PIPIEW

me, my words ‘n my mind

Kampus Biru yang Berwajah Baru

Ketika rasa rindu yang terpendam dan hampir membuncah dalam kurun waktu setahun terakhir terobati, ada rasa puas dalam batin meski harus mengorbankan sedikit waktu dan tenaga. Tak apalah, yang penting rinduku terobati..

Rasa lelah atas perjalanan 3 jam Jakarta – Bandung semalam mendadak sirna tersapu mentari pagi yang dengan semangatnya menyinari hijau pudarnya dinding Kidang no.4. Hari ini adalah jadwal mengunjungi almamater tercinta. Sms-sms singkat segera dilancarkan kepada para penghuni ITT, untunglah seorang adik kelas bersedia  meluangkan waktunya untuk berperan sebagai guide. Setelah mandi dan berpakaian dengan baju bersih yang tersisa, maka tour-keliling-kampus siap dimulai!

Perlu menumpang 2 jenis angkot untuk sampai ke Jl.Bojongsoang. The blue-angkot jurusan Kalapa – Buah Batu sudah menunggu manis di muka jl. Lembu, seakan tahu wanita yang sedang berjalan ini akan menuju Terusan Buah Batu Bandung. Untuk ukuran perantau, angkot adalah sarana utama bepergian, rasanya hari-hari tidak pernah absen menumpang angkutan kota. Jauh berbeda dengan kondisi di kota sendiri, kalau tidak ada motor pribadi rasanya malas kemana-mana (jangan pernah menawarkan oplet* ketika saya berada di Pontianak, heheheu).

Horison, Kartika Sari, Shafira, Griya Buah Batu, STSI Bandung terlewati satu persatu. Tidak banyak yang berubah, seakan memutar kembali memoar aktivitas rutin 3 tahun yang lalu. Dulu saya sering mengeluh, apalagi ketika terjebak macet, namun sekarang keluhan itu menjadi kenangan yang mengusik rindu.
The blue-angkot berhenti di depan Pasar Kordon (saya sempat lupa apa nama pasar ini), dan The green-angkot jurusan Dayeuh Kolot tengah menunggu penumpang penuh. Angkot ini juga masih sama seperti dulu, baru akan berangkat jika kursi duduk telah penuh diisi penumpang, biasanya diiringi teriakan “tujuh..lima….tujuh..lima..!!” maksudnya sisi kanan angkot harus ditempati tujuh orang, dan sisi kirinya berkapasitas lima orang. Gerah dan sumpek, namun saya masih tenang tersenyum. Ya, demi kampus biru yang dalam beberapa menit lagi akan saya sambangi.

Turun di depan Gg.Desa, dan menunggu Julfiza (sang guide) yang sudah siap menjemput. Tour-Keliling-Kampus dimulai dari Masjid Syamsul ‘Ulum (MSU). Tidak ada yang berubah, MSU masih anggun dan gagah seperti dulu, dengan balutan arsitektur kayu ala Persia yang jika sekilas diperhatikan akan terlihat mirip dengan saudara seperguruannya, Masjid Salman ITB.

Melewati sisi ikhwan MSU, kami berjalan menuju Gedung A dan B yang digunakan sebagai ruang kuliah. Beberapa mahasiswa wira-wiri memasuki pintu samping. Ada pemandangan menarik disini, tepatnya di pelataran Parkir  mahasiswa. Dulu, pelataran ini tidak terlalu padat dan didominasi kendaraan roda dua, terutama sepeda. Namun sekarang, pelataran ini sudah diperpanjang hingga ujung batas gedung dan dipenuhi berbagai jenis kendaraan bermesin. Ternyata pemandangan ini belum seberapa, di halaman antara gedung A dan gedung K (auditorium), nyaris tidak ada lahan yang terbebas dari parkiran si roda empat. Dalam hati saya bersyukur, masuk kuliah sejak tujuh tahun yang lalu, artinya saya tidak harus minder karena yang bisa saya andalkan hanyalah dua kaki sempurna pemberian Lillahi Ta’ala, Alhamdulillah..

Dari depan gedung B, kami berbelok kiri ke arah gedung C dan D. Fungsi masing – masing gedung saat ini sudah banyak berubah, saya sendiri menjadi bingung menghafalnya. Yang saya ingat, gedung D adalah gedung Lab dimana WFM Radio berdiri, kepanjangan WFM sendiri saya sudah lupa, padahal di tahun pertama saya sempat mengudara setiap Selasa Malam membawakan acara News & Information. Dan setiap kali akan mengudara, sebelumnya saya wajib mendatangi kamar-kamar di asrama putri untuk mengambil titipan pesanan (request) lagu dan salam dari teman-teman. Tapi sayang, di tahun kedua dan ketiga semenjak saya bergabung, lab ini mengalami kendala teknis sehingga siaran  terhenti untuk sementara waktu, dan pembelotan saya terhadap jurusan pun berakhir (WFM adalah Lab milik jurusan Elektro).

