Tag

, ,

Sudah menjadi tradisi setiap kali sebuah keluarga mengadakan hajatan, maka seluruh keluarga besar ikut turun tangan membantu terselenggaranya acara dengan baik. Kemarin, Bude dari sebelah Bapak menggelar pernikahan anak kelimanya. Tiga hari sebelum hari H seluruh saudara sudah berkumpul di rumah si empunya hajatan, dari mempersiapkan masakan, perlengkapan sampai dekorasi ruangan.

Yang paling menyenangkan dari acara – acara menyibukkan semacam ini adalah berkumpulnya semua saudara, baik jauh apalagi dekat. Sambil bekerja biasanya acara reunian mulai digelar, terutama bagi para ibu-ibu generasi lima puluhan ke atas. Sambil menyunduki sate, mereka mulai bernostalgia ke masa-masa sebelum hijrah ke tanah Kalimantan. Lucu sekaligus prihatin membayangkan kehidupan di sebuah kampung pada salah satu sudut Sleman, Yogyakarta. Disebutlah nama-nama daerah seperti Mbojan, Sambiroto, Nggasari, dsb.

Para ibu-ibu begitu fasihnya bercakap-cakap dengan bahasa Jawa halus yang cukup saya mengerti, walaupun seringkali terbentur pada minimnya kosakata yang bisa saya terjemahkan. Berbeda dengan para keturunannya yang paling banter bisa berucap inggih-mboten-inggih-mboten, kecuali versi kasarnya, hehe. Di Pontianak, para keturunan darah Jawa yang sudah meluntur ke-Jawa-annya sering dikenal dengan istilah JAPON alias JAwa-PONtianak, termasuk saya tentunya :p

Topik yang diperbincangkan biasanya seputar saudara-saudara sekampung yang masih bertahan disana, kemudian bernostalgia akan kegiatan menanam dan menjemur padi, atau kisah-kisah menyenangkan di sekolah rakyat. Namun topik yang paling menarik dalam obrolan reunian adalah Kisah Cinta Pertama (ga dimana – mana ya..ck..ck..). Ada yang sudah berpacaran secara sembunyi – sembunyi selama bertahun – tahun tapi harus berpisah karena tidak disetujui oleh pihak keluarga akibat perbedaan status ekonomi, ada pula yang Cinta Pertamanya adalah pada pernikahan pertamanya (witing trisno jalaran soko kulino), ada lagi yang menjadi perantara surat-menyurat cinta antara abang dan teman sekolahnya, dan sekarang masing-masing dari mereka telah mengemong cucu. Tentu saja, setiap orang pada akhirnya akan melalui jalan hidup yang telah digariskan.

Demikianlah Obrolan-obrolan seru di sela-sela kesibukan membungkus lemper, dan sekaligus berperan dalam rangka mempertahankan mata supaya tetap standby hingga kerjaan selesai, hehe..lucu juga mendengar reunian para orang tua :p Bagaimana nanti ya kalau saya sudah tua? apa yang akan diceritakan?πŸ˜€

000102000103p1010183