Mukena Putih
ITC Mangga Dua tidak pernah sepi pengunjung, ibu-ibu dan para wanita dewasa tak berhenti berlalu lalang, masing-masing dengan menjinjing paling sedikit satu kantong plastik berlabelkan nama salah satu toko sandang atau perhiasan. Membelikan pakaian anak atau suami, namun lebih sering memenuhi keinginan pribadi adalah tujuan utama berbelanja disini, apalagi dengan harga-harga yang jauh lebih murah daripada outlet-outlet bermerk dagang mahal atau departemen store lainnya. Meskipun tetap kalah dari segi kualitas, namun cukuplah menjadi penghibur untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah, kawasannya pun terbilang mudah dijangkau dari arah penjuru mata angin manapun.
Setiap hari aku berdiri disini, menyaksikan kesibukan tuanku melayani pembeli dan aku ditugaskan untuk tampil secantik mungkin untuk menarik perhatian mereka. Meski seringkali merasa tercampakkan, namun aku yakin bahwa tuanku sangat sayang padaku, buktinya setiap kali ada yang datang menghampiri, beliau selalu berbicara mengenai kelebihanku, tidak pernah menyebutkan satu pun kekuranganku, walaupun kebanyakan calon pembeli beralih padaku setelah kecewa terhadap harga tinggi para “nyonya”. Ya, siapa sih yang tidak iri kalau setiap hari para “nyonya” yang menempati kedudukan tertinggi di jajaran pakaian paling suci ini diagung-agungkan sepanjang waktu, diperlakukan dengan sangat lembut, digantungkan dengan hati-hati dan tidak semua pengunjung diijinkan menyentuh katun halus berhias bordir penuh bunga, sungguh menawan.
Terkadang aku bosan, sebagai hiburan aku paling senang memperhatikan para pembeli yang mengunjungi toko-toko tetangga. Kuperhatikan tingkah laku mereka, dandanan, padu padan pakaiannya sampai high heels yang sedang dipakainya. Kadang-kadang, kalau pikiran isengku kambuh, aku acapkali membayangkan keinginan untuk merentangkan sayapku selebar mungkin melapisi bahu-bahu putih yang bertelanjang atau betis-betis mungil berkilat sawo. aargh, sayang jikalau kulit-kulit cantik itu menjadi pudar keasliannya, menjadi murah dipandang mata.
“Yang harganya murah juga ada ini, bahannya juga tidak panas dan ada sedikit bordiran di pinggir-pinggirnya”, lamunanku buyar, tuanku menarikku paksa, dipersilakannya si calon pembeli menjamahku, untuk merasakan susunan benangku yang tidak terlalu jelek.
“Kalau yang ini berapa bang?” tanya calon pembeliku, terlihat mulai tertarik.
“Murah aja bu, cuma lima puluh ribuan” jawab tuanku dengan sunggingan senyum tipis melepas kepergianku.
Aku bahagia, akhirnya terlepas dari sebulan kebosanan menanti peranku yang sesungguhnya. Terlepas dari udara pusat perbelanjaan yang pengap, bebas melihat dunia luar membuatku merasa senang. Namun, alasan yang lebih tepat menggambarkan kebahagiaanku adalah bahwa aku akan segera menunaikan tugas penting keagamaan, menemani pemilikku menghadap Sang Pencipta Langit dan Bumi, Sang Pencipta Manusia. Aku selalu kagum dengan sosok manusia, yang diciptakan demikian sempurna sehingga untuk berbuat kebaikan tidak harus menunggu sesuatu yang lain untuk menggerakkannya, mandiri, Subhanallah.. betapa mulianya seorang manusia, aku sendiri diciptakan oleh manusia.
Perjalananku begitu menyenangkan, di sepanjang jalan aku didekap oleh pemilik baruku, tak terbayang bagaimana khusyuknya nanti ketika kami menghadap Sang Khalik. Aku akan setia menemaninya, lima kali sehari fardhu ‘ain. Aku berharap ditambah lagi dua rakaat sholat Dhuha, untuk menambah keakraban kami sekaligus mendekatkan pemilikku kepada Ya Rabb. Aku bersedia menjadi penghapus air matanya ketika bersujud penuh syukur di sepertiga malam terakhir. aah, aku tak sabar…
Sesampainya di rumah, aku bersama teman-teman asing dari toko lain dihamparkan di ruang keluarga, aksi pamer hasil belanjaan pun segera dilakukan. Aku bersiap untuk mempercantik si pemilik. Oups, ternyata bukan aku yang pertama, si tanktop menjadi pilihan favoritnya, ooh barangkali hanya untuk dipakai di rumah saja. Uhm, aku harus kembali bersiap, mungkin akan menjadi yang kedua. Eiit, tangan pemilik terjulur ke sebuah celana kecil, apa si pemilik juga berbelanja pakaian dalam ya?
