Tag

Aroma setanggi dan daun pandan menyambut langkah kaki kami menuju tempat peristirahatan terakhir. Entah siapa di jaman sekarang ini yang masih menjalankan kepercayaan bahwa dengan membakar setanggi berarti dapat memanggil arwah yang sudah tidak lagi bernyawa. Ah, aku benci bau itu, apalagi ditambah alasan karena hidungku sangat sensitif terhadap bau-bauan tajam.

Menghentikan putaran roda, meletakkan tunggangan dengan rapi, dan menitipkan pelindung kepala kepada bapak penjaga kendaraan menjadi awal perjalanan kami menyeberangi danau dadakan akibat hujan deras sepagian tadi. Suasana pemakaman ramai, padahal ini sudah jam 10, waktu yang terlalu siang untuk berziarah kecuali di hari minus satu sebelum Ramadhan. Pengunjung yang belum tentu setengah tahun sekali menjenguk kerabat (termasuk ‘ku) pun terlihat begitu antusias menebar bunga-bungaan di sekitar pusara. Mengapa hanya terjadi di hari menjelang Ramadhan atau Syawal saja? (bertanya pada diri sendiri).

Hah, kemana sajakah aku selama ini? ada, di rumah..
Lupakah aku pada kematian? ya, seringkali..
Uhh, kalau saja bukan karena Kemurahan Sang Maha Pemberi Kehidupan, aku mungkin saja sudah ikut terbenam di kaplingan tanah seluas dua meter persegi itu.

Aku bukan tidak mungkin kehilangan segalanya kalau saja ada kendaraan berkecepatan tinggi melindas kepalaku di penghujung tahun lalu, saat kesadaranku hilang akibat tindakan ceroboh menembus remang bergerimis demi alasan yang sangat duniawi.

Kemana syukurku sayaang?? bahkan menjenguk orang paling berarti dalam hidupku saja tak pernah, kemana baktimu nanda?? siapa lagi yang akan men-supply doa kalau bukan para darah daging yang dinafkahi semasa hidupnya, tapi..apakah aku cukup sholehah untuk meringankan beban deritanya yang sudah tiada?? aku..adalah manusia tak berguna yang mengendus kehidupan tanpa syukur.. ah, betapa nistanya diriku..

Iklan