Tag

Beberapa minggu yang lalu secara mendadak dan tiba-tiba (ya iyalah, kalo mendadak ya jelas tiba-tiba yak?? he..), di pagi hari Isnin, beberapa menit setelah menginjakkan kaki di BKIK, dan beberapa detik sebelum meninggalkan ruangan Aparatur (untuk memenuhi panggilan *terbiasa menjadi wanita panggilan setiap kali standby di kantor*), tiba-tiba beberapa carik kertas lengkap dengan map berwana kuning disodorkan ke hadapan wajah.

“Fi, ini! coba tanya dulu ke bagian PK ada duitnya ato ndak, kalo ada telpon dulu ke panitia penyelenggara, lalu segera pergilah, hari ini acaranya dimulai” ucap Bu Nur dengan kelembutan yang dipertegas.

Wew, saat itu tentu saja terpampang raut muka bego tanpa ekspresi (kek mana tu ya??), ya jelas, ada apa dan mengenai hal apapun sama sekali tak terbayang di dalam kepala. Beberapa detik membaca secara scanning & skimming, ternyata surat tersebut bermaksud mengantarkan diri untuk diikutkan dalam Pendidikan dan Latihan sekaligus Ujian Sertifikasi Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Kondisi fisik hari itu sangat memprihatinkan, beberapa malam kurang tidur dengan porsi kerjaan yang membutuhkan stamina kuat lumayan membuat kepala berat dan mata berkunang-kunang menahan kantuk, segala sesuatu akan anda lakukan ketika saudara dekat membutuhkan tenaga anda bukan??

Setelah sibuk mengurus tetek-bengek ini-itu yang tetap saja “terbirokrasi” sedemikian rupa dengan banyak kepentingan yang ditumpangkan, akhirnya jadi juga melangkahkan kaki memasuki Grand Mahkota Hotel (baru pertama semenjak ni hotel ganti nama, hii..kuper yak..).

Seperti yang terbayangkan sebelumnya, hari pertama diklat mata tak sanggup melawan setan kantuk yang luar biasa gigihnya (untung orang-orang di sebelah ga da yang kenal, he..). Alhasil omongan Widya Iswara yang datang dari ibukota negara tidaklah 100% terdengar (nyampe 60% aja Alhamdulillah, dah gitu yang masuk otak pun susut kira-kira 30%-nya ;p ). Yang tersisa hanyalah “Keppres 80 Tahun 2003“, hiiiy..dengernya aja udah sereman, ngebaca sejumlah kata-kata formil yang punya seribu makna ambigu untuk ditelaah.

Waktu paling menyenangkan adalah ketika tubuh sampai di rumah, menyandarkan tas selempang ke tempat agungnya, meletakkan jilbab beserta pernak-perniknya di dalam tumpukan tabungan untuk akhir minggu (baca : cucian). Tapi, wait, it’s not the time to sleep bebeh..no..no..no..meskipun telah menyampaikan alasan untuk absen hadir di acara penutupan panitia hajatan, but we have to search the “Keppres”!! ( hiek..gw disuruh ikut pelatihan + ujian tanpa dikasi bekal, ato paling ngga dikasi tau hari terakhir sebelum libur weekend kek biar ada persiapan, walopun dikit..nasib ya nasib..mengapa begiiinii.. *dangdutan mode on* ).

Esok paginya, yang masih juga dengan bekal relaksasi fisik & mental yang cukup kurang, but better than yesterday, Vega-R menyaingi laju kendaraan pegawai-karyawan pagi hari. Udara lumayan segar, mampu mengisi celah-celah di antara penat dalam kepala, memberikan semangat ekstra untuk belajar.

Secara pribadi, kalau boleh memilih, dengan enteng akan keluar keputusan “Saya mundur”, why?? Pertama, persiapan jelas sangat kurang dari cukup, fisik dan psikis, tubuh masih didera derita forsiran sepanjang minggu dan pikiran masih harus dituntaskan untuk pekerjaan lalu yang menumpuk. Sedangkan waktu dua hari tidak cukup bagi seseorang yang sama sekali belum pernah membaca Keppres 80 Tahun 2003, it’s not easy man..menelaah semua kata dan akibat dari setiap kata yang tertera, memadukannya dengan berbagai kasus nyata yang seringkali terjadi, memahami dan menjatuhkan pilihan yang tepat terhadap soal ujian yang tidak jarang menjebak (makanya dari 100 orang yang ikut ujian, belum tentu 20%nya bisa lulus).

Alasan Kedua, keikutsertaan diri bukan tanpa alasan dan pertimbangan. Sebagai seseorang yang terbiasa menanamkan sikap loyalitas terhadap pimpinan tentu dengan mudah dapat disetir dari atas, atau sebagai orang yang acuh tak acuh terhadap kebiasaan pejabat yang merajalela mungkin dianggap sebagai jalan mudah untuk meneruskan “kebiasaan”nya, walaupun tidak sekali atau dua kali orang tersebut dengan sengaja menceploskan kata-kata tajam tak terbantah dengan ekspresi bego yang meyakinkan, dan yakinlah dia dipilih sebagai pilihan terakhir.

Pertanyaannya, akankah idealisme dapat dipertahankan dengan kondisi penekanan batin yang sedemikian ekstrimnya? Hal inilah yang pertama kali terpikir ketika membayangkan diri akhirnya berhasil mendapatkan sertifikat (walaupun sangat-sangat kecil kemungkinannya).

Babe bilang, “ikut aja, mahal tuh biayanya, jangan dijadikan beban tapi kalau bisa lulus”. Dan ketika menyinggung tentang ketakutan itu, he said “tolak aja, kan boleh memilih..”

Di sisi lain, sebenarnya ini adalah kesempatan emas dalam rangka mewujudkan idealisme, saat anda memegang kekuasaan maka anda dapat bertindak sesuai dengan kuasa anda, mengatur jalur sesuai dengan jalan yang anda pilih, anda berkuasa karena orang membutuhkan anda. But, can i??
Dilema..

Now, hanya berharap yang terbaik dari-Nya.. Ikhtiar sudah berlalu, berusaha sekeras mungkin walau ditemani dengan kekecewaan dan keragu-raguan.

Serahkan suatu pekerjaan kepada yang ahli di bidangnya
Hadits ini disampaikan oleh Ketua pengawas saat ujian berlangsung, sebuah tujuan utama dari penyelenggaraan ujian Sertifikasi dan diterapkannya Keppres 80 Tahun 2003. Semoga langkah ini bukan hanya manipulasi di atas kertas saja.
Wish Indonesia get well soon..πŸ™‚