Hm..Bukan ketiga, keempat dan kelima, namun aku masih sabar menunggu giliran, tak apalah menjadi yang terakhir tapi menjadi yang paling indah dan paling anggun. Aku yakin.
Iyyap, sekarang giliranku, eng ing eng… tapi, eh mo dibawa kemana.. aku kan belum show up.. tunggu – tunggu.. dicobain bentar deh, pasti bakal jadi yang paling cantik, menutupi aurat.. a.. blamm.. aku terkunci di lemari.
9 bulan kemudian..
Akhirnya, aku akan dipakai! pasti untuk menemui Kekasihnya yang tak pernah tak sayang. Tak apalah menunggu lama, Allah saja selalu menerima umatnya yang bertaubat. Tapi, aku malu..terkurung dalam waktu yang cukup lama membuatku..berjamur..hiek..









Wuihhhhh, jadi malu… 4 kali berganti mukena dari kecil hingga besar belum pernah Angga beli mukena. Yang kecil baru, dijahit sendiri oleh Mamak. Asik kannn…
Yang kedua dan ketiga warisan dari Mamak aka bekas, masih bagus sampe sekarang kecuali renda dan mulai bertahi lalat karena Angga malas nyuci
dan yang terakhir dikirim dari Tasikmalaya, wahahahahaha…. Capek deh, punya gaji beli mukena jak kedekot kate upin
=======================
Ahay, ndak apelah mbak, ndak perlu baru kan, daripada baru tapi jarang dipake’ :p
waaa…seruuu nih….ternyata pinternya nulis fiksi…lanjut lagi fi
#angga
kedekot sangat lahh….
=====================
he..skali2 agak ngefiksi dikiit, daripada curhat mulu
betol betol
angga kedekotnye tak elok lah
=================
eh, ade radjoo..
ini cerita soal mukena yaa
==============
iya pak, hehe..
waaaakz…. dikirain cerita tentang manekin (boneka etalase) eh nggak tahunya cerita tentang mukena-nya. Huehehe…..
==============================
wakakak…ah si bapak, adaa aja, tar deh, di episode selanjutnya cerita tentang manekin, judulnya “Manekin Gaul”, keekeke..
wuuiihhh.. keren ceritanya…
btw, punten nih mbak mau nanya… postingan kali ini inspirasinya dari mana ya mbak…?
Salam semangat…! ^_^
==============================
he..makasiih *jarang ada yang muji* ;p
idenya muncul begitu aja, pas emang lagi pengen banget nulis *fiksi*, trus ngeliat tumpukan mukena yang semakin banyak di bulan Ramadhan ini, dan lebih sering dipake (plus tarawih & sholat malem), trus kepikir “apa yang bisa gw ceritain ttg mukena yah??”, tiba2 cling! dapet ide dasarnya, ya udah langsung ditulis, he…
wah, alangkah bahagianya jadi mukena, haks…. setiap hari bisa menyaksikan aksi para pemiliknya. ke mana pun pergi tak pernah lupa dilap dan dlus-lus jika ad akotoran yang menempel.
========================
iya pak, apalagi nemenin menghadap-Nya, Subhanallah…
Tulisan bergaya prosa dengan sudut pandang orang pertama semacam ini asyik untuk dinikmati. Apalagi menggunakan tokoh utama benda mati.
Akan lebih menarik jika ada kejutan di akhir cerita, baik yang sifat antiklimaks atau klimaks menggantung.
Dan untuk lebih mengejutkan, judulnya tidak mengarah kepada siapa si tokoh.
(Wah, aku ga salah komentar kali, ya!
Emang Mbak bikin cerpen?
Moga benar saja!)
Tabik!
=========================
wah, terimakasih sekali atas sarannya, akan menjadi masukan berarti untuk penulisan selanjutnya..iya, itu cerpen kok (kalo bisa disebut demikian), he..
Dulu mukena hanya sederhana, awal punya mukena dijahit sendiri oleh tangan ibuku tercinta. Sekarang mukena sangat banyak variasinya, dan semuanya tampil cantik. Dan semakin cantik terlihat para pemakainya saat bersiap berdoa dan menyerahkan diri pada sang pencipta.
=======================
wah, pasti senang rasanya punya mukena jahitan tangan ibu sendiri.. Iya, sekarang mukena sudah banyak macamnya bu, Alhamdulillah semakin bagus dan nyaman dipakai, yang penting tidak melanggar kaidah pakaian suci untuk menghadap-Nya.
tulisannya sudah mengalir dengan indah mbak, ditunggu karya yang lainnya ya
Walah walah hebat niat tulisan dan gaya bertuturnya, jarang ngefiksi ngini aja dah hebat, apalagi kalau fasih. Luar biasa. Salam Ramadan.
wah tulisannya keren mbak….
==================
terimakasih..