Tag

,

Menjadi salah satu yang sukses tanpa dibarengi kesuksesan dari teman yang lain bukanlah termasuk kategori ‘sukses’ buat saya. Masih teringat detik – detik mendebarkan pertengahan tahun lalu. Diri ini terlalu khawatir akan menerima kegagalan, tapi ternyata ketidakgagalan itu bukan berarti apa – apa tanpa keberuntungan yang lain. Melankolis memang, atau cenderung lebay, tapi memang begitulah yang terasa sejak dulu. Bayangkan, yang terdekatlah yang justru harus dilepas.

Kesuksesan itu tidak lantas menjadi puncak kegembiraan buat saya, karena harus menjadi yang beruntung di antara kekurangberuntungan yang lain. Bukan lantas menjadi tidak bersyukur, tetapi hanya menjadi dilema tak berkesudahan. Dilema untuk menyambung kembali silaturahmi, dilema berkomunikasi layaknya senasib, dilema memberi kabar yang tidak sama dengan yang lain. Lidah ini menjadi gagap. Bingung bagaimana harus bersikap.

Waktu memang menjadi senjata utama dalam mengatasi ‘ketidaknyamanan’ tersebut. Masing – masing telah sanggup beradaptasi di atas jalannya. Hanya membayangkan, jikalau jalan ini dilalui bersama yang lain…ah, memang kurang baik jika terlalu sering berandai – andai.

Menemukan sahabat yang cocok, karib yang sesuai, gerombolan yang ‘nyambung’ memang sulit. Dan BC 1 adalah salah satu jawaban bagi saya. Tujuh minggu bahkan mengalahkan bertahun pengenalan. Sosok – sosok yang mampu membuat tawa tanpa henti itu meledak, hingga meledakkan yang lain. Ahaha, selalu membuat tersenyum ketika mengingat memoar indah kala itu.

Doodling, singing, taroting, ahayy menjadi ciri khas yang tak mungkin terlupakan. Aku di sini teman, bernasib baik lebih cepat dari kalian, meski bukan berarti  lebih baik daripada kalian. Aku di sini.. menunggu kabar baikmu, selalu menanti yang terbaik segera, dan tak pernah lupa berdoa untukmu yang terhebat.

Salam rindu untukmu,
– yang ternakal –

BC1 on the last day..

Iklan