Tag

, , ,

1975155_10204380752712267_604960250473054992_nLelahnya tubuh setelah jungle trekking di Sempu tadi membuat kami terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil. Mas pemandu wisata (boleh disebutin namanya ga ya? heu) terpaksa harus berjuang sendiri ketika jalur yang semustinya dilalui mendadak ditutup, sehingga harus melewati jalan alternatif (maafkan kami, huk). Ketika terbangun udara sejuk terasa menusuk tulang. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah kasur…oh,kasur..(dan selimut tebal..). Tiba hampir tengah malam, setelah berberes sekedarnya kami segera tidur, lelap, hingga pukul 3 pagi ketika Hard Top Jeep tahun 80an siap menjemput kami untuk mengeksplorasi pegunungan yang amat sangat tersohor itu.

Kabut di “pelataran” Bromo tampak tebal.Menurut keterangan Bapak si empunya Jeep, terkadang kabut bisa menjadi sangat-sangat tebal hingga jarak pandang hanya sampai 1 meter. Tapi toh mereka hampir tak pernah tersesat, jelas karena sudah terbiasa dan hafal dengan rute puncak Penanjakan, tempat yang kami tuju, sebagai bagian dari keseharian. Dulu, konon kabarnya, ketika muda si Bapak terbiasa berjalan kaki dari kaki Bromo ke puncak gunung yang berjarak kira-kira 18 km menanjak, dan ditempuh dalam waktu hanya 3 jam! Bandingkan dengan kecepatan kami ketika melintasi Sempu kemarin yang kurang lebih hanya 1,5 atau 2 km namun kami tempuh dalam waktu 2 jam. Subhanallah. (Meski dilakukan di musim penghujan — excuse tuh, haha).

Puncak Penanjakan sudah ramai pengunjung. Sisi sunrise sebetulnya bukan pada latar kawah Bromo dan gunung Batok yang mahsyur itu. Tapi tetap saja, hunting sunrise di balik kabut Bromo yang sebentar lagi akan menguap menghilang seiring pagi beralih menjadi siang itu rasanya WOW!

Sebelum turun ke kawah Bromo, udara sejuk Penanjakan dan mentari yang sedang merangkak naik sepertinya akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menyesap secangkir hot coffee / chocolate, ditemani beberapa buah pisang goreng panas. Ah, nikmat! Sebagian besar urusan duniawi di luar trip seperti mendadak terhenti, menguap seiring kabut Bromo yang kian lama kian pudar. Otot-otot wajah yang seringkali menerik karena berpikir terlalu keras kini lebih banyak berganti sumringah dan tawa yang tak kunjung henti. Celotehan ringan seringkali berbuntut candaan yang mengocok perut. Mereka yang melihat kami mungkin tidak akan menyangka bahwa beberapa dari kami baru saja berkenalan sehari yang lalu. Haha, menyenangkan. Sungguh menyenangkan.

Usai sarapan, kami beranjak menuju kawah Bromo, lautan pasir berbisik, dan padang savana yang dikenal dengan Bukit Teletubbies. Pemandangan di ketiganya tak kalah menakjubkan. Meski harus melalui ketegangan akibat menunggang kuda menuju kawah (lagi-lagi acrophobia –terutama di jalur turun – dan si kuda agak melipir di tepi jurang, hadeh), kemudian masih harus melewati beberapa puluh anak tangga (yang tak sempat dihitung), pemandangan di kawah jelas sebanding dengan pengorbanan tersebut. Spektakuler! Gunung Batok ketika dilihat di atas kawah terlihat menakjubkan, cantik! Hamparan pasir di pelataran Bromo pun terlihat WAHH.

Yang membuatnya terlebih indah adalah gundukan padang rumput di sisi lain Pegunungan Bromo. Bentuk bukit-bukit kecilnya yang bulat-bulat itu seperti yang terlihat di film anak, Teletubbies. Berdiri memandang hamparan hijau, dengan puncak-puncak kecokelatan sisa dari kebakaran hutan di musim kemarau lalu, mungkin terasa tak pernah membosankan. Hm..

Oke, cukupkan Bromo sampai disini, masih ada Ijen sebagai pamungkas.

Iklan