Tag

,

Humm..after seriously ngebahas si Fitna yang rada bikin heboh kemaren, now de time to relax…

Masih tentang film, dan masih dari produksi luar negeri, kali ini berasal dari Korea, “The Way Home” khusus diperuntukkan kepada semua Nenek di seluruh dunia (demikian pesan tertulis dari sutradara di akhir cerita). Sesuai dengan peruntukannya, film ini memang bercerita tentang hari-hari seorang nenek di sebuah desa terpencil (sangat terpencil) bersama cucunya yang sengaja dititipkan oleh sang Ibu yang harus mencari pekerjaan baru.

Latar belakang si cucu (Sang-Woo, 7 tahun) yang terlalu terbiasa hidup di kota, membuatnya merasa sangat bosan dan menyebalkan ketika mau tidak mau harus tidur di rumah reyot, bersebelahan dengan wanita tua bungkuk yang tidak bisa bicara dan selalu meminta tolong untuk memasukkan benang ke lubang jarum untuk memperbaiki sepatunya yang sudah usang. Namun luar biasanya adalah, si Nenek sama sekali tidak pernah merasa keberatan dengan ulah nakal Sang Woo yang seringkali kelewatan. Dipukul, dihina, dicaci, toh si nenek tetap saja mencucikan pakaiannya, menawarkan permen dan gula-gula walaupun dicampakkan dengan kasar, bahkan rela ke pasar demi membelikan ayam idaman Sang-Woo meskipun akhirnya malah membuat tangis Sang woo makin meledak ketika tau ayam tersebut bukannya digoreng (seperti “Kentucky Chicken”), tetapi justru direbus dengan cocolan garam, huahaha.. *rasain lo, kebanyakan gaya, kekeke..*

Kadang pengalaman tak terduga justru membawa dampak kebaikan bagi seseorang. Demikian pula Sang Woo, dibalik tingkah lakunya yang luar biasa nakal, lama-kelamaan kekeras kepalaannya luluh ketika Nenek menjadi sakit akibat berhujan-hujanan di pasar (ya karna si ayam itu), atau si nenek yang terpaksa harus berjalan kaki dari pasar (ditinggal Sang Woo yang naek bus sebelum bus terakhir), toh si Sang Woo juga menanti Nenek dengan cemas di tempat pemberhentian bis di desanya. Namun namanya juga anak-anak ya, kebanyakan gengsinya daripada sopannya, suliit bener mo minta maaf, padahal dari hati yang paling dalam keknya yang bersalaah betul. Yah, mayanlah paling tidak mulai merasa sedikit sensitif dengan rasa bersalah. Dan akhirnya, ekspresi sayangnya kepada sang Nenek terungkapkan secara spontan ketika San Woo harus pergi meninggalkan Nenek, kembali ke kota.

Film ini dirilis tahun 2002 dan menjadi salah satu film terlaris Korea pada tahun tersebut ( kalau fi sih baru nonton makanya baru bisa komentar, huehe..ketinggalan bener yak?? ;p ). Seringkali kita terlupa pada sosok Nenek, orang tua yang melahirkan orang tua kita, orang tua dimana surga orang tua kita berada di bawah telapak kakinya, orang tua yang selalu merasa kesepian ketika orang tua kita mulai asyik mengurus diri kita dan melupakan kerinduannya, tidakkah kita sadari? padahal mereka tidak butuh apa-apa, cukup memakan dengan lahap hasil masakannya, atau mendengarkan sedikit keluh kesahnya, juga sekedar mengangguk-angguk terpana akan cerita di jamannya ketika menghadapi penjajah Belanda dulu, humm.. Embah..maapin fi..

Iklan