Tag

, ,

Semoga belum terlambat demi mengisi peringatan Hari Pahlawan beberapa hari yang lalu dengan semangat Sumpah Pemuda yang juga baru diperingati beberapa waktu lalu.

Pemuda dan Pahlawan, dua sosok kuat penggerak nasionalisme. Jika Sumpah Pemuda dicetuskan 80 tahun yang lalu untuk mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa pada masa itu, maka Sumpah Pemuda Kedua mestinya mendesak untuk segera diproklamirkan, kecuali sisa-sisa semangat di tahun 1928 tersebut masih cukup membara untuk membakar jiwa-jiwa muda Indonesia yang kaya potensi. Iya, pemuda adalah motor kehidupan berbangsa, dimana sumbu regenerasi mulai disulut.

Pemuda, dengan pemikirannya yang kritis dan inovatif adalah aset penggerak dinamisme kebangsaan ke arah yang lebih baik, tanpa meninggalkan pemikiran bijak ex-pemuda (baca : tetua) yang kaya pengalaman. Tapi sayang, tidak semua Pemuda Indonesia seperti yang diharapkan. Indonesia tidak lagi membutuhkan Pemuda yang pesimis, pemuda penuntut tanpa solusi, pemuda dengan intrik kekerasan yang tidak konstruktif, pemuda yang menganggap kebiasaan buruk adalah hal biasa, bahkan ironisnya semakin mempertahankan budaya menghabiskan uang negara tanpa imbangan hasil kerja dan/atau pemikiran pembangunan.

Pemuda, bukan hanya saya dan anda, tetapi sekitar 86.017.500 penduduk Indonesia adalah Pemuda. Bayangkan jika 80% dari 86 juta jiwa tersebut memberdayakan sebagian kemampuannya untuk memikirkan nasib bangsa, dengan landasan semangat persatuan, maka kita semua akan menjadi Pahlawan Masa Kini. Kita tidak lagi memerlukan bambu runcing, tetapi cukup dengan otak runcing. Kita juga tidak lagi perlu berlari menerjang musuh di medan perang, tetapi cukup menerjang kemiskinan yang melanda 17,75% masyarakat Indonesia.

Anda semua adalah pahlawan, kita semua adalah pahlawan, seberapapun sumbangan yang direlakan demi Indonesia yang lebih baik. Terdengar berlebihan kah? paling tidak sila ketiga dari Pancasila sudah dan sedang kita rintis, dengan langkah yang cukup mudah, sekedar berkunjung ke situs saudara-saudara dari Sabang sampai Merauke, sama saja artinya dengan menjalin kembali Persatuan, meskipun dari dunia maya toh kita tetap saja satu Indonesia, ya kan? Merdeka!!

Iklan