Tag

, , ,

Tantangan untuk sebuah Pekerjaan

Lemas, Penat, Terbebani. Masih teringat perasaan complicated menjelang keberangkatan-ke-luar-negeri pertamaku. Waktu itu lebih baik didera tumpukan tugas rutin harian daripada harus mengemban tugas melaksanakan misi di negeri orang. Materiku belum siap! argh, tidak ada waktu untuk berpikir dan membenahinya.

Waktu hanya bisa berjalan, tanpa bisa mengelak dari sekian masalah yang terlihat semakin lama semakin membesar. Mentalku tidak disiapkan untuk menerima berbagai tekanan dan beban pikiran ketika kondisi kesehatan berada pada titik terburuk. Tetapi harus tetap dihadapi, apapun yang terjadi, seperti sudah menjadi harga mati buatku.

Mendekati hari H mentalku tidak kunjung membaik. Butuh beberapa support dan arahan. Entahlah, seperti benar – benar menjadi hari – hari terburukku, meskipun selalu ada keyakinan bahwa saya akan mampu melewatinya, dengan dukungan orang – orang terbaik di sekeliling. Saya depresi, rasanya selalu ingin menangis, dan saya benar – benar menangis.

Untungnya H-1 adalah hari terbaik di antara seminggu-terburuk-ku, semua orang membantuku. Subhanallah, terimakasih temans. Cukuplah bekalku untuk menghadapi seminggu berikutnya.

Hari Keberangkatan

Pagi terasa bangun lebih awal daripada subuh. Tidur-dua-jam-tanpa-nyenyak lumayan memberatkan dua kali lipat setiap bagian tubuh. Bukan karena mengerjakan sesuatu, tetapi dua jam sebelumnya pikiran dan perasaan ini belum sanggup menyerah kepada lelap. Tuntutan tugas dan tanggung jawab menyegerakan sel – sel tubuh untuk mempercepat waktu regenerasinya. Packaging barang – barang pribadi belum dilakukan, harus beres sebelum jemputan tiba.

Terbiasa berkemas dikejar waktu ternyata mampu mempertahankan ingatan akan benda – benda yang wajib dibawa setiap kali keluar kota, meskipun selalu saja akan ada yang tertinggal. Hm, sejujurnya perjalanan kali ini membuat diri sedikit nervous. Walaupun tidak lebih jauh dari perjalanan terjauh yang pernah ditempuh, namun status melintasi batas negara menjadi fakta penting yang sulit untuk tidak dipertimbangkan. Segala sesuatunya terlihat kabur. Ini pertama kalinya meninggalkan negara tercinta, meskipun hanya untuk beberapa hari.

Rush hitam tiba, acara berpamitan pun dilangsungkan secepat kilat. Aku pergi ibu, dan aku butuh dukungan. Satu tas jinjing berisi pakaian, satu tas selempang berisi dua laptop, satu tas ransel berisi perlengkapan-wajib-bawa, dan dua kotak dus berisi speaker dan monitor layar sentuh menjadi tanggung jawab pengawasan saya hingga pulang nanti. Untungnya ketiga barang selain tas laptop dan ransel layak dititipkan di bagasi pesawat nanti.

Lima dari sebelas anggota rombongan sudah menunggu di tempat berkumpul untuk siap menuju bandara, tempat akhir bertemunya keseluruhan anggota rombongan. Hm, kami menunggu di gedung VIP, juga untuk pertama kalinya bagi saya, maklum beberapa anggota rombongan adalah orang penting di jajaran eksekutif dan legislatif daerah. Seperti biasa, maskapai penerbangan yang akan membawa kami terbang ke Malaysia mengalami keterlambatan, tidak lama, sekitar satu hingga dua jam penantian. Eh iya, tidak seperti kebanyakan penumpang ke luar negeri lainnya, lagi-lagi karena kondisi spesial berpergian bersama orang penting, maka urusan boarding dan tetek bengek keimigrasian sudah didelegasikan kepada orang lain. Dan hasilnya, paspor saya mendapatkan cap keimigrasian yang pertama, yuhuuu…party2! *lho?!*

Melintasi Batas Negara

Penerbangan tidak-sampai-satu-jam-melintasi-batas-negara terasa sama saja dengan penerbangan satu-jam-lima-belas-menit-ke-Jakarta. Yang terlihat berbeda adalah kondisi bandara internasional Malaysia di Kuching. Sambil berjalan menuju counter imigrasyen, mata saya tertuju pada plang-plang informasi penunjuk arah, takjub pada susunan kosakatanya. Ketibaan, Perkhidmatan Bagasi, Perlepasan, dan beberapa istilah “asing” di telinga saya.

Balai Berlepas

Bandara International Kuching

Usai membereskan para bagasi yang paling tidak harus diangkut dengan minimal 4 troli penuh, kami masih sedikit harus berurusan dengan petugas imigrasi yang mengkhawatirkan konten barang bawaan kami. Karena memang pada dasarnya tidak bermaksud merugikan, kami akhirnya diperbolehkan melewati pos penjagaan tersebut, dan menuju ke pintu keluar.

Oya, perjalanan udara kami belum usai, masih harus menempuh jarak tempuh yang lebih jauh daripada Pontianak – Kuching, karena kami harus sampai ke Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. State of Sabah terletak di ujung timur Borneo (Pulau Kalimantan), tepatnya beberapa senti di atas wilayah provinsi Kalimantan Timur, Indonesia jika diukur di atas peta berskala 1 : 250.000

the fourth cart

Penerbangan ke Kota Kinabalu dijadwalkan baru akan berangkat kurang lebih pukul 21.00 waktu Kuching, masih ada waktu sesorean untuk mampir sejenak menikmati Kuching. Untuk memperingan barang bawaan, sengaja kami cek-in siang itu pula, yang menghabiskan waktu cukup lama, tidak kurang dari dua jam menunggu. Hal ini dikarenakan sistem pembelian tiket dan pembayaran bagasi yang berbeda dengan yang biasanya berlaku di maskapai penerbangan umum di Indonesia. Jika kita (saya, red) terbiasa dengan jatah bagasi per seat yang sudah ditentukan batas kg maksimumnya (kecuali untuk kelebihan), maka di salah satu maskapai penerbangan termurah di Asia, satu tiket penerbangan untuk satu orang hanya berlaku untuk satu macam / tas / kotak barang bagasi, selebihnya harus membayar lagi beberapa ringgit (program 7kg luggage).

Riverside Majestic, somewhere at Kuching

waiting for the minibus

next – Akses Telekomunikasi Indonesia – Malaysia