Tag

, , , , , ,

Hi! I’m coming back! To write some stories in this blog, hahahaa..

Setelah petang tadi, tetiba teringat kenangan 17 tahun yang lalu (e buset, udah lama banget yak, kayak baru kemaren, wkwk). Berawal dari celotehan Jumat lalu, ketika teman-teman di kantor sibuk membahas lokasi jualan sebuah stand (a.k.a. gerobak) makanan. Salah satu ancer-ancer (penanda) lokasi tersebut adalah tempat sebuah stasiun radio berada. Kebetulan, duluu sekali pernah menjadi host di salah satu programnya, meski hanya bertahan beberapa hari karena kemudian mendapat panggilan penerimaan kerja.

Nah, dari situ, khayalan ini kemudian me-review mundur hal nge-host tersebut. Teringat ketika “karir” menjadi penyiar radio bermula. Bertahun sebelumnya, tepatnya 19 tahun yang lalu, “karir” tersebut dimulai dari ajang radio malam minggu di kampus hijau Taruna Bumi Khatulistiwa (cieh, masi inget julukannya, wkwk). Ceritanya, sebagai seorang Kepala Seksi yang membidangi bidang Kesenian (ehm), salah satu program inovatif yang disodorkan adalah pembacaan pesan-pesan dan permintaan (request) lagu dari siswa/siswi satu sekolahan. Waktu itu, malam minggu menjadi satu – satunya malam yang terbebas dari tekanan ketegangan ala – ala semi militer (katanya).

Mekanismenya begini, di hari Sabtu siang pada jam istirahat sekolah, bintara/perwira yang bertugas hari itu akan mengumpulkan pesan – pesan siswa/siswi yang disampaikan dalam secarik kertas. Ohya, bintara/perwira adalah murid jaga kelas II dan III yang bertugas mengatur jalannya acara makan pagi/siang/malam dalam sehari. Tugasnya bergantian, dan seperti biasa setiap murid pasti mendapat giliran menjadi perwira/bintara. Perwira/bintara ini bukan penyiar radionya lho yaa. Oke, kembali ke hal penyiar radio, setelah dikumpulkan, pesan – pesan tersebut akan diseleksi untuk dibacakan pada saat acara makan malam. Seleksi ini dilakukan mengingat waktu makan malam yang terbatas, ditambah pemutaran lagu yang diminta, sehingga kurang lebih dalam waktu 15 hingga 30 menit acara kirim – mengirim lagu harus selesai.

Nah, pada suatu ketika, saat mendapat giliran membacakan pesan – pesan tersebut, tiba – tiba keinginan menjadi penyiar radio menjadi tersalurkan. Kalau biasanya di setiap hari Kamis mulut ini serasa dikunci karena English Day (wkwk), nah pada malam Minggu ini mulut justru terasa tak dapat berhenti bicara. Singkat cerita, acara nge-host tersebut berjalan lancar. Dan justru mendapat pujian dari beberapa senior, yang mengatakan bahwa ini suara udah kayak penyiar radio beneran, wkwk..

Kemudian masih saat SMA, suatu ketika radio local Kalbar menyelenggarakan kompetisi penyiar khusus untuk pelajar. Caranya, setiap kandidat akan diajak siaran dengan penyiar beneran pada satu malam. Kemudian bersaing dengan kandidat lainnya. Jika berhasil lolos, akan mendapat kesempatan menjadi penyiar selama satu minggu. And I did it. Kebetulan saat itu bertepatan dengan minggu libur sekolah. Ketika masuk kembali ke asrama kampus, seorang adik kelas langsung bertanya perihal penyiaran tersebut dengan matanya yang berbinar – binar dan terlihat kagum (wkwk, ge err).

Okey, masa SMA telah berlalu. Menginjak masa perkuliahan, di kampus yang mana mahasiswa Kalbar menjadi minoritas dan kata orang – orang ini termasuk kampus favorit, eh, hehe… (STT Telkom yang sekarang telah bertransformasi menjadi Universitas Telkom — bangga) ternyata bakat nge-host tersebut tidak lalu menjadi hilang. Entahlah waktu itu kenapa pede amat yak apply – apply jadi penyiar di radio kampus itu, padahal siapa gw…wkwk.. Nama radionya WFM, cieh masi inget, tapi kepanjangannya lupa, kekeke.. Ini radio sebenernya milik anak Elektro Telekomunikasi, jurusan sebelah, tapi partisipan boleh dari jurusan mana aja, jadi tak salah kalau ai ikut ambil bagian.

