Alusiau
Maragam – ragam do anggo sita – sita dihita manisia
Marasing – asing do anggo pangidoan diganup – ganup jolma
Hamoraon hagabeon hasangapon ido di lului na deba
Sita – sita di au tung asing do tahe
Anggo di au tung asing do sita – sita
Asing pangidoanku
Mansai ambal pe unang pola mangisa, hamu tahe di au
Sasude na nahugoari i da dai saut di au
Sita – sita di au tung asing situtu do tahe
[Reff:]
Tung holong ni roham sambing do na huparsita – sita
Tung denggan ni basam, nahupaima – ima
Asi ni roham ma ito, unang loas au maila
Beha roham, dok ma hatam, Alusi au…
Alu… si… au…
Alu… si… au…
Di baheni alu… si… au
Alu… alusia, alusiau
Masih dalam acara pernikahan. Seperti biasa, minggu lalu kebagian jatah ojekan malam menemani ibu ke acara resepsi pernikahan sanak dari rekan sesama pengajar. Mempelai prianya kebetulan berasal dari daerah Tapanuli, sedangkan si wanita adalah keturunan Tionghoa. Hiburan dari dua biduan berbeda latar belakang menambah nikmat menu ayam saus madu + nugget daging ikan.
Tiba saatnya biduan dari Tapanuli memamerkan suaranya yang merdu. Tak disangka tak diduga, beliau menyanyikan lagu bertajuk “Alusiau”, yang liriknya telah saya paste-kan diatas. That is my favourite song! meskipun hanya hafal dua baris kalimat pada bait pertamanya. Otomatis, kedua kaki dan kepala ikut bergoyang-goyang mengikuti irama lagu, sesekali ikut melantunkan liriknya dari mulut yang penuh berisi makanan, tentu saja dengan volume yang cukup didengar oleh telinga sendiri.
Lagu – lagu Batak banyak saya kenal ketika SMA, termasuk Alusiau. Awalnya karena sering mendengar group vokal – akustik senior berlatih membawakan lagu ini. Dengan aransemen yang asik (garapan Pak Imam, guru kesenian di masa itu) serta soul semangat yang ditransfer dari setiap petikan gitarnya, seketika membuat saya jatuh hati pada lagu ini, meskipun sama sekali tidak mengerti arti liriknya. Sepulang dari sekolah, di sela-sela jam rehat, terkadang teman se-graha yang berdarah Batak dengan senang hati mengajari pelafalan lirik lagu Alusiau, alhasil dapatlah saya menghafal dua baris kalimat awalnya, hehe..
Di kelas ansamble ketika SMA dulu, guru kesenian kami memang lebih sering mengaransemen lagu – lagu daerah dan lagu legendaris, seperti Besame Mucho dan My Way. Bermain musik dalam satu grup ansamble terasa mengasyikkan, apalagi ketika si pemain berhasil menikmati alunan setiap nada yang dimainkan. Perbendaharaan jenis lagu pun semakin bertambah. Irama harmonis membuat setiap lagu biasa berubah menjadi istimewa.
Artha, seorang teman kos sewaktu kuliah dulu, yang berasal dari Batak, sampai terheran – heran ketika di saat iseng saya menyanyikan beberapa lagu Batak, termasuk Alusiau dan Sinanggar Tulo. “Lho, mbak fi kok tau??” demikian setiap kali saya menyenandungkan lagu Tapanuli yang berbeda-beda. Sedari kecil, bahkan sebelum masuk sekolah dasar, Bapak sering mengajari lagu-lagu daerah, misalnya Ampar Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan dan Apuse dari Papua. Meski waktu itu pelafalan setiap liriknya banyak yang salah, hehe.. Bahkan dulu, lagu Ampar Ampar Pisang dijadikan themesong permainan Lipat Kaki. Aturannya, setiap kali lagu selesai dinyanyikan, maka kaki yang terakhir ditunjuk harus dilipat, demikian hingga tersisa satu kaki, dan orang tersebutlah yang dinyatakan kalah, hehe..ada-ada saja yah.
