarak beberapa kilometer dari Bajul Mati, di sini penyeberangan ke Sempu diakomodir. Di Pulau Sempu nanti, kami akan melakukan trekking ke sisi lain Pulau, tempat dimana Segara Anakan berada.

Seorang ranger memandu perjalanan kami menyeberang dan melintasi Pulau. Sendang Biru – Sempu memakan waktu hanya beberapa menit dengan perahu. Beberapa menit itu terasa worth, mengingat air laut yang jernih mampu membantu penglihatan hingga menembus dasar laut. Belum lagi jejeran bakau yang memukau di sisi Pulau. Wow, belum-belum sudah membuat kami terpesona!

Mendarat di Sempu, jungle trekking yang dinanti-nanti ini dimulai. Ah, hanya satu setengah kilometer ini, pikir kami pada awalnya tanpa menghiraukan medan seperti apa yang akan dilalui. Hm, cuaca waktu itu lembab, bekas hujan tadi malam membuat jalan setapak menjadi licin dan berlumpur. Dalam beberapa langkah, jemari kaki mendadak terlapisi masker lumpur, tapak sepatu yang katanya anti slip itu lalu dipenuhi lumpur padat. Alhasil pohon dan ranting menjadi sangat berarti untuk membantu menstabilkan pijakan kaki dan keseimbangan tubuh.

Menanjak dan menurun di jalan berbecek menjadi aktivitas yang menantang saat ini (untuk kami si amatir). Jalan setapak terasa tak ada habisnya, hingga kami melihat air biru, hampir tiba di Segara Anakan! Hampir, hm, terlalu berlebihan sepertinya, lebih seperti berharap segera tiba, karena sekarang kami malah harus berjalan melipir di sisi karang. Untuk saya yang acrophobia agak menegangkan memang. Tapi, kesemua perjuangan ini tak sia-sia. Tak pernah sia-sia.

Birunya air laut di Segara Anakan yang mirip danau itu seperti punya kekuatan magis yang memikat. Bongkahan karang yang diterpa ombak dari arus deras samudera Hindia terlihat menakjubkan. Masha’Allah, God has willed it. Ditambah lagi, waktu itu hampir tidak ada pengunjung lain selain kami. Sejumlah turis, internasional dan domestik, memang telah datang lebih dulu. Beberapa diantaranya sepertinya bermalam di Sempu sejak sore hari sebelumnya, hingga pagi adalah waktunya pulang, alih-alih baru datang seperti kami. Alhasil, Segara Anakan berasa private beach!

Dimanja oleh pemandangan, suasana yang aduhai melenakan, membuat kami hanya ingin tinggal saja, apalagi mengingat jalan pulang yang harus dialui tidak lebih mudah daripada jalan keberangkatan tadi. Hadeh, tapi apa iya, ingin stay saja? Besok masih ada Bromo dan Ijen untuk disambangi, yang sepertinya juga tak kalah indah dari Sempu. Hm, baiklah, kumpulkan tenaga, kumpulkan semangat. Semoga rumput-rumput liar di sepanjang jalur pulang nanti tidak lagi penasaran bertanya-tanya hendak kemana kami (yang konon katanya menjadi mitos subjektif ketika perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan pergi).

Trekking pulang dilanjut. Rute hampir sama dengan perjalanan pergi tadi. Keuntungannya adalah jalan kami menjadi lebih cepat dan terarah, karena telah mempunyai gambaran seperti apa medan yang akan dihadapi. Sebagai bukti, lihat saja, sekarang si Pembuka Jalan bukan lagi Mas Ranger yang kami sewa dari Sendang Biru, melainkan Mbak Renie, salah satu gerombolan imut yang ternyata jagoan dan pemberani. Mbak Henni, Mbak Rina dan Mbak Camilla pun tak kalah semangat. Sebetulnya lebih kepada semangat untuk segera sampai dan beristirahat alih-alih semangat karena bertemu lumpur becek lagi, haha..

Setibanya di Sendang Biru, kami lantas berbenah. Ah sebentar, sebelumnya, ketika di atas perahu pulang tadi, Bapak pengemudi perahu memberi saran yang amat fantastis, bahwa tak ada salahnya mencicipi es kelapa muda setelah melakukan perjalanan yang cukup menguras tenaga tadi. Sehingga benar, ketika menjejak di daratan seberang, dengan keinginan menggebu karena rasa haus, kaki ini tanpa perlu dikomando bergegas melangkah ke arah warung kelapa muda yang berada di tepi dermaga. Es kelapa muda setelah menyeberangi Sempu rasanya sungguh melegakan. Dahaga yang sedari tadi terasa mengisi kerongkongan dengan sekejap mendadak terusir digantikan ion alami pengganti cairan tubuh. Alhamdulillah. Nikmat.

Beres mandi, sholat, makan bakso, perjalanan panjang berikutnya pun dimulai. Menuju kaki Bromo.

Iklan