Tag

,

Empat belas hari menuju pertarungan terakhir yang menentukan masa depan jenjang pendidikan adalah puncak dari segala tekanan atas minimum target yang harus dicapai. Penghiburan terbaik selalu datang tepat pada waktunya, tanpa diduga serta direncanakan, dan spontanitas seperti ini justru terkadang membawa hasil sempurna ketimbang perencanaan yang terlalu matang. Menjelang weekend dua sahabat terbaik mengabarkan perihal kunjungan seorang teman ke ibukota, such a good idea, saya sedang butuh aktifitas menyenangkan untuk membunuh tekanan batin atas hasil pelajaran yang tak kunjung membaik. Dua hari akan kami habiskan bersama.

Mangagumi kehidupan air di Seaworld, memilih dan memilah pakaian di Clothing Exhibition Senayan, hingga menikmati Culinary Festival ditemani aransemen apik milik Vicky Sianipar plus performa sempurna ala Warna, membuat Sabtu itu terlalu berharga untuk dilupakan (meski diguyur hujan dan dilanda ketegangan otot kaki yang luar biasa menyakitkan akibat kegiatan olah kaki yang hampir mendapat porsi dua pertiga bagian dari seluruh perjalanan hari itu, ditambah kelangkaan taksi karena para taxi driver lebih memilih menonton pertandingan tragis Jerman – Argentina di perempat final laga Piala Dunia). Fiuh, terdengar melelahkan? Jelas tidak lebih lelah daripada kami yang merasakannya, tetapi alunan “Gambang Suling” hasil olah nada bung Vicky mampu melunasi kelelahan kami hari itu, bahkan lebih dari cukup.

Keesokan harinya, bagian terpenting dari sebuah pertemuan, kami bercerita banyak hal, tentang masa lalu ketika masing – masing dari kami harus survive menghadapi kehidupan kampus, kebiasaan kami yang kemudian menjadi individual trademark, dan kerjasama bahu membahu dalam memecahkan solusi BounceOut di detik – detik terakhir sebelum kehancuran. Ah, indah.. Terlalu menyenangkan sekaligus mengharukan..

Taman yang Menentramkan

Rangkaian aktifitas weekend kali ini diakhiri dengan menikmati suasana menenangkan di Taman Surapati, kebetulan seorang teman setiap minggu sore berlatih menari disini, namun sayangnya tepat di minggu tersebut sang pelatih tari tidak hadir di lokasi (cup..cup..Friz, semoga latihan tarinya tidak terhenti begitu saja). Taman ini begitu sederhana, sama dengan taman – taman kota pada umumnya, namun suasana menyejukkannya begitu terasa. Mungkin karena pengaruh pohon – pohon rindang yang mendominasi hampir setiap bagian di sekeliling taman. Tidak..tidak..bukan hanya karena pohon – pohon tersebut, karena efek yang dirasakan tidak hanya kesejukan secara fisik, tetapi juga psikis, rasanya lebih dari sekedar rasa tenang.

Yang berbeda dari taman Surapati di hari minggu adalah kegiatan seni budaya yang dilestarikan di dalamnya. Di sini, orang – orang yang datang tidak hanya duduk – duduk berpasangan menikmati suasana taman, tetapi mereka terbagi dalam beberapa gerombolan dan masing – masing grup memiliki aktifitasnya sendiri – sendiri yang berhubungan dengan seni, musik, tari, olahraga maupun fotografi. Ada yang berlatih memainkan biola, gitar maupun seruling. Ada pula yang berolahraga berupa bulutangkis maupun jogging mengitari taman. Para fotografer asyik mengoperasikan SLR mereka meng-capture ekspresi si penikmat alam.

Saya hanya duduk memperhatikan apa yang mereka lakukan, sesekali berjalan mengitari taman, menghampiri burung dara yang mendarat di antara paving blok, menyaksikan kesungguhan para amatir berlatih skill dari sang senior, dan mendengarkan alunan menenangkan dari masing – masing alat musik yang sedang dimainkan. Usai berkeliling, dua violis muda baru saja usai membawakan “Toss the Feather” milik The Corrs di dekat tempat saya duduk tadinya, owh terlambat, betapa menyesalnya saya! Untungnya salah satu violis berbaik hati mempertontonkan kembali permainan biolanya, waw! permainannya sungguh mengesankan! seperti mendengarkan unplugged The Corrs secara langsung.

Tahukah anda bahwa sebagian pengajar di taman ini berasal bukan dari kalangan atas? Sang violis tadi misalnya, beberapa tahun lalu ia adalah pengamen di kota kelahirannya, Bandung. Kemahirannya bermain biola hanya karena sering melihat teman – teman pengamennya yang lain menggesek senar violin. Tidakkah terlihat begitu besar bakat seninya terpendam di dalam sana? Untungnya, Taman Surapati mampu menjadi wadah pengembangan bakat dan kemampuan orang – orang kurang mampu seperti mereka.

Taman Surapati bukan hanya sebagai tempat untuk mengurangi kepenatan rutinitas keseharian, tetapi juga sebagai wadah untuk menampung bakat dan kreativitas masyarakat, tua maupun muda, sekaligus tempat untuk melestarikan seni budaya, kalau tidak mau budayanya diklaim oleh negara lain lagi. Lalu, kenapa tidak semua kota atau bahkan tidak semua bagian kota dilengkapi fasilitas taman seperti ini? Kalau saya masih akan lama menetap di Grand Cemara maka setiap minggu sore akan saya habiskan di taman ini, berlatih tari misalnya, hanya untuk relieve my stress. Saya jadi ingat ketika masih sering menari waktu muda dulu, ada saat – saat dimana saya benar – benar hanyut dalam sebuah tarian, mengolah setiap bagian tubuh, rasanya saya menari bukan untuk mempersiapkan pementasan tetapi menikmati alunan musik dengan melentikkan jemari tangan. Ah, merindukan masa – masa dulu..