Tag

, , ,

Hiburan buatku adalah membaca novel Harry Potter diiringi melodi melankolis milik James Hannigan. Hiburan menurutku adalah menyendiri dan menulis. Mencuci bertumpuk pakaian kotor bukanlah bekerja ketika ditemani suara merdu Gita Gutawa yang mengalun merdu melalui speaker kepala. Bepergian ke mall akan terasa kurang lengkap jika belum menjejakkan kaki di toko buku, meskipun sekedar membaca sampul depan novel asing keluaran terbaru.

Setiap individu mempunyai cara menghibur masing – masing, yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya. Meskipun ada pula cara – cara yang dianggap lazim dan umum, misalnya mengunjungi tempat – tempat wisata atau menghabiskan waktu hanya untuk “berbelanja jendela”. Well, yang terpenting adalah tujuan utama dari menghibur itu terealisasi sempurna, relaksasi terhadap ketegangan otot – otot yang senantiasa dipaksa bekerja keras, mengendurnya syaraf di kening yang seringkali diajak berpikir keras, atau sekedar melepaskan penat yang terkungkung dalam kalbu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cara seseorang menghibur diri dipengaruhi kuat oleh kebiasaan, lingkungan sekitar dan fasilitas yang tersedia. Kebiasaan seringkali merupakan wujud nyata dari “cara didikan” di level terendah komunitas manusia, yaitu keluarga. Bisa saja suatu cara menghibur diri diwariskan secara turun temurun terhadap anak cucu. Meskipun belum didukung oleh persentase fakta ilmiah hasil penelitian formal, secara umum dapat diketahui bahwa Tingkat rileks dan zona aman dalam sebuah keluarga cenderung tidak jauh berbeda satu sama lain. Keluarga ilmuwan misalnya, mempunyai cara menghibur diri dengan membaca beberapa tumpuk buku ilmiah, atau mengurung diri dalam ruang laboratorium tertutup.

Lingkungan sekitar menempati posisi kedua dalam mempengaruhi cara seseorang menghibur diri. Sebagian karena pengaruh teman sepergaulan. Gengsi dan egoisme diri biasanya turut berperan penting dalam menciptakan gaya menghibur diri, yang sayangnya terkadang justru melenceng jauh dari konsep relaksasi / ketenangan yang sesungguhnya. Hal ini rawan terjadi di usia remaja, ketika seseorang berlomba mencari jati diri.

Pengaruh yang terakhir adalah fasilitas umum yang tersedia. Dulu, seseorang dapat menemukan caranya sendiri menghibur diri tanpa harus menghabiskan uang receh demi parkir di mall, anak – anak lelaki tidak harus bermain game online untuk menghibur diri, wanita tidak juga perlu berulang kali menggesekkan kartu kredit untuk berbelanja pakaian mahal. Kesemuanya menjadi demikian karna adanya fasilitas yang mendukung. Sedangkan di sisi lain, sebuah cara menghibur diri akan segera punah karena kurangnya ketersediaan fasilitas. Permainan layang – layang atau kelayang mulai sulit ditemui di daerah perkotaan karena tidak adanya lahan kosong tanpa jaringan listrik dan tidak mengganggu pengguna jalan.

Yeah, tanpa sadar kita juga turut menyukseskan kepunahan cara – cara tradisional menghibur diri yang tidak sedikit mengandung unsur edukasi. Sebutlah permainan congklak yang berarti sama saja dengan belajar berhitung tingkat dasar dengan cara yang sama sekali tidak menimbulkan stres terhadap anak. Atau permainan lompat tali yang menguji kemampuan atletik seorang anak. Well, begitulah manusia, menciptakan kemudahan sekaligus menghancurkan sumber ketenangan yang lainnya.

Iklan