Pernahkah anda mencoba menikmati alunan setiap lagu daerah? daerah manapun. Saya selalu terkesan setiap kali mendengar lagu daerah yang masing-masing mempunyai keunikan melodi sendiri-sendiri. Coba dengarkan lagu-lagu daerah yang telah diaransemen ulang dan dibawakan oleh Elfa’s Secioria, wajar rasanya kalau Indonesia berhasil meraih kemenangan di beberapa turnamen International : Worlds Choir Games.
Saya tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat, tetapi lagu daerah yang saya kuasai tidak hanya Cik Cik Periuk dan Sungai Kapuas. Saya sangat menyukai lagu Pak Tong Tong dan Kambanglah Bungo dari Sumatera Barat. Saya berdarah Jawa, murni dari kedua orangtua, tetapi lagu yang saya senangi bukan hanya Yen Ing Tawang, Ilir-Ilir atau Gambang Suling. Saya selalu terhenti sejenak ketika lagu Anging Mamiri berhembus di telinga. Saya senang lagu Bungo Jeumpa, Paris Berantai, Cing Cangkeling, Injit-Injit Semut, Sipatokahan, Soleram, dan Tutu Koda, namun saya masih lebih menyenangi Indonesia Pusaka dan Tanah Airku.
“Semoga Nasionalisme Kedaerahan tidak menjadi penghambat Nasionalisme Kebangsaan.“
Idul Adha & Pernikahan
Bagi kaum muslimin, Hari Raya Idul Adha bukan hanya identik dengan kesibukan beribadah Haji dan Qurban. Bukan hanya Masjidil Haram dan Padang Arafah saja yang dibanjiri ratusan ribu jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya hewan-hewan kurban saja yang ikut meramaikan mesjid hingga tanggal 10 Djulhijjah. Tetapi juga gedung-gedung dan aula pertemuan yang habis diboking para calon pasangan pengantin, untuk menunaikan ibadah pernikahan.
Dipercaya sebagai bulan baik, pasca Idul Adha kebanyakan dipilih sebagai moment terbaik penyelenggaraan pernikahan. Tentu saja dilengkapi dengan segala harapan agar para pasangan pengantin dapat mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warrohmah, aamin.
“Tidaklah ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidaklah jihad lebih utama (dari beramal di hari-hari tersebut), kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya (karena mati syahid).” (HR. Al-Bukhari)
Ada yang istimewa pada pernikahan ba’da Idul Adha tahun ini. Salah satu blogger Pontianak menyelenggarakan pernikahannya pada tanggal 10 Desember kemarin. Beliau adalah kakak angkat saya, Nurita Putranti aka eNPe aka Bu Guru aka Cekgu, atau mbak Itha, yang dipersunting oleh Abdullah Imam.
Alhamdulillah, saya berhasil menyempatkan diri menghadiri akad nikah yang dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Menyaksikan prosesi pernikahan selalu membuat saya merinding dan terharu, apalagi pada sesi sungkeman setelah ijab qabul dilakukan. Dua kalimat panjang itu menandakan awal hidup baru bagi kedua keturunan adam & hawa tersebut.

Sebelum pulang, ibu mempelai wanita menyisipkan sebuah pernik berisi daun sirih, “dimakan ya..biar cepet ketularan..” demikian pesan ibu. Saya tersenyum, sambil meng-aamin-kan di dalam hati.
Tiga hari setelah akad nikah dilangsungkan, resepsi pernikahan diselenggarakan di Gedung Islamic Center Masjid Mujahidin Pontianak. Seperti tidak pernah surut, tamu-tamu terus berdatangan memenuhi seisi gedung. Para Blogger sekaligus Plurker Pontianak yang diundang pun berbondong – bondong memberikan selamat kepada kedua mempelai.
reunian di tengah pernikahan
kiri ke kanan : Ibu saya, Mbak Uut, Heni, Cangak, Kak Yunita, Fadlie, Rofiq, Fie, Anggareni, Roy Ghofur, Rizko, M. Riza, Ratno, Dian Prawira
fotographer : Ra
PNS juga Lembur?
Seminggu yang lalu, beberapa hari setelah pulang dari perjalanan ke luar kota, tiba-tiba bos memerintahkan segera mencari pinjaman notebook untuk menginput data Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2009. Perintah yang mendadak, serta daftar inventaris barang yang lebih banyak membingungkan membuat saya memutuskan untuk mengikutsertakan Cassie saja, hitung-hitung supaya dia bergaul dengan sebangsanya di luar rumah sesekali.
