Tag

, , , , ,

It is undeniable that there are so many heritage building in my country. Why? Because we come from different cities, such as Ternate, Ambon, Surabaya, Bandung, Jakarta, Samarinda and Pontianak. However, our diversity is the biggest wealth that we have.

Actually, it does not matter if (not “ip“) we were born in different range of age, from the youngest to the oldest. In addition, it is such a lucky chance for being a part of BC-1, i believe it was our destiny to find out who we really are. For example, the most silent student not always cannot produce a joke, in the last week he made jokes almost every time. It was a better improvement of our class, not only ielts score. Our ielts progress was very fluctuative. On the other hand, our trend for being crazy increased dramatically.

Nowadays, it is difficult to find the craziest class like BC-1 class. We are not only the funniest class, but also the highest class in category of disturbing people around us (with our noise.. OMG, we are sorry). In conclusion, no one knows what will be happen with BC-1 if tomorrow never comes. For better or worse, we are BC-1.

*)dikutip dari kebiasaan / keunikan / trademark BC-1'ers dan beberapa "wise words" dari the Book of Remember.

Ga nyampe 150 words si, tapi cukup mewakili profil beberapa teman di 7-week British Council course, heu.. what an incredible experience! Hm, awalnya kegiatan belajar terasa membosankan, mungkin karena telah terbiasa dengan rutinitas kantor (kalau saya sih jujurnya merasa bosan karena nilai yang tak kunjung membaik, he). Hampir setiap hari, kecuali weekend, kami dicekoki dengan PR writing, latihan reading dan listening, serta tak ketinggalan cuap – cuap 2 menit in English. Nilai – nilai yang sedemikian fluktuatif menambah beban pikiran, alhasil beberapa kandidat sempat mengalami gangguan kesehatan. Namun obsesi untuk meraih cita – cita jenjang pendidikan yang lebih tinggi membuat segala rintangan dan hambatan harus dapat terlewati. (cieh..)

Sedikit mengecewakan karena tidak semua dari peserta akan berangkat, hanya 20 dari 40 kandidat terpilih yang akan mendapatkan kesempatan meraih gelar Master di negeri dimana Ratu Elizabeth diagungkan. Siapapun yang terpilih, pasti akan selalu ada hikmah terbaik bagi ke-40 dari kami. Paling tidak, selama 48 hari kami menemukan sahabat dan pengajar terbaik. Ah, miss you guys..

Rutinitas melelahkan dari pagi hingga sore hari agaknya terasa terlalu membosankan hingga di pertengahan rentang waktu kami belajar. Untungnya kebosanan tidak lalu menjadikan kami berada di titik stagnasi, kreativitas justru tumbuh subur di saat – saat seperti ini, kreativitas membuat lelucon maksudnya, hehehe.. Entah kenapa, semakin berada di penghujung, suasana kelas justru semakin terasa sayang untuk ditinggalkan. “Kalian lucunya kok nggak dari dulu siih?” ujar Mbak Desi.

Keunikan selalu menjadi cara terbaik untuk mengenang sesuatu / seseorang. Pak Udin dengan “Ting Tong”-nya, plus “Wrong Answer” kadang – kadang, yang selalu muncul di saat – saat tak terduga sehingga keseriusan kami memudar secara tiba – tiba. Atau, Pak Rudi yang selalu berucap “In English, please” jika menemukan kami sedang asyik ngobrol dengan bahasa Indonesia. Tidak ketinggalan “Mr. Eleg-ghan” yang secara tidak langsung sudah dipatenkan menjadi nama alias Pak Gede sejak pertama kali Maureen menaruh perhatian sebegitu besarnya terhadap beliau. Dan Agi, si “Heritage Building” yang tidak pernah absen menyebutkan dua kata ajaib tersebut di setiap kesempatan speaking 2 menitnya, bahkan untuk pertanyaan “your first love?” :p

“It is undeniable that…” adalah keyword milik Pak Ronald. Akibat kata – kata ampuh introduction ini, task 2 Pak Ronald diabadikan oleh Maureen sebagai sample answer yang dibagikan ke seluruh BC-1, dan mungkin akan berlanjut sebagai contoh jawaban writing untuk kelas – kelas Maureen berikutnya. Belum lagi tulisan tangan beliau ala Monotype Corsiva yang diabadikan dalam foto bersama Maureen.

BC-1 adalah kelas BC dengan jumlah ladies terbanyak (dan tercantik? uhm.. ;p). Ada Mbak Desi di sini, the most beautiful, clever and energic student (kata pak Gede, red). Tetapi jangan sekali – kali membuatnya marah, seperti yang dialami pelayan Pizza Hut di PasFes karena telah berhasil membuat dua dari kami terpaksa absen makan siang (gpp Mbak, sekalian latian puasa, heu). The next ladies, yang paling mature, Mbak Astri. Lepasin aja si embak ini di bazar buku, huwaa se-pameran bakal diborong pulang semua keknya. Thirdly, neng Ocha alias Roza Syofiadewi, yang paling rame dan doyan cerita, asyik banget dah kalo denger Ocha cerita, apalagi kalo tentang “her fantasy partner”, hags, dudeeee….!!! :p The last, but not least, is me myself. Adakah yang ingin berkomentar tentang saya? hm, yang pasti beberapa orang akan membunuh saya kalau tiba – tiba tertawa di tengah tes listening, hiek.

Pak Yunus, master of reading, dan hobi diskusi apalagi kalo masalah GDP and Economic Growth berikut tabel – tabelnya yang luar biasa complex. Meski demikian, kualitas suara beliau tidak perlu diragukan lagi dalam hal menyanyi, dengan lagu favorit genre 70an. Hm, bicara tentang nyanyi, si bungsu Guna ga mo kalah nunjukin bakatnya. Finally, Pak Baehaki, pria Sundanese asli, terbukti dengan pelafalan “f” yang kebanyakan menjadi “p”, kadang – kadang malah kebalik, seperti kata “appear” yang diucapkan ala Pak Baehaki. Btw, beliau ini Master of Grammar-nya BC-1, mantep banget dah kalo udah ngoreksi kesalahan grammar yang seringkali kami lakukan.

Yup, that’s all 12 members of BC-1. Apapun nanti keputusannya, rasanya sudah lebih dari cukup pernah bertemu dengan orang – orang seperti kalian. Kita memang bersaing, tetapi lebih dari itu kita saling membantu. Siapapun nanti yang akhirnya berkesempatan pergi ke benua impian,  maka hal itu adalah keputusan yang terbaik bagi kita semua, pasti selalu terselip “sesuatu yang indah” di balik semua takdir, hanya saja mungkin belum waktunya untuk memahami keindahannya. Sukseeeeeeeeeeeeeees buat kita semuaaaaaaaaaaaa!!😉