Tag

, , ,

Seminggu yang lalu, beberapa hari setelah pulang dari perjalanan ke luar kota, tiba-tiba bos memerintahkan segera mencari pinjaman notebook untuk menginput data Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2009. Perintah yang mendadak, serta daftar inventaris barang yang lebih banyak membingungkan membuat saya memutuskan untuk mengikutsertakan Cassie saja, hitung-hitung supaya dia bergaul dengan sebangsanya di luar rumah sesekali.

Dengan berbekal data terakhir RKA manual berformat excel, saya dan mbak Dety menuju aula Dinas Pertanian, tempat penginputan data. Tiba di lokasi, saya sempat takjub melihat situasi di dalam aula. Lebih dari 100 orang berseragam hansip tengah serius bekerja di depan notebook masing – masing. Sulit mendapatkan kursi yang masih kosong berikut kabel UTP-nya, seorang panitia membantu kami mencarikan tempat.

Tiba – tiba seseorang lain memanggil saya, “oi Pi, ngapain kau kesini?” tanya si Timul. Saya dan si Timul atau Bubul ini memang sudah terbiasa akrab, sehingga tidak ada istilah kasar lagi pada apapun kalimat yang kami gunakan. Di sisi lain, salah seorang teman Prajabatan juga menyapa, “Lho, fi, kok baru datang?”, sebegitu surprise-nya mbak Novi mempertanyakan kedatangan saya yang sangat terlambat itu. Kegiatan ini memang telah dimulai sejak tiga hari sebelumnya. Di meja berikutnya, bang Sugeng bertanya-tanya ingin tahu “Belum nginput sama sekali??”, saya mengangguk.

Keheranan saya terhadap terkejutan teman – teman saya tersebut baru terjawab ketika saya mulai menggunakan aplikasi SIPKD. Semula saya berpikir it can be so easy when i have the xls files, but i was wrong! copy-paste? lupakan saja! atau, mencoba menggunakan fasilitas export impor? uh, ternyata hanya berlaku untuk file sql. Dan proses penginputannya pun tidak lebih sebentar daripada membuat file manual, beuh!

Stress seketika itu perlahan – lahan mengendur mengingat kegiatan masih akan berlangsung seminggu lagi, full-time, pagi hingga malam. Lagipula system ini justru akan memudahkan proses pembuatan anggaran selanjutnya, yaitu Dokumen Pelaksanaan Anggaran di awal tahun nanti, tanpa khawatir ada kesalahan manual yang sering terjadi. Dan saya berharap aplikasi ini juga mensupport pembuatan laporan SP2D dan realisasi anggaran sepanjang tahun berjalan, sehingga laporan penggunaan dapat berjalan secara real-time, serta meminimalisir kesalahan manual.

Enam hari saya lewatkan sebagian besar waktu di aula Pertanian. Tidak full, kebanyakan waktu siang saya habiskan di kantor, karena pekerjaan yang harus segera diselesaikan bukan hanya membereskan anggaran. Bekerja di malam hari pun harus terpotong waktu Les, rasanya rugi jika absen, karena setiap pertemuan dengan Mrs. Isti sangat penting, ya begitulah jika kita sudah menemukan guru yang mudah memberikan pemahaman kepada muridnya.

Enam hari berturut-turut, siang dan malam, aula Pertanian selalu berisi pegawai – pegawai yang menahan lelah demi terselesaikannya pekerjaan. Siapa bilang PNS hanya bisa pulang awal dan bersantai all the time?? Siapa berani bertaruh bahwa PNS tidak pernah lembur dan pulang malam bahkan pagi? Atau PNS hanya ongkang-ongkang kaki sambil membolak-balik koran setiap pagi? mungkin itu PNS versi lain. Tapi kali ini saya membuktikan sendiri, berpuluh – puluh manusia ini terlihat antusias menyelesaikan tanggung jawabnya. Saya pribadi tidak terlalu asing dengan aktivitas ekstra semacam ini. Setiap kali pameran pembangunan akan berlangsung, hukumnya makruh kalau tidak pulang larut malam membereskan data dan aplikasi. Bahkan ketika mendata perolehan medali Pekan Olahraga Provinsi dua tahun yang lalu, setiap hari dalam seminggu minimal baru bisa pulang pukul 2 dinihari, dan harus standby lagi pada pukul 8 keesokan paginya. Lelah, tetapi ada kepuasan ketika tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik. Saya yakin anda-anda pun tentu pernah mengalami kesibukan seperti ini bukan?

Sejujurnya, saya bosan setiap kali mendengar profesi PNS tampak diremehkan. Mungkin sebagian dari pendapat umum memang benar adanya, tapi tidak semua Pegawai Negeri Sipil bermartabat rendah seperti itu. Saya sekarang sudah cukup terbiasa dengan pandangan demikian, biasanyaΒ  saya hanya tersenyum ketika mendengar seorang non-PNS memberikan pandangannya tentang PNS. Saya tidak mampu membela terlalu banyak, karena terkadang saya sendiri pun kecewa dengan apa yang terjadi di dalam tubuh organisasi PNS sendiri, oke anggaplah itu oknum, dan masalah budaya kerja. Tapi, kondisi sekarang bukan berarti berlaku seterusnya hingga akhir jaman. Masih ada secercah harapan, dari orang-orang dengan antusias bekerja seperti berpuluh-puluh orang di aula Pertanian tersebut, dari atasan-atasan yang menyatakan berperang terhadap penyalahgunaan dana kegiatan, dan dari anak-anak muda seperti kita, yang tetap bertahan pada idealisme kebenaran. Indonesia akan menjadi lebih baik Kawan, Percayalah! πŸ™‚

Iklan