Manchester (1/8) – Satu Ramadhan 1432 bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 2011, tidak berbeda dengan penetapan Ramadhan di tanah air. Yang berbeda hanyalah suasana dalam menyambut puasa di kota Manchester.

Tidak seperti di tanah air, kota berpenduduk 392.819 jiwa ini terlihat ‘tak ada bedanya’ dengan hari – hari biasa. Tidak ada keramaian tak wajar di pusat kota, tidak ada nyanyian – nyanyian penyejuk kalbu dari masjid – masjid terdekat, apalagi pasar tumpah yang layaknya mulai membanjiri tempat – tempat strategis seperti di tanah air.

Kondisi demikian wajar adanya mengingat populasi umat muslim di kota ini hanya mencapai 9.1% dari jumlah total penduduk. Di sini, pusat kota baru akan sangat ramai ketika menjelang Boxing Day(1) atau Summer Sale(2). Alih – alih nasyid dan sholawat, dentangan lonceng gereja menandai setiap pergantian jam. Pasar tumpah baru akan ramai kembali ketika Natal tiba.

Budaya dan mayoritas, dua hal yang menentukan kebiasaan dan cara – cara unik dalam memperingati hari spesial di setiap bangsa. Mengingat hal ini, salah satu cara untuk mengobati kerinduan adalah memburu suasana di mana kaum minoritas berada.

Beruntung, letak perkampungan muslim tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit, masjid yang cukup besar sudah dapat dijumpai. Paling tidak, sholat taraweeh akan diselenggarakan di Masjid Jamia ini. Menjadi penting, karena tidak semua masjid menyelenggarakan taraweeh dan ta’jil bersama, misalnya McDoughall Prayer Room atau masjid selatan milik kampus yang mengalihkan jemaahnya ke Masjid Central Manchester.

Sehari menjelang Ramadhan, masjid Jamia, atau juga dikenal dengan Victoria Park Mosque, terlihat mulai berbenah. Beberapa anak muda mengecat pagar masjid. Seorang pengurus masjid juga membersihkan dinding dan kasa – kasa di bangunan berusia 40 tahun ini.

Mengintip ruangan di dalamnya, Masjid Jamia memang tidak semegah Masjid Raya Mujahidin di Pontianak, tidak pula seunik masjid Jihad di Jalan Johan Idrus. Masjid ini tampak biasa, sebagaimana bangunan kotak berbata ala Inggris. Namun kubah berlambang bulan dan bintang-nya mampu menenangkan ummat muslim di sekitarnya.

Tidak kurang dari 7 menit berjalan kaki dari Masjid Jamia, terdapat toko bahan makanan muslim. Dikelola oleh pemilik dari wilayah Asia Selatan, toko berlabel Worldwide ini menyediakan aneka sayuran Asia, daging halal, beras hingga bumbu instan. Cukup menyenangkan, karena di sini mudah untuk mendapatkan sayur pare / pariak, bawang merah (atau disebut Indian Onion), pepaya mengkal, dan berbagai jenis bahan makanan ala Asia. Harga yang ditawarkan pun terhitung lebih murah daripada supermarket lainnya.

Menjelang puasa, Worldwide dipenuhi pembeli. Antrian counter daging mengular hingga ke pintu masuk. Sayur dan buah – buahan juga diserbu pada pembeli. Pos kasir juga dibuka di semua line. Ah, seperti sedang berada di tanah air.

Ya, meskipun minor, nuansa Ramadhan itu masih terasa sedikit di sini, mengobati kerinduan akan kekhuyukan berpuasa di tanah air.

(1) Boxing day adalah hari dimana hampir semua pusat perbelanjaan memberikan diskon besar – besaran, diselenggarakan setiap tanggal 26 Desember.

(2) Summer Sale adalah periode diskon pada musim panas.

Iklan