Tag

, ,

Sabtu kemarin, setelah rampung mengantarkan dan menemani mbak Vega berobat jalan, kami bertiga (Fi, Qansa & Bundanya) langsung meluncur menuju pusat hiburan dan perbelanjaan terbesar di Pontianak, dengan tunggangan mbak Vega yang semakin nyaman tentunya, thanks mbak Vega..

Mendapat informasi dari koran lokal yang menyebutkan bahwa supermarket di pusat perbelanjaan tersebut sedang menawarkan diskon besar-besaran untuk produk tertentu, maka kami pun telah berencana untuk menghabiskan sisa siang itu untuk berbelanja produk-produk tertentu bertanda khusus tersebut (tips : jangan sekali-kali membeli barang dengan harga premium di toko tersebut, karna dijamin harganya akan lebih mahal sampai dengan 20% dari harga standar di supermarket sejenis lainnya << pengalaman pribadi).

Pampa Qansa, peripheral Bunda & Aunty-nya yang jumlahnya hanya 6 item telah memenuhi keranjang jinjing berwarna merah, bahkan sampai kebingungan untuk meletakkan beberapa kotak susu cair perbekalan Qansa. Ketika melewati counter Kecap faporit, wiw ada diskon lumayan gede untuk pembelian sekaligus dua barang. Karna ga pernah absen dengan ni Kecap & selalu kebingungan tatkala ujung botolnya tinggal tersisa satu tetesan, so ga bakal rugi ni kalo punya persediaan lebih. Alhasil, makin beratlah si “Merah” (isinya udah melebihi kapasitas :D).

“Dah yuk, selebihnya liat-liat aja ya..” mengingat isi dompet yang mulai berharap membuncah keluar karena semakin dilihat maka semakin terasa kebutuhan lebih banyak dari yang seharusnya. Tiba di lorong minyak, “Eh, bentar mbak Linda, kemarin di koran ada minyak yang lagi promo, lumayan tuh..”. Akhirnya dua pasang kaki *Qansa digendong* tidak mampu mengalahkan nafsu, berbeloklah kami ke counter minyak, menelusuri setiap inci merk-merk minyak goreng ternama, dan..ketika tiba di tengah lorong, sederet ruang yang seharusnya berisi beberapa puluh minyak goreng 2 liter-an terlihat kosong. Identitas minyak goreng di bawahnya (merk sama dengan kemasan satuan yang berbeda) menyatakan bahwa tempat tersebut seharusnya diduduki oleh si minyak yang lagi promo itu. “Wiw, habiis..” ya weslah, emang barang begituan wajar cepet habis, mengingat harga barang-barang kebutuhan pokok yang setiap hari merangkak naik.

Tapi, “Dek, sabar dek..sabar..” ujar mbak Linda. Kenapa? pikirku, rasanya sudah tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di tempat yang dominan berwarna kuning itu. Menoleh ke arah depan, ouwh…ya..menunggu adalah keputusan yang tepat, karena satu troli besi (mirip alas tronton berukuran mini) yang berisi belasan kotak minyak goreng promo sedang bergerak ke arahku berdiri.

Senyum yang langsung mengembang menyambut kedatangan si minyak mendadak padam karena yang kami tunggu bukan hanya lusinan minyak goreng berharga murah, tetapi juga puluhan gerak kaki konsumen yang tanpa-instruksi ikut menyerbu ke arah kami (wiw, punya salah apaa ni jadi serasa di medan perang). Ow, perebutan minyak-minyak goreng yang tak bersalah itu akhirnya terjadi, beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak berbadan kekar merangsek maju dan menghimpit diriku, aiih..mumpung posisi bagus harus dimanfaatin niih, ikutan rebutaan!!! hihi…

Dalam hati berkata, kalau saja waktu kejadian itu tidak sedang berada di posisi bagus, ga bakaal deh ikut-ikutan bergumul dengan orang-orang demi memperebutkan 2 liter minyak.  Haiih..pasti ini akibat harga sembako yang terus melonjak, setiap orang mulai mencari penawaran terendah demi mempertahankan hidup. Kita aja yang Alhamdulillah dikarunia hidup berkecukupan masih histeris menghadapi lonjakan harga, gimana dengan orang lain yang bahkan gaji sebulanpun tidak cukup untuk membeli sekarung beras? Astaghfirullah..kemana perginya syukurku??

Iklan