12 Des 2006

Ayah, knapa hidup ini terasa sulit? Sebegini sulitnyakah kehilanganmu? Padahal dulu kupikir Dia memanggilmu agar kami berlatih mandiri, bisa bertahan hidup tanpamu, tapi kenapa sekarang terasa sangat sulit? Segala sesuatu terlihat 10 kali lebih sulit daripada saat kau ada. Kau sekarang ada di tempat yang jauh lebih tenang, kau pasti bahagia di sana, ya kan? tak direcoki rentetan2 permohonan dariku, tak juga harus pusing memikirkan bagaimana mencukupi segala kebutuhanku, agar aku berhenti mengeluh, kau pun tak perlu terjaga siang dan malam untuk menjamin hidup kami sampai esok hari dan esoknya lagi, walau begitu aku tetap bisa bercerita kan? kau masih mau mendengar keluhanku bukan?

Ayah, aku tau aku harus menjaga ibu, meski dirimu tak pernah berpesan demikian di akhir hidupmu sekalipun. Aku harus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kebahagiaan ibu, begitu bukan? Aku sadar, sepenuhnya. Tapi terkadang sulit untuk melakukannya. Aku belum cukup dewasa, pasti begitu jawabmu. Ya, aku masih harus belajar banyak hal dari semua orang yang kutemui. Terkadang untuk mengorbankan sedikit saja kepentinganku dan menyisihkannya sebagian untuk ibu saja terasa cukup berat, anak macam apa aku ini? Nafsu mudaku masih terlalu tinggi.

Ayah, aku rindu. Menjelang musim durian begini, biasanya kau ajak kami keluar malam dan pulang dengan tentengan minimal 10 buah durian, he3…atau, kalau kau pergi tanpa kami, di tengah malam nanti tiba2 aku terbangun karna semilir harumnya durian di atas hidungku, hi3…kalau sudah begitu seberat apapun kantukku pasti bisa kuusir secepat kilat. Tapi sekarang, untuk mencicip satu biji saja susahnya minta ampun, walaupun kulit durian sudah berserakan dimana-mana. Dulu, hampir setiap sore kau selalu punya waktu buat kami, sekedar jalan-jalan menikmati udara kota yang tidak terlalu segar.

Ayah, begitu banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku tak ingin mengganggu ketenanganmu, aku tak ingin membuatmu risau dengan keadaan dunia, tapi aku juga tak tahu kepada siapa lagi aku harus mengeluh. Kau cukup mendengarku saja ayah, tak perlu dipikirkan terlalu dalam, aku baik-baik saja kok ayah.

Ayah, aku sungguh rindu padamu. Maafkan aku karena jarang menjengukmu, bahkan mengingatmu pun tak setiap hari, maafkan aku ayah, marahlah padaku. Aku rindu, ayah.

Iklan