Tag

Awan Colombus Nimbus cukup terang untuk membangunkan siapa saja yang masih tertidur pulas pagi itu, apalagi mereka yang masih berada di atas tempat tidur dengan jendela kamar terbuka. Ibu-ibu memang suka membangunkan anak-anak mereka sepagi mungkin sehingga jangan harap masih ada gorden yang tergerai menutupi setiap jendela di dalam rumah. Sedangkan anak muda lebih suka bermalas-malasan daripada menuruti perkataan ibu mereka yang tak jarang mengomel sampai mereka bangun dan menggosok gigi lalu membantunya mencuci piring atau menyapu lantai rumah yang disangsikan kebersihannya.
Termasuk diantaranya Lorrey yang baru beranjak bangun setelah mendapat tiga ember siraman dari Wynna, adiknya yang paling penurut dibanding kelima yang lain. Tak pelak, sumpah serapah dijejalkan ke cuping telinga si bungsu sebelum dia lari terbirit-birit ke arah Ma.
“Ayolah Rey, bersikaplah lebih dewasa sedikit” ujar Ma lelah, “apakah wekermu butuh selusin baterei baru?”, Lorrey melengos masuk ke kamar mandi seolah tak mendengar sindiran yang setiap pagi ditujukan kepadanya.
Belum sampai daun pintu dikatupkannya, tubuh Lorrey melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh berdebam di lantai. Calend dan Ralph berbelok ke ruang makan, masih berkejaran. Dengan tangannya yang panjang, Calend menggapai kerah baju Ralph dan menariknya sekuat tenaga hingga jatuh. Ralph meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kakak ketiganya, meski tubuhnya jauh lebih kecil namun kekuatan yang dimilikinya tak boleh diremehkan. Alhasil, terjadilah pergulatan seru antara keduanya di satu sisi ruangan yang kosong.
”Hei, Berhenti !! aku tak mau lagi menjahit bajumu yang robek-robek karena tak pernah hentinya kalian berkelahi” omel Ma tanpa menyela kegiatannya membakar roti untuk sarapan seluruh anggota keluarga, ”sudah cukup sebulan ini kalian menghabiskan simpanan keuangan rumah tangga untuk membeli seragam baru”.
”Aku juga tak mau tulangku sampai patah gara-gara ditabrak kalian setiap hari” sambung Lorrey memarahi kedua adiknya yang belum selesai bergelut, malah semakin seru. Tangan kirinya memegangi punggung bagian bawah sambil meraba-raba rusuknya kalau-kalau ada tulang yang patah. Tapi Ralph seakan tak mendengar apapun kecuali bunyi kepalan tangannya yang sedang berusaha memukul bagian tubuh Calend yang tak terlindungi, demikian pula Calend yang sekarang menyiapkan taringnya untuk menggigit lengan kanan Ralph. Mereka berusaha melumpuhkan satu sama lain, menjambaki, memukul, menendang dan menggigit sampai Ralph berhasil meraih telapak tangan Calend dan menekuknya ke belakang punggungnya sendiri.
”Aww..! Oke,oke, aku menyerah” rintih Calend disertai ringisan di wajahnya. Tanpa ampun Ralph menekan tangannya lebih keras sekaligus memelintirnya. “Baiklah, aku akan membawakan tas dan peralatan sekolahmu, mengantarmu sampai masuk ruang kelas”, Ralph menaikkan tangan Calend hampir sampai lehernya dan menekannya lebih kuat lagi, “Aw..aw..!! ..dan juga…bekal makananmu…” Calend menyerah dan Ralph membebaskannya. Ia bangun dan sebelum sempat bergerak untuk membalas kekalahannya, Ma sudah berdiri diantara mereka, memelototi keduanya, dan dengan isyarat matanya menyuruh Calend merapikan seragam serta rambut panjang hitamnya, mengikuti Ma ke dapur untuk membantunya menyajikan roti panggang manis ke meja makan.
Lorrey membungkuk-bungkuk, kali ini memeriksa lututnya siapa tahu menemukan darah beku di balik kulitnya yang terasa nyeri, dan dugaannya benar, lebam berbentuk bulatan sebesar kacamata Grandpa berwarna ungu gelap kehijauan menghiasi paha bawah beberapa milimeter di atas lututnya.
“Awas kau Calend, Ralph!” umpatnya pelan penuh dendam.
Acara makan pagi dimulai sejenak setelah Pa menduduki kursi kepala keluarga. Tak ada suara kecuali bunyi pisau dan garpu yang bergesekan di atas piring masing-masing, dan cerita Ma panjang lebar mengenai kelakuan Calend dan Ralph lima menit yang lalu kepada Pa. Tapi ketika hendak menghabiskan makanan pencuci mulutnya, tiba-tiba Pa teringat sesuatu.
”Tunggu, Lorrey, mengapa kau belum berpakaian? Bukankah ini hari pertamamu di SMU Goldrose?”
Lorrey tersedak air teh yang baru seteguk diminumnya, tubuhnya bagaikan disengat listrik berkekuatan 3000 volt. Tanpa memberi kesempatan paru-parunya menarik nafas, dia berlari meninggalkan meja makan dengan sangat tergesa-gesa sehingga menjatuhkan piring makan yang masih berisi seperempat potongan roti. Keluarga Whitecloud lainnya saling berpandangan.
“Dia lupa, kurasa” komentar Ma.

*to be continued*