Tag

Dulu, ungkapan ini selalu saya anggap sebagai “Ungkapan Munafik”. Bohong kalau Cinta tidak ingin memiliki, munafik rasanya jika cinta tidak menimbulkan ego untuk saling memiliki. Terlepas dari faktor sosial dan agama, cinta selalu mempunyai keinginan untuk memiliki.

Dulu, saya pikir, cinta adalah sesuatu yang patut diperjuangkan. Cinta adalah bagian terpenting dalam hidup manusia. Tentu saja yang dimaksud disini adalah cinta antara seorang pria dan waria, eh wanita.

Namun sekarang, saya mulai mengerti arti ungkapan tersebut. Bahwa cinta tidak harus selalu memiliki adalah suatu hal yang nyata, benar adanya, bahkan ketika kedua belah pihak benar-benar merasa saling mencintai.

Humm..pasti anda lalu bertanya-tanya kan, ada apa nih dengan Fifi? sedang putus cinta ya? sedang meratapi kisah cinta yang tidak berakhir bahagia ya?? heheu.. tidak..tidak..tepatnya, saat ini bukan hal tersebut yang saya rasakan, setidaknya bukan pada saat tulisan ini dibuat. Seringkali ide tulisan muncul karna memoar yang tiba-tiba merebak, atau dari hasil menelaah peristiwa – peristiwa yang terjadi di sekitar, bahkan mungkin mendeskripsikan pengalaman orang lain.

Banyak hal yang membatasi keinginan sepasang manusia untuk mengabadikan cinta mereka. Ego pribadi, faktor keluarga, lingkungan, maupun faktor eksternal lainnya. Beberapa hari lalu, seseorang berkomentar di tulisan lawas saya tentang <a href=”https://pipiew.wordpress.com/2008/08/02/ryan-pahlawan-kaum-gay”>gay</a&gt;. Beliau mengakui identitas pribadinya sebagai seorang laki-laki yang mencintai pasangan sejenis. Salutnya, beliau ini berusaha sebisa mungkin untuk tidak terjerumus kedalam hubungan yang lebih intim, walaupun rasa cinta sudah sedemikian hebatnya terhadap pasangan sejenisnya tersebut. Mungkin itu Cinta, namun cinta tidak harus selalu dituruti.

Ada faktor-faktor penting lainnya yang harus dijadikan landasan yang lebih prinsipiil. Ketika cinta menggelora, hal lain selain cinta akan terasa hilang, mengabur di balik bayang-bayang rasa cinta. Namun di tengah kekaburan itu, logika dan keyakinan harus tetap berpegang teguh pada Al-Haq yang menciptakan manusia. Faktor sosial, alam sekitar adalah hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari diri seseorang. Ada norma-norma keagamaan dan kemasyarakatan yang harus menjadi pertimbangan setiap tindak-tanduk masyarakat sosial. Bukan berarti pembatasan terhadap ruang gerak, tetapi lebih kepada kontrol diri pribadi sehingga apapun yang dilakukan diharapkan lebih banyak membawa kebaikan daripada mudharat kepada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitar. (PPKn banget si bahasanya, heu..)

Mencintai seseorang dari latar belakang yang berbeda, mencintai seseorang yang sudah berkeluarga, mencintai sesama jenis, atau mencintai seseorang yang dipengaruhi kediktatoran keluarga. Apapun itu, cinta memang tidak pernah salah, yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi rasa cinta tersebut, akan tetap dipupukkah hingga tumbuh subur, atau sedikit demi sedikit membatasi porsi rasa cinta yang boleh dirasa, atau mengalihkannya dengan cara mencintai seseorang lain yang lebih pantas dicintai. Yang pasti, memutuskan tali silaturahmi bukanlah jalan terbaik untuk memahami rasa cinta secara bijaksana.

Bicara memang gampang, apalagi jika diungkapkan dengan tulisan. Saya tahu rasanya jatuh cinta, tahu juga rasanya harus berpisah, tahu juga ketika cinta harus mengalah pada hal-hal di luar kuasa manusia, tahu juga ketika cinta datang tidak tepat pada waktunya. Dan Alhamdulillah sampai detik ini masih diberi kesabaran untuk melewati berbagai cobaan. Yakinlah, kita semua bisa menghadapi tantangan kisah cinta masing-masing. Saya lihat, ada beberapa orang yang sudah menikah namun masih mendapat tantangan percintaan mereka sendiri. Semua cinta adalah anugerah, namun pengelolaannya kembali pada diri kita masing-masing.

Maka dari itu, bercintalah, ungkapkanlah rasa cinta anda, namun bersikap bijaklah layaknya seorang manusia yang berketuhanan dan berkemasyarakatan. Semoga sukses!! *lho* ;p

Iklan