Gedung I, kopma, bank, kantor pos, GSG tidak banyak yang berubah. Hanya ada satu pemandangan unik di belakang lapangan tenis antara kantin dan Student Center. Sebuah rumah, seperti villa, tampak megah berdiri, Palm House namanya. Sampai tahun terakhir menginjakkan kaki di STT, bangunan kos-kosan ini belum ada. Saya tidak berani membayangkan berapa biaya kos yang harus dibayar oleh mahasiswa setiap tahunnya. Sekali lagi saya bersyukur, untunglah saya masuk kuliah pada tahun 2001.Kemudian saya beranjak ke SC, hanya melihat dari luar, karna yakinlah tidak satupun anak SC mengenal saya saat ini, hehe. Beberapa bangunan masih tampak sama, wall climbing, tower, sawah, dsb.

Mengelilingi setengah dari seluruh wilayah kampus yang dihiasi hektaran sawah, sampailah saya di bangunan baru, gedung Asrama Putri (AStri) yang sekarang berada di belakang auditorium gedung K (dekat hutan STT). Astri saat ini terlihat mewah, besar dan rapi. Nah, untuk kasus ini saya menyesal kenapa saya tidak tinggal di Astri pada tahun 2008 saja, hehehe..

Di belakang tempat parkir kendaraan roda 4 milik mahasiswa, terlihat aktifitas beberapa orang pekerja bangunan sibuk bekerja. Gosipnya, di lahan tersebut akan dibangun Gedung Learning Center IT Telkom. Dan ternyata gosip itu bukan hanya sekedar gosip, dalam waktu dekat IT Park akan segera berdiri (berharap semoga dapat berkunjung lagi kemari begitu gedung ini selesai dibangun, aamin..)

Gedung baru lainnya adalah Gedung Politeknik Telkom yang  belum dioperasionalkan penggunaannya. Mengusung motto “Giving and Caring the World”, gedung Poltek ini terlihat megah dan bergaya modern. Sayang, pintu gedung belum dibuka untuk umum. Dampak negatif dari pembangunan gedung-gedung baru ini adalah lingkungan yang semakin gersang dan panas. Jumlah sawah dan tetumbuhan hijau yang berkurang tidak diimbangi dengan penanaman kembali pepohonan di tepi jalan. Oya, bukan hanya sawah dan hutan saja yang berubah fungsi, tetapi juga empang yang sekarang ditimbun dengan tanah untuk pembangunan jalan dan kos – kosan baru.

Humm.. Tour-Keliling-Kampus diakhiri dengan makan siang di Kantin Hegar depan Gg. PGA. Makanan disana masih enak, murah dan bersih. Sepanjang perjalanan tadi hingga  kembali naik The-Green-Angkot, obrolan dengan sang Guide tidak pernah berhenti. Banyak informasi yang saya dapatkan dari Julfiza. Thanks lot Ijul, telah meluangkan waktunya dan dengan sabar menemani kakak yang kurang kerjaan ini, heheheu.. ITT, i’ll comin back a few years later..will never forget all of the things..!!

Desember 1, 2008 - Ditulis oleh pipiew | Hari-Hari | , , , | & Komentar

& Komentar »

  1. wah… pegi dak ngajak2 hehehe

    ========================
    hehe..kalo ngajak2 nti susah pula.. :p

    Komentar oleh Bangfad | Desember 9, 2008 | Balas

  2. ga main-main ni si mbak ;(
    btw, astri 2008 mah mahal mbak
    waktu astri masi d ged F itu murah :D

    ============================
    huwa..pengen main2..!! ;p
    eh, jadi sabaraha tiap bulannya? tp masih jauh lebih murah daripada kosan di luar kan?

    Komentar oleh asri | Desember 9, 2008 | Balas

  3. Wah….. sekarang STT udah jauh lebih bagus ya?? Saya udah berapa belas tahun nggak pernah main ke STT Telkom. Jangankan mengunjungi STT Telkom wong mengunjungi UNPAD, ex-almamaterku aja relatif jarang, padahal sebenarnya tempat tinggalku relatif dekat dengan UNPAD. Keterlaluan ya?? Huehehe…. :D

    Sering2 main ke Bandung dong mbak, minimal kalau abis pesta blogger tiap tahun, dilanjutkan dengan main2 ke Bandung, kan sambil menyelam minum air….. :mrgreen:

    =====================================
    heheu..yg paling penting bukan frekuensi kunjungannya pak, tp bagaimana alamamater tetap menginspirasi kehidupan kita sampai saat ini :)

    humm..pengennya sih begitu pak..tiap taun ke Bandung, huwaaa… semoga masih ada waktu dan kesempatan, blogging trip Jkt – Bdg :d *tp saya ga mau minum air sambil menyelam pak, sakiit :p*

    Komentar oleh Yari NK | Desember 9, 2008 | Balas

  4. wah, kampusnya luas ya piew..dibandingkan kampus aku dulu, STMIK..huehuehuehuehue

    trus, oleh2nya mana Piew? :D

    Komentar oleh nie | Desember 10, 2008 | Balas

  5. udah lama ga lewat pasar kordon. btw jalan sekitar kampus masih becek klo ujan?