Waktu itu mungkin punggawa radio kampus ini tidaklah banyak, dan kebanyakan anak Elektro. Memang sudah menjadi prinsip bahwa di kampus tidak akan hanya belajar dan belajar dan belajar, jadi sedari awal memang berniat mengikuti ekstra – ekstra di luar pendidikan formal belajar – mengajar tersebut. Bedanya dengan teman – teman lain, mungkin tidak banyak yang berfikir bahwa menjadi penyiar radio adalah termasuk kegiatan ekstra yang menyenangkan, hahahaa..

Membawakan acara di setiap malam Selasa bertajuk “News & Information” (kekekekk), di hari Selasa pagi adalah jadwal membeli koran untuk bahan siaran, kalau lagi bokek kadang beli koran di sore hari dimana koran turun harga jadi Rp 1000,- wkwkwk.. Nah, dampak baik dari hal ini adalah, terkadang menjadi panduan informasi terkini untuk teman – teman perempuan di asrama. Mahfum kalau kaum wanita biasanya tidak setanggap kaum pria dalam hal mengikuti berita terkini, nah karena paling tidak seminggu sekali mencari bahan untuk siaran maka biasanya teman – teman bertanya perihal berita terkini. Contoh, saat peristiwa 11 September 2011, berkali – kali diminta teman – teman untuk menceritakan detil kejadian tabrakan pesawat dan ledakan di US itu, termasuk opini – opini yang mengikuti di belakangnya.

Tak disangka lagi, ternyata teman – teman ada yang menjadi pendengar setia, wkwkwk.. teman sekelas sudah tentu donk ya, teman satu asrama terutama satu lantai pasti ngikutin. Jadi sebelum jadwal siaran di jam 7 malam, sehabis magrib biasanya sudah ngider di sepanjang lorong, nagihin kertas – kertas berisi pesan dan salam dan request lagu dari teman – teman, hehe.. Jadi lumayan terkenal di antara teman – teman kamar satu lorong, wkwk.. (bangga).

Terus.. terus.. sewaktu penjaringan panitia MABIM alias perploncoan anak Informatika (IF), si mas penanyanya bilang, “kayaknya ngga asing dengan suaranya”, gyaaa…berarti banyakk yang dengerin suara gw…wkwkwk… Waktu itu mood juga lagi bagus dan menjawab semua pertanyaan dengan baik, sehingga sewaktu penyusunan panitia alhasil ditempatkan menjadi Seksi Acara, ini adalah seksi yang paling tenarrr (meski akhirnya harus rela berpura – pura menjadi “mahasiswa baru” gadungan, wkwkwk… yang ini panjang lagi ceritanya, haahahahaa..pengalaman..pengalaman..).

Oke, perihal penyiar radio di Kampus berakhir sampai WFM kolaps, hahaa.. The next career adalah sewaktu sudah selesai kuliah, kembali ke kota asal, dan bingung mo ngapain sambil – sambil apply lowongan kerja. Daripada bengong, ikutlah audisi penyiar radio yang tidak terlalu terkenal tapi lumayanlah waktu itu, hehe.. Masih seputar membawakan acara news & information, beberapa kali sempat mengisi acara di radio tersebut (lupa nama radionya, hahahaa). Setelah itu, karir ini mulai ditinggalkan, tak lagi pernah mencoba mengisi acara radio, streaming sekalipun. Udah gini, agak kangen sih, ntar deh coba – coba lagi. Eh, pernah dink kepikiran, pengin punya Radio Pemprov, wkwkwk..untung ga jadi disampaikan, keekekekee.. mending buat radio streaming sendiri ya, “Pipiew Radio” gyaa.. atau ngisi iklan di spotify, gyaahahaa.. mangkanya ga kaget juga pas ada teman yang menggoda sebagai pengisi suara ad spotify, padahal beliau belum tahu kalau begini – begini pernah merintis karir menjadi penyiar acakadul, wkwkwk…

Kenangan yang begini – begini yang bikin hidup menjadi penuh warna, walau di suatu masa mungkin hidup pernah terasa hanya hitam dan putih, hingga terlupa kalau ada warna lainnya. Ada baiknya bernostalgia dengan masa lalu, mengingat kejadian – kejadian lucu dan kekanakan di waktu dulu. Sepertinya bisa dijadikan pemelihara suasana hati dan penyemangat masa depan, hihihhi.. Caiyo!! ;p

Fie, Jan 27th 2018

Iklan