Tag

Abis dari rumah Bulek di Gg. Raya II ni malem, jalanan ga seterang siang hari (ya iyalah, udah dibilang “malem“..), kendaraan laen (baca : saingan) di sepanjang Jl. Ahmad Yani juga ga serame kalo siang (jelas bo’, bukannya udah dibilang “malem“??), dan gedung – gedung pemerintahan maupun swasta ga kelihat sejelas siang hari (aiihh..apa maunya si’? kan udah dibilang “malem“, “malem” dan “malem“!!!) <– lho, kok jadi emosi sendiri? bawaan pra-bla..bla..bla.. keknya šŸ˜€

Tapi justru keadaan malam yang lengang dan gelap ini membuat para pengendara kendaraan roda dua maupun empat ( termasuk tiga dan satu kalo ada šŸ˜€ ) seharusnya semakin berhati-hati mengemudikannya. Bukan malah kebut – kebutan dan merampas hak jalan untuk pengendara lain. Menyalib sesama “jumlah roda” dari sebelah kiri, membelok pada tikungan dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan kendaraan dari arah lain, menyerobot lampu merah yang udah capek – capek dipasang pak polisi buat nertibin lalu lintas, menikung tanpa memberikan tanda, mendahului kendaraan lain tanpa peduli batas lajur jalan berikut kendaraan yang akan segera berpapasan dari arah berlawanan, dsb..dsb..

Kalo memang sudah tidak sayang lagi dengan nyawa diri sendiri, tapi mbok ya tolong dipikirkan hak hidup orang lain. Susah-susah orang lain mencukupi kebutuhan untuk bertahan hidup, eh akhirnya harus kembali gali “lubang” yang lebih dalam untuk membiayai perawatan di rumah sakit, iya kalau orang tersebut tidak harus juga menanggung hak hidup anggota keluarganya yang lain. Belum lagi rasa cemas yang berlebihan saat mengemudikan kendaraan sehingga mengurangi kenyamanan dalam berkendara, plus nambahin dosa yang makin menggunung karena mau ga mau pasti ngeluarin omelan dari mulut. *beda kalo kasusnya jatuh sendiri, hehehe.. *

Tidak hanya malam hari dan Bukan cuma dua atau tiga kali kejadian bikin “kurs semangat” kek begitu ditemuin. Bahkan sekarang, di perempatan Ahmad Yani – Ahmad Dahlan – Sultan Sy. Abdurrahman – I Gst. Sulung Lelanang, yang dulunya menjadi perempatan yang paling disiplin traffic light menurutku, para pengemudi-nya sudah mulai bandel, padahal tu perempatan selalu rame ga siang ga malem, kecuali shubuh & tengah malem šŸ˜€ gimana lagi perempatan Pancasila – Sei. Jawi yang sejak pertama didirikan si traffic light malah cuman jadi pajangan doank.

Aiih, ga ngertilah ma pikiran orang-orang yang cuma mentingin diri sendiri, sok-sokan, pamer keberanian, pengen ngebuktiin diri biar jadi raja jalanan. Ya sih gw juga ga jarang ngebut, tapi liat kondisi kali’, ga perlu ikutan ngebut kan kalo ada kendaraan lain yang lebih ngebut mo nyalibin kita? Kalo dibilang karena jumlah kendaraan di Pontianak yang makin meningkat, ga juga deh kayaknya, buktinya orang-orang yang terbiasa berkendara di Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya yang pasti jumlah kendaraannya atau kepadatan kendaraannya lebih padat daripada di Pontianak, justru ga berani berkendara disini, kalaupun diberaniin pasti banyak komentar dan pertanyaan bernada kesal mengenai ulah pengendara di Pontianak. Kenapa ya? apa karena kurangnya sangsi dan pengawasan terhadap pengguna jalan umum? atau kebiasaan yang sulit diubah?

Iklan