Dengan berbekal data terakhir RKA manual berformat excel, saya dan mbak Dety menuju aula Dinas Pertanian, tempat penginputan data. Tiba di lokasi, saya sempat takjub melihat situasi di dalam aula. Lebih dari 100 orang berseragam hansip tengah serius bekerja di depan notebook masing – masing. Sulit mendapatkan kursi yang masih kosong berikut kabel UTP-nya, seorang panitia membantu kami mencarikan tempat.
Tiba – tiba seseorang lain memanggil saya, “oi Pi, ngapain kau kesini?” tanya si Timul. Saya dan si Timul atau Bubul ini memang sudah terbiasa akrab, sehingga tidak ada istilah kasar lagi pada apapun kalimat yang kami gunakan. Di sisi lain, salah seorang teman Prajabatan juga menyapa, “Lho, fi, kok baru datang?”, sebegitu surprise-nya mbak Novi mempertanyakan kedatangan saya yang sangat terlambat itu. Kegiatan ini memang telah dimulai sejak tiga hari sebelumnya. Di meja berikutnya, bang Sugeng bertanya-tanya ingin tahu “Belum nginput sama sekali??”, saya mengangguk.
Keheranan saya terhadap terkejutan teman – teman saya tersebut baru terjawab ketika saya mulai menggunakan aplikasi SIPKD. Semula saya berpikir it can be so easy when i have the xls files, but i was wrong! copy-paste? lupakan saja! atau, mencoba menggunakan fasilitas export impor? uh, ternyata hanya berlaku untuk file sql. Dan proses penginputannya pun tidak lebih sebentar daripada membuat file manual, beuh!
Stress seketika itu perlahan – lahan mengendur mengingat kegiatan masih akan berlangsung seminggu lagi, full-time, pagi hingga malam. Lagipula system ini justru akan memudahkan proses pembuatan anggaran selanjutnya, yaitu Dokumen Pelaksanaan Anggaran di awal tahun nanti, tanpa khawatir ada kesalahan manual yang sering terjadi. Dan saya berharap aplikasi ini juga mensupport pembuatan laporan SP2D dan realisasi anggaran sepanjang tahun berjalan, sehingga laporan penggunaan dapat berjalan secara real-time, serta meminimalisir kesalahan manual. Baca selebihnya »
Kampus Biru yang Berwajah Baru
Ketika rasa rindu yang terpendam dan hampir membuncah dalam kurun waktu setahun terakhir terobati, ada rasa puas dalam batin meski harus mengorbankan sedikit waktu dan tenaga. Tak apalah, yang penting rinduku terobati..
Rasa lelah atas perjalanan 3 jam Jakarta – Bandung semalam mendadak sirna tersapu mentari pagi yang dengan semangatnya menyinari hijau pudarnya dinding Kidang no.4. Hari ini adalah jadwal mengunjungi almamater tercinta. Sms-sms singkat segera dilancarkan kepada para penghuni ITT, untunglah seorang adik kelas bersedia meluangkan waktunya untuk berperan sebagai guide. Setelah mandi dan berpakaian dengan baju bersih yang tersisa, maka tour-keliling-kampus siap dimulai!
Perlu menumpang 2 jenis angkot untuk sampai ke Jl.Bojongsoang. The blue-angkot jurusan Kalapa – Buah Batu sudah menunggu manis di muka jl. Lembu, seakan tahu wanita yang sedang berjalan ini akan menuju Terusan Buah Batu Bandung. Untuk ukuran perantau, angkot adalah sarana utama bepergian, rasanya hari-hari tidak pernah absen menumpang angkutan kota. Jauh berbeda dengan kondisi di kota sendiri, kalau tidak ada motor pribadi rasanya malas kemana-mana (jangan pernah menawarkan oplet* ketika saya berada di Pontianak, heheheu).
Horison, Kartika Sari, Shafira, Griya Buah Batu, STSI Bandung terlewati satu persatu. Tidak banyak yang berubah, seakan memutar kembali memoar aktivitas rutin 3 tahun yang lalu. Dulu saya sering mengeluh, apalagi ketika terjebak macet, namun sekarang keluhan itu menjadi kenangan yang mengusik rindu.
Baca selebihnya »