    Komentar oleh soerdjak | Desember 17, 2008 | Balas

  6. Assalamu’alaykum kakakq cayang :-D

    duh kayaknye seneng bener ye nostalgia di almamater kok dewi belum segitunye ye??mungkin karena masih di jogja kali ye…tapi klo inget temen2 yang dah pada ngacir dari jogja juga kangen buanget mengingat perjuangan bersama-sama..hiks..hiks..

    ehm..ternyata ITTTelkom julukannye kampus biru juga ye??kok sama ma UGM hehehe…cuma sejarahnye pasti beda…

    Komentar oleh dewi | Februari 6, 2009 | Balas

  7. ditambahin mbak..
    sekarang juga dah ada alfamart di bekas danau yang dulunya suka meluap dan mengeluarkan aroma tak sedap di saat2 tertentu ..hahaha

    tapi oh tapi, yang menjadi isu utama di ITT saat ini tu adalah menggilanya harga kosan sekitar kampus, sukabiru,pga, bahkan sukapura. kosan yang awalnya 2 juta bisa menjadi 4.5 juta. 3 juta menjadi 6 juta dan banyak lagi. saat ini kalo tidak salah kosan termahal dipegang oleh gentahouse dengan harga promo 10,5 juta yang berlokasi di bekas danau bauk tadi.

    mungkin saat ini masyarakat sekitar kampus yang mempunyai kosan dah mulai hilang hati nuraninya. dan saya juga heran dengan para investor “tak menenggang” yang sesukanya masang harga kosan. anehnya, kuq ITT gak sekalian bangun asrama putra waktu bangun asrama putri. karena memang gak dapat dipungkuri naiknya harga kosan karena memang mereka berfikir secara logis, “mau masang harga yang tinggi pun pasti ada yg mau kuq. toh mahasiswa2 ini mau tinggal dimana kalo gak ngekost,buahahaha” << nurani tlah hilang.

    oya, saya angkatan 2006, mulai naikx harga kosan kata senior2 sejak tahun 2006 ini. mungkin sebut saja nama kosannya garlong, yang saat itu pertama kali masang harga 6 ntah 7 juta. padahal kosan yg sebut saja Rf355, yang mempunyai ukuran kamar lebih luas masih di kisar harga 3-4 jutaan, jadinya karna mikir "kosan saya lebih luas dan gak kalah di segi kualitas bisa menaikan harga juga dunk?" maka naiklah semua harga kosan secara significan tak terelakan. saya benci banget ma semua pemilik kost tipe ni!

    kalo mau sih para alumni ITT gabung trz bangun sebuah apartment yang bisa nampung 500-1000 orang dengan harga sewa murah. dan ITT secepatnya bangun asrama putra. kalo gak para pemilik kosan akan semakin mudahnya menaikan harga seenak perut. belum lagi kalo ntar IMT+nhai pindah ke kawasan ini. cuih! 7 juta untuk kamar 3×3 bukan h0ax lagi

    hmm, maaf mbak kalo nyampein uneg2 nya di sini, mgkn bkan tmpat yg terlalu tepat, tp stdaknya senior2 kita pada tau.

    ni link 4000 mhs itt tolak kenaikan harga kosan :
    http://www.facebook.com/group.php?gid=188471192808&ref=nf#/group.php?gid=188471192808

    tapi cuma gabung di grup tsb percuma tanpa tindakan nyata :(

    Komentar oleh willy | Desember 3, 2009 | Balas

    • dear willy,
      hm..miris rasanya ngebaca situasi skrg, tp jujur memang saat ini kalau saya pribadi blm bisa membantu banyak hal selain dukungan. walaupun, kalau saya kuliah s1 di jaman sekarang mungkin bakal berpikir 10 kali buat kuliah di itt, meskipun dengan anggapan lulus tes masuk, habis bingung mo tinggal dimana, hehe.. masih inget, kos terakhir di palasari dulu 1,5jt setaun, itu pun udah kerasa bonyok jdnya pindah lg ke asrama daerah.

      Kalau dibiarkan begini, seleksi mhs bner2 jd lebih bergantung pada tebalnya isi dompet kali ya? belum lg kalau harga makanan naik, hm..moga2 engga..kantin pga masih murah ga?? :p

      well, aspirasinya insyaAllah akan saya teruskan ke temen2 dosen ITT, mungkin bisa berlanjut sampai ke Ketua ITT untuk juga mempertimbangkan kebutuhan tempat tinggal mhs/i-nya.

      btw, Thx ya de’, udah besedia berkunjung, cerita & beri info ke alumni. Semoga sukses! salam utk ITT tercinta.. :)

      Komentar oleh pipiew | Desember 6, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar